AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #5

5. Si Penanggung Jawab

Tami sering membayangkan bagaimana rasanya bersikap manja pada seseorang. Bersandar, bergantung, lalu membiarkan dirinya diurus tanpa harus terus waspada mengatur segalanya sendiri. Mementingkan dirinya sendiri sebelum orang lain.

Namun anehnya, ia tak pernah benar-benar bisa melakukan itu.

Ia selalu bergerak lebih dulu, lebih cepat, lebih sigap dibanding hampir semua pria di sekitarnya.

Ayahnya meninggal saat dia SD, ibunya bekerja di luar negeri ketika ia SMP. Tami mengurus rumah bersama kedua kakak laki-lakinya. Meski bungsu dan satu-satunya perempuan yang selalu dijaga kedua kakaknya, kenyataannya urusan rumah justru lebih banyak bertumpu di pundaknya.

Tria yang hanya tiga tahun lebih tua, sibuk nongkrong dan nyaris tak punya inisiatif, sampai Tami lama-lama berhenti memanggilnya “kakak” saking tak bisa di-respect. Sementara Tian terlalu cerewet, sembrono, dan overprotektif tanpa alasan jelas.

Keduanya punya satu kesamaan: sama-sama tak peka pada urusan rumah. Tentang stok makanan, tagihan yang harus dibayar, suasana hati satu sama lain, atau hal-hal kecil yang diam-diam menjaga rumah itu tetap hidup. Dan, akhirnya Tami mengambil alih semuanya.

Mungkin itu sebabnya ia tumbuh menjadi seseorang yang terlalu peka. Terbiasa mendahului orang lain sebelum dirinya. Ia merasa kalau bukan dia yang bergerak, tak akan ada yang benar-benar beres.

Perlahan posisinya di rumah berubah seperti pengganti ibunya. Dia yang mengatur, menilai, dan menentukan apa yang harus dilakukan. Itu juga alasan kenapa Tian maupun Tria hampir tak pernah benar-benar melawan sifat bossy Tami. Mereka tahu adik mereka memikul peran yang seharusnya tak ia tanggung sendirian.

Dan kebiasaan itu terbawa sampai hubungannya dengan Kavi.

Selama berpacaran, Tami hampir selalu menjadi supporter terdepan. Ia bergerak lebih dulu, membantu, berusaha memperlancar hidup Kavi semampunya, seolah semua itu memang kewajibannya sebagai pasangan.

Ia menjalani semuanya tanpa mengeluh karena terbiasa memberi tanpa mengharap balasan. Atau setidaknya, begitu yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Padahal diam-diam, ada bagian kecil dalam dirinya yang lelah.

Ia ingin diperhatikan balik. Ingin Kavi lebih berinisiatif. Meluangkan waktu tanpa harus diminta. Menunjukkan bahwa dirinya juga penting untuk diprioritaskan.

Sesederhana itu.

Dan di situlah luka Tami perlahan tumbuh.

Kavi yang terlihat hangat dan ramah pada orang lain, sering kali malah terasa dingin dan acuh terhadap dirinya. Dan itu menyakitkan lebih dari apa pun.

Diam-diam Tami mempertanyakan banyak hal. Apa Kavi benar-benar mencintainya? Atau pria itu bertahan hanya karena Tami tak pernah lelah mengejar?

Pertanyaan itu tak pernah benar-benar terucap, tetapi terus tinggal di kepalanya. Berakar pelan di dalam hati yang terlalu lama berharap tanpa kepastian, sampai akhirnya menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.

Ironisnya, setelah putus pun, Tami tak butuh waktu lama untuk kembali terbiasa hidup sendiri. Ia lebih terbiasa mengurus daripada diurus. Tidak pernah benar-benar menggantungkan hidupnya pada siapa pun.

Namun ketika Tian pindah bersama istrinya, lalu Tria menikah dengan Duna, Tami baru sadar ada ruang kosong besar yang tertinggal dalam hidupnya.

Kesepian itu datang bukan karena ia kehilangan tempat bergantung, melainkan karena tak ada lagi orang yang ia urus. Tak ada lagi yang membutuhkan perhatian kecilnya setiap hari.

Dan meski terdengar menyedihkan, kenyataannya memang seperti itu.

Hidup Tami terasa mendadak hampa ketika ia berhenti memberi. Kini rasa kosong itu perlahan membuatnya ingin kembali memiliki seseorang untuk diperhatikan. Seseorang untuk diurus.

Makanya dia sempat tergiur untuk mendekat ke Julian. Pria yang sudah sejak ia kecil ada di sekitarnya, namun menaruh perhatian bak lawan jenis padanya.

Akan tapi Julian berbeda.

Pria itu bukan tipe yang membiarkan dirinya dirawat begitu saja. Julian justru lebih sering bergerak duluan, memperhatikan Tami tanpa diminta, membuat semuanya terasa asing sekaligus menggoda.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Tami mulai mempertanyakan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya; apa ia bisa menjalani hubungan bukan karena rasa suka yang menggebu, melainkan karena rasa nyaman? Apa ia bisa membiarkan dirinya beristirahat sejenak… lalu menerima perhatian orang lain tanpa terus merasa harus membalasnya?

Kalau ia mencoba bersama Julian, apa hidupnya akan terasa lebih ringan? Lebih tenang? Lebih lega?

Tami masuk ke rumah tepat pukul sebelas malam. Begitu pintu tertutup di belakangnya, bahunya langsung turun lemah. Sepatu yang sejak tadi terasa sempit kini membuat telapak kakinya berdenyut nyeri. Otot pundak dan tengkuknya kaku karena seharian memaksa tubuh terus bergerak tanpa jeda.

Hari ini ia terlalu sibuk. Terlalu banyak bicara. Terlalu banyak berpura-pura biasa saja. Sampai energinya habis bukan karena pekerjaan, melainkan karena terus menekan pikirannya sendiri agar tidak kembali mengarah pada satu nama yang sama.

Lihat selengkapnya