Pertemuan pertama Tami dan Kavi, terbilang dramatis, bak adegan dalam drama romansa remaja dimana protagonis merasakan cinta pada pandangan pertama.
Hari itu halaman sekolah ramai oleh murid baru dan orang tua yang berlalu-lalang. Matahari masih belum terlalu tinggi, udara pagi bercampur aroma cat gedung dan kertas formulir yang baru dicetak. Tami baru saja keluar dari lobi sekolah sambil membawa map bening di dada ketika seseorang menghampirinya.
“Sorry, ruangan tata usaha sebelah mana?”
Tami menoleh.
Seorang pria tinggi berdiri di depannya dengan hoodie hitam longgar dan tas ransel yang menggantung di satu bahu. Suaranya tidak berat, tidak pula terdengar terlalu maskulin. Nada akhirnya sedikit naik saat bertanya, lembut dan ringan di telinga. Kalau saja tubuhnya tidak setinggi itu, kalau saja separuh wajahnya tertutup masker, mungkin Tami akan mengira dia perempuan.
Namun saat ia mendongak dan melihat wajah itu untuk pertama kali, pikirannya langsung kosong beberapa detik.
Mata bulat dengan tatapan tenang itu menatapnya lurus tanpa kesan mengintimidasi. Ada sendu samar yang anehnya justru membuat wajahnya terasa hangat. Lalu pria itu tersenyum kecil, senyum ramah yang sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Tami seperti tersentak pelan.
“Di sana,” jawabnya cepat sambil menunjuk lorong di sisi kiri gedung.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lidahnya terasa kikuk hanya karena berbicara dengan seorang pria.
Padahal Tami tidak pernah seperti itu.
Ia tumbuh bersama dua kakak laki-laki yang ribut dan berisik. Sejak SD sampai SMP, teman bermainnya lebih sering laki-laki daripada perempuan. Ia terbiasa membalas ejekan, berteriak, bahkan adu dorong tanpa pernah merasa canggung.
Namun di depan pria ber-hoodie hitam itu, jantungnya malah berdetak terlalu keras hanya karena ditatap beberapa detik.
“Thank you!” Kavi membalas sambil tersenyum lagi sebelum berjalan pergi.
Dan Tami, yang biasanya paling cuek pada hal-hal begini, malah berdiri diam lebih lama dari seharusnya, memperhatikan punggung pria itu menjauh di tengah keramaian sekolah tanpa benar-benar mengerti kenapa dadanya terasa berbeda detik itu.
Setelah hari itu, Tami mulai menyadari satu kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh tanpa izin. Matanya selalu mencari Kavi.
Di koridor sekolah, di kantin, di lapangan upacara, bahkan di parkiran sepulang sekolah, tanpa sadar pandangannya akan lebih dulu menyapu sekitar, memastikan apakah sosok tinggi dengan hoodie hitam atau langkah santai itu ada di sana.
Namun Kavi bukan seseorang yang bisa ia dekati sembarangan. Di sekolah, pria itu dikenal sebagai pacar Raina.
Dan Raina… adalah tipe perempuan yang Tami sukai. Supel, hangat, manis tanpa berusaha terlalu keras. Cara bicaranya tenang, cara tertawanya nyaman didengar. Tami diam-diam mengagumi gadis itu sejak awal masuk SMA.
Saat itu Kavi dan Raina seperti pasangan utama dalam drama remaja, dan Tami sebagai penonton setianya. Ia memperhatikan keduanya diam-diam setiap kali berpapasan di sekolah. Cara Kavi membawakan tas Raina. Cara Raina memukul lengan Kavi pelan saat tertawa. Cara mereka berdiri berdampingan seolah dunia di sekitar tak terlalu penting.
Ada rasa iri kecil yang bahkan Tami sendiri malas akui.
Namun waktu berlalu.
Saat kelas sebelas dan dua belas, Tami justru menjadi dekat dengan Raina. Sangat dekat, sampai hubungan mereka berubah menjadi persahabatan yang tulus. Dari situlah sosok Kavi perlahan bergeser di matanya.
Bukan lagi pria yang diam-diam membuat jantungnya gugup. Melainkan mantan pacar Raina yang menyebalkan.
Tami mendengar sendiri bagaimana hubungan mereka kandas. Mendengar malam-malam saat Raina menangis sambil berusaha terdengar biasa saja. Melihat sendiri bagaimana sahabatnya itu berubah lebih pendiam setelah putus. (*cerita lengkap di ASLOVEGOESBY)
Dan sejak saat itu, setiap kali mendengar nama Kavi, yang muncul di kepala Tami bukan lagi rasa kagum, melainkan dengusan kesal. Tampan, iya. Tapi menyebalkan.
Namun semuanya berubah di akhir masa SMA mereka.
Hari itu sekolah ramai oleh murid-murid yang datang mengambil surat kelulusan. Suasana lobi penuh suara gaduh dan tawa lega setelah ujian panjang berakhir. Di tengah keramaian itu, Tami justru sibuk mencari Raina yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar berhari-hari.
Ponselnya tidak aktif. Rumahnya kosong. Bahkan Yiran, pacar Raina saat itu, terlihat frustasi setengah mati karena tak tahu ke mana gadis itu pergi.
Dan di antara semua orang, hanya satu orang yang membuat Tami curiga. Kavi.
Meski perasaannya kurang berdasar dan sebatas naluri, hari itu Tami memilih membuntutinya.
Ia bersembunyi di balik tembok dekat ruang guru sambil mengintip pria itu keluar membawa dua lembar kertas di tangan. Begitu Kavi berjalan menuju lobi sekolah, Tami langsung bergerak cepat.