AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #38

38. Lepasnya Tali Kekang

4 Bulan kemudian...


Duna merapikan isi tas kainnya di atas ranjang rumah sakit. Ranjang besi berseprai putih itu, selama empat bulan terakhir, telah menjadi saksi bisu tempatnya melepas lelah, menangis diam-diam di bawah selimut, dan perlahan-lahan, belajar memungut kembali pecahan jiwanya yang sempat hancur.

Satu per satu barang ia masukkan; beberapa helai pakaian ganti, perlengkapan mandi, dan yang terakhir, sebuah tablet ponsel, buku sketsa usang, serta sekotak pensil warna. Benda-benda terakhir itulah yang setia menemaninya melewati malam-malam sunyi yang penuh dengan gejolak pikiran.

“Lagi beres-beres, ya, Mbak?” sapa sebuah suara dari arah pintu. Suara yang begitu akrab di telinganya, suara yang sama yang selalu menyapa ramah setiap pagi dan menenangkannya setiap kali kecemasan melanda di malam hari.

Duna menoleh, menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Dini, perawat kepala yang sejak hari pertama rawat inap telah menjadi penjaganya, pelindungnya, sekaligus teman curhat paling aman di fasilitas rehabilitasi itu.

“Iya, Mbak,” jawab Duna sembari tersenyum tipis. “Jangan kangen sama aku, ya!” godanya ringan.

Dini tertawa lembut. Ia melangkah mendekat sambil mendekap beberapa lembar dokumen medis di dadanya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Duna menarik resleting tas yang sudah menggembung. “Nggak dong,” sahut Dini. “Kalaupun nanti aku kangen, aku nggak mau ketemu Mbak Duna di rumah sakit lagi. Aku maunya kita ketemu... di acara fansign!”

Duna tertawa geli, merasakan hangat yang mendadak menjalar hingga membuat pipinya memerah. “Apaan sih, Mbak. Kok malah jadi fansign segala?”

“Loh, iya dong!” Andini ikut tertawa, lalu menepuk dadanya sendiri dengan ekspresi bangga yang dibuat-buat. “Aku kan fans nomor satu webtoon Mbak Duna. Nanti kalau Mbak Duna sudah terkenal banget, bisa ketemu fans dan bagi-bagi tanda tangan kayak artis Korea, jangan lupa undang aku, ya!”

Meskipun terdengar seperti gurauan untuk mencairkan suasana, Duna tahu Dini benar-benar tulus. Perawat itu memang selalu menjadi pembaca pertama sekaligus komentator paling setia sejak Duna memberanikan diri mengunggah draf komik buatannya ke platform Webtoon dari dalam kamar rawat. Andini yang diam-diam terus menyuntikkan semangat, bahkan di saat Duna berada di titik terendah dan nyaris menyerah untuk menggambar lagi.

Padahal, awalnya Duna hanya iseng. Saat menjalani sesi terapi bersama psikiater tentang apa yang bisa membuatnya tenang, apa yang disenanginya, dan apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari rumah sakit, Duna akhirnya memutuskan untuk menggali kembali hobi masa kecil yang dulu dikubur dalam-dalam akibat tuntutan ayahnya. Sebagai komikus perintis, tentu tidak mudah mendapatkan pembaca. Namun, meski karyanya hanya dilirik oleh beberapa gelintir orang, Duna sudah merasa sangat puas. Terlebih karena ada Andini yang selalu antusias menunggu kelanjutan bab terbaru, Duna benar-benar menemukan alasan untuk terus melangkah.

“Iya, iya, nanti pasti diundang,” balas Duna, tak kuasa menahan senyum hangatnya. “Tapi sekarang, aku boleh pulang dulu, kan?” candanya sambil menjinjing tas yang terasa berat.

“Oh, tentu boleh. Lagian, ada yang udah nunggu Mbak Duna di depan dari tadi,” ucap Dini sembari membantu menarik gorden pembatas tempat tidur untuk terakhir kalinya.

“Nunggu aku?” Dahi Duna seketika mengernyit. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia tahu persis kondisi fisik ibunya belum pulih benar pascaoperasi, tidak mungkin Dahlia diizinkan bepergian jauh sendirian ke luar kota begini. Terus, siapa?

