Duna menunduk di sudut sofa, jemarinya sibuk mengupas jeruk.
Samar-samar, aroma getir-segar dari minyak kulit jeruk yang pecah mulai memenuhi ruang tamu yang sunyi. Ia mengupas buah itu dengan ketelitian yang dibuat-buat, sengaja mengalihkan seluruh fokus demi menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berantakan.
Di sampingnya, Tria duduk menyamping. Satu kakinya terlipat santai di atas sofa, sementara kepalanya bertumpu pada lengan yang bersandar di sandaran sofa. Matanya sama sekali tidak lepas dari wajah Duna. Tatapannya begitu lurus, intens, dan nyaris tanpa kedip. Seolah-olah jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, sosok di depannya itu akan menguap lagi seperti beberapa bulan lalu.
Sadar sedang diawasi sedekat itu, gerakan tangan Duna akhirnya terhenti. Ia menoleh lambat-lambat, memamerkan senyum tipis yang dipaksakan senormal mungkin. “Kenapa?” tanyanya.
“Jangan pura-pura nggak tau,” sahut Tria cepat. Suaranya rendah, kedengaran seperti tuduhan manja yang langsung tepat sasaran. Tria selalu tahu celah di balik topeng tenang Duna.
Sofa berbahan kain itu bergeser sedikit saat Tria menggeser tubuhnya, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan. “Kamu tahu enggak?” ia memajukan wajahnya, berbisik tepat di samping telinga Duna. “Kamu cantik banget hari ini.”
Seketika hangat menjalar ke pipi Duna. Ia buru-buru menunduk lagi, mendadak menganggap serat-serat putih di buah jeruknya jauh lebih menarik ketimbang tatapan maut suaminya. Setelah empat bulan tak bertemu, rentetan rayuan langsung Tria seperti ini mendadak terasa asing dan berhasil membuatnya kewalahan. Padahal sebelumnya ia sudah mulai terbiasa, sekarang ia merasa tak sanggup menangani degup jantungnya sendiri.
Melihat semburat merah yang terbit di wajah istrinya, Tria langsung memangkas jarak. Dadanya menempel rapat pada bahu Duna. Lengan kirinya meluncur mulus ke pinggang, menarik tubuh Duna mendekat, sementara telapak tangan kanannya yang hangat mendarat di pipi kiri Duna, menekannya lembut mendekat ke arahnya.
Tanpa aba-aba, Tria mendaratkan kecupan di pipi kanan Duna. Sekali, dua kali, lalu tiga kali. Kecupan-kecupan pendek yang terasa lembab dan hangat, menuntaskan dahaga rindu yang tertahan lama.
Duna meringis, bahunya bergidik geli menahan tawa yang meledak halus. “Kak Triaaa, geli…” gumamnya setengah berbisik. Ia berusaha menjauhkan wajah, walau tangannya sama sekali tidak mendorong dada Tria.
Tria justru terkekeh puas. Ia mengunci tubuh Duna lebih erat dengan kedua lengan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Duna yang ia rindukan.
“Udah lama banget aku nunggu bisa begini,” bisiknya tertahan.
Merasakan napas Duna yang teratur di pelukannya, melihat binar di matanya, serta lengkungan pipinya yang kini tampak lebih penuh dan sehat, ada sesuatu yang mendadak meluap di dada Tria. Sesak yang menyenangkan.
Empat bulan menahan sepi di rumah ini mendadak menguap tanpa bekas. Semua malam-malam panjang yang melelahkan terasa terbayar lunas hanya dengan mendekap Duna sesehat ini.
Ada masa di mana Tria hampir tak sanggup lagi menahan rindunya. Ada hari-hari di mana ia nyaris menginjak pedal gas dan langsung berkendara ke Lembang tiap weekend, hanya demi mencuri satu jam saja untuk melihat Duna dari kejauhan. Tapi dia tahu, jika ia menuruti keinginannya, ia akan mengkhianati kepercayaan yang Duna berikan.
Jadi ia tahan semuanya. Ia kerja bagai orang gila, menyibukkan diri dengan proyek demi proyek. Pulang larut malam dengan tubuh lelah dan hati kosong. Karena jika ia pulang lebih awal, dan masuk ke rumah yang sunyi, tak ada Duna, tak ada suara atau aroma tubuh yang ia kenal baik, rindunya akan menggerogoti dirinya sampai habis. Ia bisa gila oleh kerinduan itu.
