Lagi-lagi Tami sampai di rumah hampir tengah malam. Ia turun dari taksi dengan enggan.
Blok depan rumah sudah sepi, hanya suara televisi samar dari rumah tetangga dan dengung serangga malam yang menemani langkahnya. Begitu pintu rumah terbuka, gelap langsung menyambutnya. Tidak ada lampu ruang tamu yang menyala, hanya sedikit cahaya remang-remang dari lorong yang menuju ke halaman belakang.
Ia menghembuskan napas pelan. Akhir-akhir ini ia memang sengaja pulang selarut mungkin. Menunggu sampai rumah benar-benar tenang sebelum masuk, supaya tak perlu berinteraksi dengan Duna dan Tria.
Pikirannya sudah terlalu penuh. Kepalanya berdenyut sejak sore. Dan sekarang ia cuma ingin masuk kamar, mandi, lalu menghilang di bawah selimut sampai pagi.
Jadi ia berjalan pelan-pelan melewati ruang tengah, berusaha tidak menimbulkan suara.
“Malem mulu lu pulang.”
Tami langsung tersentak keras sampai bahunya terangkat.
“Ah! Sialan!” Tangannya refleks menekan dada sendiri sambil menoleh tajam ke arah meja makan.
Tria berdiri santai di dapur sambil memegang gelas air.
“Gak istrinya, gak suaminya…” gerutu Tami sambil mengatur napas. “Bisa nggak sih jangan ngagetin orang?!”
Tria malah menenggak air dengan santai. “Ya elunya aja yang kagetan.” Ia mengangkat bahu kecil. “Gue nanya biasa.”
Tami mendecih malas lalu kembali melangkah.
“Katanya lu ketemu Kavi?” tanya Tria.
Langkahnya langsung melambat. Tami memejamkan mata sebentar sambil mendesah kesal. Kenapa kejadian beberapa hari lalu harus terulang lagi.
“Ck.” Lidahnya berdecak tajam. “Bocor banget mulutnya!” Tak perlu dijelaskan lagi, ia sudah tahu pasti Duna yang cerita.
Dan itu otomatis mengingatkannya pada pertengkaran mereka kemarin. Dadanya langsung kembali panas.
“Ngomong apa dia sama lu?” tanya Tria lagi.
Tami mengernyit lalu menoleh setengah badan. “Kavi?” alisnya terangkat sebelah. “Ngomong apaan maksud lu?”
Namun Tria malah diam, seperti mengawasi ekspresi wajah Tami, lalu bergerak ke bak cuci piring dan meletakkan gelasnya disana. “Nggak ada.” jawabnya singkat. “Tidur sana.”
Tami menatap curiga.
Namun Tria sudah lebih dulu bergerak meninggalkan tempatnya. Tapi beberapa langkah sebelum pintu kamarnya ia menoleh lagi. “Satu lagi,” serunya pelan, namun nadanya menunjukkan penekanan. “Kalau ngomong sama Duna yang sopan. Gimana juga dia kakak ipar lu!”
Setelah mengatakan itu, Tria langsung masuk kamar dan menutup pintunya begitu saja.
Rahang Tami langsung mengeras. Tatapannya jatuh ke pintu kamar Tria yang letaknya menyerong dengan kamarnya sendiri.
“Ck,” decaknya kencang, sambil memutar mata. “Makin lama makin nggak betah gue tinggal di sini…”
Gerutuan itu keluar lirih sebelum akhirnya ia mendorong pintu kamarnya sendiri dengan tenaga sedikit lebih keras dari seharusnya.
Ia melempar tasnya ke atas kasur hingga benda itu memantul kecil di atas seprai putih yang sedikit kusut. Lampu kamar yang temaram membuat suasana terasa hangat dan sepi, hanya ditemani suara kendaraan samar dari jalan di depan rumahnya.
Tami duduk di tepi ranjang dengan punggung sedikit membungkuk.
Matanya menatap kosong ke lantai kayu, sementara memori yang sejak pagi mati-matian ia usir justru kembali muncul di waktu yang paling tak tepat.
Bagaimana Kavi menarik tangannya di depan lift.
Bagaimana suara pria itu terdengar begitu jelas dan frontal saat menuntut jawaban soal hubungannya dengan Julian.
Dan bagaimana tatapan itu terus mengarah padanya tanpa henti sepanjang hari.
Tami memejamkan mata. Tangannya perlahan naik menyentuh dada.
Di balik lapisan tipis dress katun warna biru langit yang dikenakannya, ia masih bisa merasakan detak jantung yang tidak biasa. Lebih cepat. Lebih dalam. Tanda tubuhnya masih bereaksi pada Kavi meski pikirannya sudah mati-matian berusaha menolak.
Ia menghembuskan napas pelan. Namun senyum kecil yang tanpa sadar muncul di bibirnya justru menjadi bukti paling menyebalkan. Ada bagian dari dirinya yang diam-diam menikmati semua kekacauan ini. Menikmati fakta bahwa setelah lima tahun, Kavi akhirnya menunjukkan emosi yang dulu selalu ia sembunyikan rapat-rapat.
Namun sesenang apapun perasaan itu, Tami tak ingin larut. Ia tak mau kembali jatuh pada harapan kosong yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri lagi dan lagi.