***

Setelah berpamitan dan bertukar pelukan hangat dengan Andini serta beberapa staf medis yang sempat datang memberikan salam perpisahan, Duna melangkah keluar dari koridor area rawat inap. Dadanya terasa penuh; ada rasa hangat sekaligus gugup yang menggelitik batinnya. Ini adalah kali pertama ia berjalan melewati selasar ini tanpa perlu kembali lagi nanti malam. Biasanya, ia hanya diizinkan keluar sebentar untuk menghirup udara segar di taman, lalu harus kembali ke kamar. Namun hari ini, dia akan melintasi pintu kaca utama untuk terakhir kalinya.

Namun, langkah kaki Duna mendadak berhenti tepat di ambang pintu keluar.

Matanya membelalak. Ia mengerjap cepat, seolah berusaha memastikan bahwa matanya tidak sedang mengirimkan delusi visual yang keliru. Di sana, di dekat pilar teras, berdiri seorang pria berpostur tegap dan berpakaian rapi. Pria itu memakai kacamata hitam, aksesori wajib yang selalu dikenakannya setiap kali berada di luar ruangan. Duna menggelengkan kepalanya sedikit. Dari semua orang yang ia perkirakan akan menjemputnya, mengapa sosok ini yang justru berdiri di sana?

Pria itu, Bahrain, sang ayah, mulai melangkah mendekat. Postur tubuhnya yang menjulang dan caranya berjalan sama sekali tidak berubah. Duna yakin penglihatannya tidak salah. Tak peduli berapa bulan mereka tidak saling tatap, ia tidak akan pernah keliru mengenali ayah kandungnya sendiri.

“Papa?” ucap Duna ragu. Suaranya nyaris menyerupai bisikan angin, masih diliputi rasa tidak percaya yang pekat bahkan ketika Bahrain kini sudah mengikis jarak dan berdiri tepat di hadapannya.

Tanpa banyak bicara atau basa-basi menanyakan kabar, Bahrain mengulurkan tangan, meraih tas jinjing yang menggantung lemah di jemari putrinya. “Ayo pulang. Mama kamu udah kangen,” katanya. Suara Bahrain terdengar tenang namun berat, seperti ada ribuan beban yang sengaja ia kunci rapat di balik tenggorokannya.

Duna sempat terpaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah mengikuti punggung ayahnya dari belakang dengan sisa keraguan. Mereka menuruni anak tangga semen, menyusuri area lobi luar yang kini terasa terlalu terang oleh sengatan bayang-bayang matahari, lalu berjalan menuju area halaman parkir yang panas dan lengang.

Tepat di depan mobil yang catnya mengkilap di bawah terik siang, Bahrain mendadak menghentikan langkahnya. Pria itu terdiam memunggungi Duna cukup lama.

Duna berdiri gelisah di belakangnya, jemarinya bertautan erat sembari menimbang-nimbang; haruskah ia yang membuka suara terlebih dahulu, atau tetap menunggu dalam keheningan yang kaku ini?

Namun, tepat sebelum Duna memutuskan untuk memanggil, Bahrain memutar tubuhnya. Tatapan matanya masih tersembunyi di balik lensa kacamata hitam. Ia menarik napas pendek, lalu berkata dengan volume pelan, “Maaf.”

Kening Duna berkerut dalam, bibirnya terbuka sedikit namun tidak ada kata yang keluar. Kalimat itu terdengar begitu asing di telinganya. Saking asingnya, Duna sempat mengira batinnya sedang berhalusinasi. Mana mungkin seorang Bahrain, sosok pria otoriter yang paling anti mengakui kesalahan seumur hidupnya, sosok yang selalu memaksakan kehendak meski seluruh isi dunia meneriakinya keliru, bisa meloloskan kata maaf dari bibirnya sendiri?

Namun kemudian, sang ayah mengangkat tangan, melepas kacamata hitamnya. Tindakan itu untuk pertama kalinya memperlihatkan sepasang matanya yang jujur, lelah, dan dipenuhi penyesalan mendalam, langsung menghujam lurus ke dalam mata Duna.

“Maaf… karena kelakuan Papa selama ini, kamu dan Mama harus menderita sampai kayak gini...”

Lihat selengkapnya