AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #39

39. Menggenggam Mentari

Begitu melewati pagar rumah, pandangan Tami dan Tria langsung tertuju pada pintu depan yang terbuka lebar, seolah mengundang mereka masuk dan menyambut kedatangan mereka dengan ramah.

Tanpa perlu komando kata-kata, keduanya serempak mempercepat langkah kaki. Mereka menyeberangi halaman depan yang teduh di bawah naungan pohon mangga tua, lalu menaiki anak tangga teras dengan degup jantung yang tiba-tiba saja berdetak jauh lebih cepat karena didera perasaan yang campur aduk. Tepat di ambang pintu, keduanya berhenti, menahan napas sejenak demi menanti sebuah kepastian.

Di dalam, Duna sedang berdiri mematung di tengah ruang tamu. Jemarinya baru saja menyentuh gagang koper yang hendak ia geser dari posisinya. Namun, begitu menangkap siluet dua sosok yang kini berdiri di ambang pintu, tubuh Duna seolah membeku seketika. Seluruh gerakannya terjeda di udara.

Matanya membulat sempurna. Jemarinya menggantung kaku di atas permukaan koper, “Kak Tria?” ucap Duna pelan, suaranya nyaris habis tak terdengar.

Tria tidak menunggu sedetik pun untuk merespons. Pria itu langsung melesat maju, mengikis jarak, dan merengkuh tubuh Duna ke dalam sebuah pelukan hangat yang dipenuhi luapan rindu yang teramat membuncah.

Ia tidak peduli lagi pada siapapun yang sedang menyaksikan tindakan spontannya, ia terus mendekap tubuh Duna erat-erat, seolah enggan melepaskan wanita itu barang sekejap mata. Satu, dua, tiga kecupan hangat mendarat bertubi-tubi di pipi Duna tanpa jeda, seakan-akan ingin menghapus seluruh jejak waktu empat bulan yang sempat memisahkan raga mereka.

Di belakang punggung Tria, Tami sudah mengkeret menahan malu yang luar biasa.

Ia spontan menutup wajah dengan sebelah tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala penuh rasa pasrah atas kelakuan tak tahu tempat dari kakaknya. Begitu telapak tangannya turun, Tami melirik canggung ke arah kedua orang tua Duna yang duduk terpaku di sofa ruang tamu. Bahrain dan Dahlia menyaksikan adegan penuh kemesraan itu dengan ekspresi perpaduan antara terkejut, bingung, dan geli yang bercampur menjadi satu. Tami hanya bisa memberikan anggukan canggung ke arah mereka, sebuah isyarat permintaan maaf diam-diam atas kelakuan kakaknya yang sedang kelewat dibutakan oleh cinta.

Sementara itu, Duna tertawa kecil di dalam kungkungan pelukan Tria. Ia balas melingkarkan lengannya di punggung suaminya, namun dengan gestur yang jauh lebih tenang dan terukur.

Kedalaman rindunya sama besar, tetapi Duna memilih untuk menikmati momen pertemuan ini dengan ritme yang lebih hangat, bukan membara dan menggebu-gebu seperti yang Tria tunjukkan. Matanya tidak sengaja beradu dengan Tami, Duna mengedipkan sebelah matanya singkat, sebuah sapaan akrab tanpa kata yang bisa dibaca jelas maknanya; ia sedang meminta bantuan sang adik ipar sekaligus sahabatnya itu untuk menyadarkan Tria, sebelum pria itu benar-benar tenggelam terlalu jauh dalam ombak kerinduan yang tengah ditumpahkannya.

Tami mendesah pasrah. Ia akhirnya maju selangkah, menepuk pundak kakaknya pelan sebelum membisikkan sebuah kalimat tajam tepat di telinga Tria, “Jangan malu-maluin, Tria…”

Teguran berbisik itu rupanya cukup ampuh untuk menarik kesadaran Tria turun kembali menapak ke bumi. Euforia dadakan yang sempat membuncah di dadanya perlahan mereda. Pria itu akhirnya sadar betul bahwa sejak tadi, kedua mertuanya sedang menatapnya.

