AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #7

7. Tingkah Anomali

Sepanjang rapat, Tami tak pernah benar-benar merasa nyaman.

Ruang meeting yang biasanya ramai oleh celetukan santai kini terasa pengap meski pendingin ruangan menyala dingin. Cahaya proyektor memantul pucat di meja panjang, sementara suara presentasi Mia terdengar makin jauh di telinga Tami.

Kavi yang duduk di seberangnya terus menatap.

Sorot matanya tajam dan menusuk, nyaris tak pernah lepas sejak rapat dimulai. Seperti Tami punya hutang milyaran dan harus diawasi agar tak kabur.

Tatapan itu membuat tengkuk Tami kaku. Beberapa kali ia pura-pura fokus pada laptopnya, membolak-balik halaman proposal, bahkan mencatat poin yang sebenarnya tidak perlu dicatat hanya demi menghindari mata pria itu.

Namun tetap saja ia bisa merasakan tatapan itu. Berat. Panas. Mengganggu konsentrasinya.

Mia dan beberapa anggota tim lain beberapa kali saling melirik diam-diam, bingung menangkap dinamika aneh yang mengacaukan ritme diskusi. Suasana yang seharusnya profesional namun akrab karena mereka sudah saling kenal malah berubah kaku dan janggal.

“Gue ke toilet dulu,” bisik Tami pada Mia.

Tanpa menunggu respons, ia langsung berdiri dan meninggalkan ruangan, nyaris seperti melarikan diri dari tekanan tak kasat mata yang sejak tadi mencengkeram dadanya.


Pintu toilet tertutup di belakang tubuhnya dengan bunyi pelan. Sunyi. Hanya ada suara air menetes samar dan dengung exhaust.

Tami segera menghampiri wastafel, menyalakan keran, lalu mencuci tangan dengan gerakan cepat meski sebenarnya tangannya tidak kotor. Air dingin mengalir membasahi jemarinya, tetapi tak cukup menenangkan kepalanya yang terasa penuh.

Dahinya berkerut. Beberapa detik kemudian ia mematikan keran dan menatap bayangannya di cermin besar di depan wastafel. Rambutnya masih rapi. Riasannya tidak berantakan. Namun matanya terlihat lelah, seperti seseorang yang baru selesai berlari jauh. Padahal ia hanya duduk di ruang rapat.

Kavi hari ini terasa aneh. Terlalu aneh.

Tami menyandarkan kedua telapak tangannya di tepi wastafel sambil mengingat ulang semuanya sejak pagi.

Pertama, pria itu memepetinya di akses masuk dengan alasan dompet tertinggal di mobil. Padahal tamu biasa seharusnya menukar KTP untuk mendapat akses masuk.

Aneh.

Kavi yang ia kenal, setidaknya lima tahun lalu, mustahil ceroboh soal dompet. Pria itu selalu tertib, terencana, dan rapi. Bahkan untuk sekadar pulpen, ia selalu tahu letaknya di mana. Meja kerjanya selalu bersih. File-file di laptopnya tersusun berdasarkan folder dan warna. Sampai Tami pernah mengejeknya seperti bapak-bapak perfeksionis.

Kalaupun benar dompetnya tertinggal, Kavi pasti akan kembali ke parkiran untuk mengambilnya. Bukan malah mepet mengekor tepat di belakang mantan sampai nyaris menempel seperti tadi.

Tami memejam sebentar, lalu menghembuskan napas panjang.


Kedua, seakan bertanya urusan pribadi orang lain belum cukup anomali untuk seorang Kavi, pria itu juga menarik pergelangan tangannya begitu keluar dari lift. Menuntut jawaban yang jelas-jelas sudah Tami isyaratkan tidak ingin ia berikan.

Yang paling mengganggu bukan pertanyaannya. Melainkan cara Kavi menatapnya saat itu. Tatapan yang terlalu emosional untuk seseorang yang dulu memilih pergi tanpa penjelasan.

Padahal Kavi yang dulu tak pernah impulsif.

Bahkan saat marah sekalipun, pria itu akan menahan diri, meredam emosinya sampai benar-benar tenang, lalu memilih waktu dan cara paling tepat untuk menyampaikan semuanya. Kavi selalu terlihat stabil. Rasional. Nyaris tak pernah kehilangan kendali.

Dan gengsinya tinggi.

Terlalu tinggi, sampai Tami dulu sering frustrasi sendiri karena tak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkan pria itu. Semua emosi Kavi dikunci rapat. Kegusarannya hampir mustahil terbaca, bahkan setelah bertahun-tahun berpacaran.

Namun Kavi hari ini berbeda.

Ketiga, dan puncaknya yang membuat Tami perlu kabur ke toilet begini, pria itu terang-terangan menatapnya dengan kesal sepanjang rapat. Tak peduli kalau tindakannya membuat suasana jadi aneh. Tak peduli kalau semua orang di ruangan bisa menangkap ketegangan di antara mereka. Bahkan bagi Tami sendiri, itu memalukan.

Apa mungkin seseorang berubah sampai seberbeda itu? Tami tak yakin.

Tapi semua yang terjadi hari ini terlalu mencolok untuk diabaikan begitu saja.

Dan yang paling menyebalkan dari semuanya… justru reaksi hatinya sendiri. Di tengah kejanggalan itu, jantungnya malah berdebar lebih cepat. Ada sensasi hangat yang menyengat di dadanya, membuncah begitu saja tanpa izin.

Genggaman tangan Kavi tadi seperti membangunkan lagi sesuatu yang selama ini mati suri. Tatapan pria itu perlahan meluluhkan pertahanannya.

Karena dulu, tak peduli sekeras apa Tami berusaha menarik perhatian, atau sesedih apa ia meminta untuk diprioritaskan, Kavi tak pernah benar-benar memandangnya sebanyak dia menatap Tami di ruang rapat tadi.

Lihat selengkapnya