Namun hari ini, setelah melihat sendiri bahwa Duna baik-baik saja, lebih dari sekadar baik, bahkan tampak bercahaya, Tria merasa segala luka dan sabar yang ia pelihara selama empat bulan ini tak sia-sia. Semua perjuangan itu terasa sangat layak. Ia bangga pada dirinya sendiri yang berhasil melewati semua itu dan bisa menyaksikan momen ini.
“Kamu nggak kangen ya sama aku?” tanyanya lirih, dengan nada menggoda yang menyimpan rindu dalam-dalam.
Duna menoleh, menatap langsung ke dalam mata Tria, mata yang tak pernah benar-benar hilang dari benaknya. Bahkan ketika ia terbaring lemah di minggu-minggu pertama perawatannya, bayangan Tria selalu hadir, menolak untuk lenyap dari ingatannya. Mana mungkin ia tak rindu? Kerinduannya bisa menggumpalkan awan dan membuat awan hujan dengan petir menggelegar.
Tapi kini, melihat tatapan penuh kerinduan dari Tria, rasa rindunya seperti hanya tetesan embun pagi. Tak ada apa-apanya dibanding yang Tria punya.
Duna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan tubuhnya sedikit ke bahu sofa, lalu mengecup bibir Tria cepat, lembut namun mantap. Secepat kilat, namun menyisakan gemuruh di dada.
Tria membelalak. Sedetik bibirnya terkatup rapat dengan mata yang bergerak penuh tanda tanya menyusuri tatapan Duna, seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna sentuhan mendadak yang baru saja mampir di bibirnya.
Namun, keterkejutan itu tidak bertahan lama. Lengkungan tipis terbit di sudut bibirnya, melebar menjadi senyuman yang memancarkan binar geli sekaligus genit yang kekanak-kanakan.
“Kamu yang mulai duluan, ya,” bisik Tria, suaranya serak bergetar tepat di depan wajah Duna.
Tanpa menunggu respons, Tria langsung menuntut balas. Kali ini ia tidak memberi jarak. Ibu jari tangannya menangkup rahang Duna, menguncinya dengan kehangatan kokoh, sementara jemari sisanya menyusup ke sela-sela rambut di tengkuk Duna.
Tria memiringkan kepala, mempertemukan kembali bibir mereka dalam pagutan yang jauh lebih dalam. Sentuhan pertama yang semula hati-hati, dengan cepat berubah menjadi hisapan-hisapan lambat yang menuntut.
Duna bisa merasakan permukaan bibir Tria yang hangat dan sedikit basah menekan bibirnya, bergerak berirama menyalurkan desakan rindu yang selama empat bulan ini terkunci rapat.
Duna melenguh pelan saat pasokan udaranya mulai menipis, namun alih-alih menjauh, ia justru melingkarkan kedua lengannya ke leher Tria. Jari-jarinya meremas kerah kaos suaminya, menarik pria itu agar mengikis habis sisa ruang yang memisahkan dada mereka.
Ciuman itu bergerak makin intens. Tria menyesap bibir bawah Duna dengan ritme yang konstan dan sabar, seolah sedang mengecap kembali rasa yang hampir ia lupakan. Aroma maskulin dari parfum Tria yang bercampur kehangatan tubuhnya menguar kuat, mengurung seluruh indra Duna hingga kepalanya pening oleh sensasi yang memabukkan ini. Di bawah sentuhan tangan Tria yang berpindah mengusap garis lehernya, kulit Duna meremang hebat.
Mereka tidak terburu-buru. Setiap lumatan dan sesapan dilakukan dengan lambat, menjadi sebaris pengakuan tanpa suara tentang malam-malam sepi yang melelahkan, tentang detak jantung yang kini saling berkejaran di balik dada yang merapat, dan tentang bagaimana mereka akhirnya kembali pulang.
Tria sedikit membuka belahan bibir Duna lebih lebar dengan lidahnya, memperdalam pagutan hingga napas mereka memburu dan menyatu panas di antara sela-sela ciuman. Kulit mereka bergesekan, menciptakan hawa gerah yang intim di sudut sofa yang sepi itu.
Namun, tepat saat Tria baru saja menggeser kecupannya ke sudut bibir Duna dengan napas yang masih tersengal, sebuah bunyi berkeroncong yang cukup nyaring terdengar dari arah bawah.
Kruuuk.