Kavi duduk di tepi ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk, ponsel masih tergenggam di satu tangan.
Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup kekuningan yang jatuh di rambut dan bahunya. Di meja samping ranjang, laptop kerjanya masih terbuka dengan beberapa file medis yang belum selesai dibaca. Namun sejak satu jam terakhir, tak sekali pun perhatiannya benar-benar kembali ke sana.
Layar ponselnya kembali menyala. Jarinya bergerak otomatis membuka aplikasi chat yang sama, lalu berhenti di foto profil yang sama pula. Tami.
Sudut alis Kavi berkerut tipis menyadari kebiasaannya sendiri. Ia menghembuskan napas pelan lewat hidung, lalu menjatuhkan kepala sesaat, seolah muak pada dirinya sendiri.
Konyol. Selama ini ia bahkan tidak pernah peduli soal foto profil siapa pun.
Namun malam ini, entah sudah berapa kali ia membuka percakapan grup hanya untuk melihat foto kecil di samping nama Tami.
Selama lima tahun terakhir, lingkaran abu-abu kosong itu selalu menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lihat di akun Tami. Tidak pernah ada foto. Tidak pernah ada pembaruan apa pun. Ia tahu alasannya, Tami pasti sudah menghapus atau memblokir nomornya, dan hari ini baru disimpan lagi karena keperluan pekerjaan.
Sekarang ia bisa melihat foto Tami. Foto yang diambil di pantai saat matahari hampir tenggelam. Perempuan itu berdiri menyamping sedikit dengan rambut yang diterbangkan angin laut. Senyum kecil tertahan di bibirnya, sementara cahaya senja membuat kulitnya tampak hangat keemasan.
Cantik. Pikirannya mengucapkan itu begitu saja tanpa izin. Dan tanpa sadar, ujung bibir Kavi ikut terangkat. Jempolnya bergerak memperbesar foto tersebut perlahan. Tatapannya berhenti pada kacamata hitam yang dikenakan Tami.
Ada sesuatu di sana. Pantulan samar yang baru tertangkap olehnya.
Kavi memicingkan mata lebih fokus. Ponselnya ia dekatkan sedikit ke wajah, mencoba menangkap detail kecil di balik lensa hitam itu.
Seseorang berdiri di depan Tami. Siluet tinggi dengan bentuk tubuh yang tampak seperti laki-laki. Samar, nyaris tidak terlihat kalau tidak diperhatikan baik-baik.
Dadanya mengencang. Senyum kecil di wajahnya menghilang. Jemarinya berhenti bergerak. Sementara rahangnya mengeras tanpa sadar, dan lidahnya menekan sisi dalam pipi pelan. Ada rasa tidak nyaman yang muncul cepat dan panas di dadanya, membuat napasnya tertahan beberapa detik lebih lama.
Matanya kembali mengamati siluet itu. Siapa laki-laki ini, pacar Tami?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, tajam dan mengganggu.
Dan hal paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa dirinya terganggu dengan hal yang seharusnya tak menjadi perhatiannya itu.
“Ahhhh…” Ia menghembuskan napas kasar sebelum menjatuhkan tubuh ke atas kasur.
Matras empuk itu memantul pelan saat punggungnya menghantam permukaan, sementara kedua kakinya masih menapak lantai. Ponsel yang sedari tadi berada di tangannya kini tergeletak di samping pinggang tanpa benar-benar ia lepaskan jauh-jauh.
Ia diam. Tatapannya lurus ke langit-langit kamar yang remang, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Ekspresi wajah Tami terus muncul silih berganti di kepalanya. Tatapan perempuan itu. Cara Tami memandangnya siang tadi seperti seseorang yang bahkan tak mengenalnya.
Kavi memejamkan mata sebentar, lalu mengusap wajah kasar dengan satu tangan. Namun tetap saja, bayangan itu tidak pergi.
Tatapan kosong tanpa emosi yang Tami berikan untuknya disepanjang rapat tadi, terasa jauh lebih menyakitkan dibanding hari terakhir mereka bertemu di bandara, lima tahun lalu.
Saat itu dihadapannya, Tami berdiri dengan mata merah dan napas bergetar. Rambutnya berantakan, sementara jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh. Tatapan hangat yang selalu menyala setiap kali memanggil namanya berubah tajam seperti pecahan kaca. Bahkan suara Tami waktu itu masih terngiang jelas di kepala Kavi, parau, penuh emosi, bergetar karena terlalu keras menahan tangis dan marah sekaligus. Dan setiap katanya yang keluar dari mulut perempuan itu, seperti ditusukkan langsung ke dada Kavi.
Namun setidaknya saat itu, masih ada emosi, masih ada kepedulian, dan jelas, masih ada perasaan. Sementara siang tadi… Tidak ada apa-apa.
Tatapan Tami terasa datar. Dingin. Seolah keberadaan Kavi hanya ketidaknyamanan kecil yang ingin segera disingkirkan dari hadapannya.
Kavi menelan ludah pelan. Seharusnya ia lega, tapi kenapa dadanya terasa berat oleh sesuatu yang asing dan tak bisa ia pahami.
Apakah gadis yang dulu setahun penuh mengejarnya, lalu bertahan dua tahun disisinya itu, pada akhirnya melupakan semuanya? Bahkan rasa benci sekalipun? Tak tersisa?
“Arrgh…” Frustasi, Kavi menggaruk kasar rambutnya sendiri.
Selama lima tahun terakhir, hidupnya sebenarnya berjalan tenang. Bahkan setelah kembali ke Jakarta, ia tak pernah benar-benar memikirkan Tami sedalam ini.
Tapi setelah pertemuan hari ini, ada sesuatu dalam dirinya yang seperti terus didorong untuk melihat Tami lagi. Sekali saja. Ia ingin memastikan. Memastikan apakah wanita itu benar-benar sudah melupakannya… atau justru masih menyimpan sesuatu untuknya.
Meski ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan dari jawaban itu.
Kalau Tami ternyata sudah benar-benar melupakan dirinya, lalu apa? Dan kalau ternyata belum move on, memangnya apa yang akan ia lakukan?
Namun alih-alih menemukan jawaban, rasa penasarannya justru semakin mencekik. Dan sekarang, yang paling membuatnya gelisah adalah kenyataan bahwa ia tak sabar menunggu pertemuan berikutnya datang lagi.
***
Tami mengetuk pintu rumah Raina. Bunyi ketukannya memantul pelan di lorong rumah yang tenang, bercampur aroma bawang tumis dan kaldu hangat yang samar keluar dari dalam. Butuh sekitar tiga menit hingga akhirnya sahabatnya itu membukakan pintu dengan napas sedikit terburu.
“Sorry gue lagi masak!” ucap Raina sambil melepas celemek bermotif kotak-kotak dari lehernya. Ia kemudian mengajak Tami duduk di ruang tamu.
Siang itu rumah terasa teduh. Pendingin ruangan menyala pelan, tirai putih tipis di dekat jendela bergerak perlahan tertiup angin dari celah ventilasi. Di meja ruang tamu ada potongan buah yang belum disentuh dan segelas susu hangat milik Raina yang mulai dingin.
Melihat Tami yang langsung merangsek masuk lalu membanting tubuh duduk bersandar di sofa dengan wajah kusut, Raina pelan-pelan menghampiri. Selimut pelapis sofa bergeser sedikit karena gerakan Tami yang terlalu kasar.