Di dalam ruangan, Tami menjadikan laptopnya sebagai kedok. Mungkin dimata Mia ia terlihat menyedihkan, sikapnya yang pura-pura sibuk dengan pekerjaan ini sangat kekanak-kanakan. Tapi ia tak punya pilihan lain. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kavi dan Lisa masih bersama bahkan setelah lima tahun berlalu, emosi di dadanya meletup-letup. Banyak pertanyaan yang muncul tapi sekuat tenaga ia tekan untuk muncul ke permukaan.
Apakah mereka menikah?
Apakah anak yang tadi digendong Lisa itu adalah anak mereka?
Berkali-kali ia melirik ke arah Mia, ingin sekali bertanya. Yakin Mia lebih tahu dari dirinya tentang hal itu. Tapi tak akan ia lakukan. Disamping gengsi, Tami lebih takut dirinya tak mampu menerima kenyataan yang akan didengar. Bagaimana kalau benar-benar anak mereka? Apa dia mampu untuk tetap berada di dalam ruangan ini dan melanjutkan proyek yang mengharuskannya bekerja sama dengan Kavi?
Tak lama pintu terdengar terbuka. Langkah kaki lebar itu terdengar sangat familiar bahkan setelah sekian lama tak pernah didengar oleh telinganya. Parfum dengan aroma woody yang menyebar tipis ke seluruh ruangan begitu pria itu masuk dan duduk di seberang meja, menusuk hidung Tami, membuat dadanya perih.
“Apa kabar, Kav?” sapa Mia basa-basi.
“Baik, lu gimana?” balas Kavi juga basa-basi.
“Baik,” jawab Mia dengan tersenyum canggung, langsung bisa merasakan kalau ketegangan di ruangan ini nampaknya akan lebih parah dari perkiraannya.
Kavi menggeser pandangannya ke Tami yang sibuk menatap layar laptopnya. “Apa kabar, Tam?” sapanya, nada suaranya terlalu datar untuk disebut ramah.
Jantung Tami tersentak, nafasnya tersendat di tenggorokan. Di atas keyboard laptop, tangannya mengepal kencang. Perlahan mengangkat pandangannya sekilas dan melirik tajam ke arah Kavi.
Pada akhirnya ia memandang wajah yang sudah lama ia lihat, tapi tak pernah hilang dari ingatannya itu. Meski hanya beberapa detik. Seluruh tubuhnya seakan dihujani jarum tajam, perih, menyakitkan, lalu di akhirnya… mati rasa.
“Baik,” sahutnya singkat, tanpa bertanya balik. Kembali menatap layar laptopnya dan mengetik sesuatu di papan ketik.
“Dimulai aja, Mi!” ucapnya ke Mia. Sengaja menunjukkan kalau dirinya tak ingin berbasa-basi, ingin segera memulai dan menyelesaikan rapat, tak ingin berlama-lama di ruangan ini.
Ia tak sanggup berlama-lama berhadapan dengan Kavi.
Ia takut goyah lagi.
***
Sambil mengemudikan mobilnya, Mia mati-matian menahan diri agar tidak mendengus kesal.
Sepanjang rapat tadi, Kavi terang-terangan terus menatap Tami tanpa sekali pun berusaha menyembunyikannya. Pria itu sama sekali tidak menyimak penjelasan yang Mia sampaikan.
Sebaliknya, Tami bertahan di balik sikap dinginnya yang Mia tahu dibangun mati-matian sebagai tameng. Sejak awal rapat, wanita itu tak pernah mengangkat pandangan dari layar laptopnya, pura-pura sibuk mengetik dan membuka dokumen, padahal tidak ada hal mendesak yang sedang dikerjakan.
Keduanya sama-sama tidak fokus. Tidak benar-benar hadir di ruangan itu. Dan jelas sekali, tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mendengarkan briefing yang ia jelaskan.
Meski begitu, Mia tetap menjalankan rapat seperti biasa. Apapun yang terjadi di antara mereka, briefing itu tetap harus selesai sesuai rencana. Profesionalitas tetap profesionalitas.
Hanya saja, sulit untuk tidak merasa kesal melihat suasana canggung yang menyesakkan tadi. Dan alasan dia sejak tadi terus menahan dengusan frustasinya adalah karena Tami yang duduk di kursi samping kini terlihat jauh lebih kacau darinya sendiri.
Wanita itu menyandarkan kepala ke jok sambil memejamkan mata, jemarinya memijat pelipis dengan napas berat tertahan. Dari raut wajahnya saja sudah jelas terlihat betapa tidak nyamannya ia berada di ruangan tadi, bahkan mungkin nyaris tak sanggup bertahan di sana.
“Lu baik-baik aja, Tam?” tanya Mia khawatir, setelah lebih diperhatikan wajah Tami kelihatan agak pucat.
Tangan Tami turun dari dahi sambil matanya membuka perlahan. “Dibilang nggak apa-apa ya nggak, dibilang kenapa-napa juga nggak,” jawabnya ambigu, memang begitulah keadaannya.
“Kavi sama Lisa…” ucap Mia ragu-ragu, mencoba membuka pembicaraan.