Namun, Tria sama sekali tidak menunjukkan gurat penyesalan atau salah tingkah. Ia hanya menoleh singkat ke arah Bahrain dan Dahlia, lalu mengulas senyum lebar tanpa sedikit pun melepaskan genggaman erat tangannya pada jemari sang istri.

“Maaf ya, Pa, Ma… keburu kangen,” ucap Tria tanpa rasa bersalah atau malu sedikit pun.

Tami kembali menggelengkan kepala. Kali ini ia meloloskan desahan napas yang jauh lebih panjang, merasa malu sendiri melihat kadar kejujuran kakaknya yang kelewat blak-blakan soal perasaan batinnya.

“Nggak apa-apa,” sahut Dahlia sembari tersenyum maklum.

Namun, layaknya seorang pria yang hanya fokus pada Duna dan mendadak melupakan segala hal di sekitarnya, Tria tidak menimpali ucapan sang ibu mertua. Ia juga tidak berusaha mencairkan atmosfer ruang tamu yang sempat kaku akibat tingkah spontannya tadi. Atensinya justru kembali terpaku sepenuhnya pada jemari Duna yang masih memegangi gagang koper pakaian.

“Kamu langsung pulang ke rumah, kan?” tanyanya lirih, dengan nada bicara yang nyaris terdengar seperti rengekan manja. Sudut mata Tria merunduk dan bibirnya agak menekuk, seolah siap untuk memprotes jika mendengar jawaban yang tidak sesuai keinginan.

Melihat ekspresi itu, Duna sempat termenung sesaat. Ia mendadak sadar bahwa sekarang, ia telah memiliki dua tempat berbeda yang sama-sama bisa ia sebut dengan kata "rumah".

Duna tidak langsung memberikan jawaban. Matanya berpindah menatap ke arah ibunya, lalu beralih ke wajah sang ayah.

Karena rencana awal di kepalanya adalah tinggal terlebih dahulu barang satu atau dua malam di rumah orang tuanya untuk melepas rindu, sebelum akhirnya kembali ke rumah tangganya bersama Tria. Namun, melihat raut wajah suaminya yang hanya tinggal sedetik lagi bisa berubah menjadi ekspresi merajuk total, niat awal Duna mendadak terasa tidak tega untuk dijalankan.

“Nggak apa-apa, pulang dulu aja ke suamimu,” ucap Dahlia lembut, memahami betul kebimbangan yang sedang berputar di dalam kepala putrinya. “Kamu kan tetap bisa main kesini kapan aja kamu mau.”

Bahrain ikut menganggukkan kepala tanda setuju dari tempat duduknya. “Iya, pulang ke sana dulu aja, nggak masalah.”

Mendengar restu dari kedua mertuanya, wajah Tria langsung berseri benderang. Ia menyeringai lebar, dan tanpa berpikir dua kali, tangannya dengan sigap mengambil alih kendali koper besar dari genggaman Duna. “Makasih, Ma, Pa. Kita pamit pulang dulu, ya. Nanti dalam waktu dekat kita main lagi kesini,” ujarnya ceria, lalu langsung berbalik langkah menuju pintu depan sembari menyeret koper dengan gerakan bersemangat.

Begitu menyadari bahwa Duna tidak berjalan beriringan di sampingnya, Tria menghentikan langkah di teras lalu menoleh ke belakang. “Ayo, Sayang!”

Tami yang berdiri di ruang tamu spontan meringis konstan. “Iiiih!” serunya dengan nada jijik yang dibuat-buat, sembari menyingkap bibir bawahnya hingga barisan gigi putihnya terlihat jelas.

Setelah itu, ia buru-buru berpamitan dan menyalami kedua orang tua Duna dengan sopan.

Duna hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah dua bersaudara itu. Ia melambaikan tangan hangat kepada ayah dan ibunya, lalu mendekati Tami dan melingkarkan lengannya di lengan sang adik ipar. Keduanya berjalan berdampingan keluar dari rumah, menyusul langkah Tria yang tampak masih berjuang menurunkan koper melewati anak tangga teras dengan semangat yang kelewat berlebihan.

“Lu apain sih, Dun, kakak gue sampai bisa kayak gitu?” goda Tami di sepanjang langkah mereka. “Gue sampai geli sendiri ngeliatnya dari tadi. Lu nggak jijik apa?”

Lihat selengkapnya