AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #6

6. Garis Batas

Tami tercekat begitu membuka pagar rumah.

Julian sudah berdiri di sana.

Pria tinggi besar dengan kulit sawo matang itu bersandar santai di dekat motor sport-nya, mengenakan kemeja gelap yang lengannya tergulung sampai siku. Embusan angin pagi membuat rambut depannya bergerak tipis, sementara tatapannya langsung terangkat begitu melihat Tami keluar rumah.

Jantung Tami mendadak salah ritme. Refleks, ia menarik sudut bibir membentuk senyum kecil. Tipis. Canggung. Senyum basa-basi yang muncul lebih karena gugup daripada benar-benar santai.

Namun Julian membalasnya dengan ekspresi yang jauh lebih tenang. Senyumnya muncul pelan, hangat, dan terlalu tulus sampai membuat Tami buru-buru membuang pandangan sesaat karena mendadak salah tingkah sendiri.

Tanpa banyak bicara, Julian langsung melangkah mendekat. Tangannya terulur mengambil tas kerja dari pundak Tami begitu saja, gerakannya natural seolah itu sesuatu yang sudah biasa ia lakukan setiap hari.

Tami otomatis ingin protes kecil, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Thanks…” gumamnya pelan akhirnya.

Julian hanya mengangguk kecil sambil berjalan lebih dulu menuju motornya.  Dan justru sikap santai itulah yang membuat kepala Tami semakin ribut sendiri.

Sejak kemarin ia terus memikirkan Julian. Tentang kemungkinan pria itu benar-benar punya rasa dengannya. Tentang perhatian-perhatian kecil yang belakangan terasa terlalu personal untuk dianggap biasa. Tentang dirinya sendiri yang mulai bingung harus menjaga jarak atau malah membiarkan semuanya berjalan.

Namun Julian malah bersikap senormal ini. Tidak canggung. Tidak kikuk. Tidak seperti seseorang yang sedang membuat Tami hampir overthinking semalaman.

Tami hanya bisa mengikuti di belakang sambil menggigit bibir pelan. Begitu sampai di dekat motor, Julian melepaskan helm dari spion lalu menyerahkannya padanya tanpa banyak bicara.

Tami langsung menerima helm itu dengan kedua tangan, lalu buru-buru memakainya untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas.

Semua ini terasa aneh. Familiar, tapi juga asing.

Ia memang pernah beberapa kali pulang kerja bareng Julian. Namun biasanya selalu karena kebetulan lembur atau pulang terlalu malam. Belum pernah pria itu tiba-tiba muncul di depan rumahnya pagi-pagi seperti ini tanpa bilang apa-apa lebih dulu.

Dan yang paling membuat Tami gelisah, Julian terus diam.

Tidak ada candaan receh seperti biasanya. Tidak ada komentar jahil. Tidak ada obrolan random yang biasa memenuhi perjalanan mereka. Tahu-tahu mereka sudah duduk di atas motor.

Tak seperti biasa, Tami sempat menahan tangan di udara beberapa detik, ragu harus berpegangan atau tidak. Namun begitu mesin motor meraung dan kendaraan itu melesat keluar dari gang rumahnya, tubuhnya langsung oleng sedikit karena tarikan mendadak.

Refleks, kedua tangannya melingkar di pinggang Julian. Tubuh pria itu terasa hangat di balik kemeja tipisnya. Dan detik itu juga Tami langsung menegakkan punggung kaku, menggigit bibir keras-keras sambil berharap Julian tidak menyadari betapa gugupnya dirinya sekarang.

Angin pagi terus menerpa wajah Tami sepanjang perjalanan. Jalanan masih belum terlalu padat, udara dingin menyusup lewat celah helm dan mengibaskan anak rambut di sekitar pelipisnya. Namun bukan itu yang membuat tubuhnya terasa kaku sejak tadi.

Melainkan kesadaran bahwa sedekat apapun ia mencoba menjaga batas, dirinya tetap merasa nyaman berada di belakang Julian seperti ini. Dan justru itulah yang paling membuatnya gelisah.

Apa arti kenyamanan ini?

Selama setahun terakhir, Julian selalu ada di sekitar hidupnya dengan cara yang terlalu natural untuk disadari kapan semuanya mulai terasa penting. Menemani lembur. Mengantarkan makan saat ia lupa makan siang. Mendengarkan omelannya soal klien tanpa terlihat bosan. Hal-hal kecil yang tadinya terasa biasa kini mendadak jadi terlalu berarti setelah Mia dan Raina mempertanyakan semuanya.

Tami jadi tidak tahu harus memandang hubungan mereka seperti apa. Ia tidak berani membayangkan hubungan mereka ini berubah jadi romantis. Namun di saat yang sama, membayangkan Julian menjauh juga membuat dadanya terasa aneh.

“Kenapa nggak bales chat aku?” Suara Julian tiba-tiba terdengar saat motor berhenti di lampu merah.

Tami langsung tersentak kecil. Pegangannya di pinggang Julian refleks merenggang. “A-ah?” Ia menunduk sedikit, bersyukur wajahnya tertutup helm.

Padahal tadi ia sempat berharap mereka diam saja sampai kantor. Rasa bersalah membuat pikirannya makin ribut sendiri. Karena semakin dipikirkan, semakin ia sadar mungkin saja semua ini cuma salah paham dari dirinya. Bisa jadi Julian memang perhatian ke semua orang. Bisa jadi hanya ia yang terlalu sensitif setelah kembali bertemu Kavi.

Namun justru karena itu, Tami jadi takut salah bersikap.

“Semalem kecapekan…” jawabnya akhirnya. “Kirain udah aku bales, taunya ketiduran.” Kebohongannya terdengar patah-patah bahkan di telinganya sendiri.

Namun Julian hanya mengangguk kecil. “Oh.” Tidak ada nada kecewa. Tidak ada protes. Nampaknya percaya dan tak mempermasalahkan lebih jauh chat-nya yang diabaikan.

“Jadi nanti pulang jam berapa? Mau bareng nggak?” tanya Julian, mumpung lampu merah masih menyala beberapa detik lagi.

Lihat selengkapnya