AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #9

9. Ajakan Makan Malam

Sejak kecil sampai sekarang, Kavi selalu berusaha membaca pendapat orang lain tentang dirinya, untuk menentukan bagaimana ia harus bersikap,

Singkatnya, ia hidup dalam kepura-puraan yang tak pernah selesai.

Sikapnya terlihat hangat. Cara bicaranya luwes. Keramahannya tampak alami, seolah memang bawaan lahir. Padahal semua itu hasil usaha keras yang panjang. Ia terus belajar bagaimana harus bersikap agar diterima. Karena ia tumbuh di keluarga yang membuatnya selalu merasa dingin.

Dari luar, keluarganya terlihat sempurna. Latar belakang mereka bahkan sering membuat orang lain minder. Semua dokter, termasuk dirinya sekarang. 

Namun di rumah itu, Kavi selalu merasa hanya menumpang hidup.

Ia bukan anak kandung Mateo dan Diana.

Ia cuma keponakan yang diasuh sejak usia lima tahun oleh adik ibu kandungnya sendiri.

Kavi tak tahu banyak tentang masa lalunya, tetapi ia pernah mendengar gosip para pekerja rumah, bahwa orang tua kandungnya dulu tak mendapat restu keluarga. Mereka diusir setelah menikah dan memiliki dirinya sebagai anak yang tak diinginkan di keluarga besar.

Kavi bahkan tak tahu seperti apa wajah kedua orang tua kandungnya. Tak tahu bagaimana kabar mereka. Tak pernah benar-benar mengenal mereka sama sekali. Tak juga berani terang-terangan bertanya. Takut dibilang tak tahu terima kasih dan tak tahu diri.

Setelah lahir, ia tinggal di rumah kakeknya dan lebih banyak dibesarkan para pengurus rumah dibanding keluarga sendiri. Setelah sang kakek meninggal, Mateo, pamannya, memutuskan mengadopsinya.

Saat itu Luna, putri tunggal mereka berusia sepuluh tahun, sering mengeluh kesepian dan meminta adik, sementara Diana, istri Mateo, sudah menjalani operasi pengangkatan rahim karena kanker yang pernah diderita. Proses adopsi nya, terasa seperti keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan untung rugi dengan matang.

Seharusnya bergabung dengan keluarga itu, bisa menjadi awal kehidupan yang hangat bagi Kavi. Kesempatan untuk akhirnya memiliki orang tua sungguhan.

Namun kenyataannya tidak pernah seperti itu.

Mateo dan Diana tak pernah memberinya kasih sayang yang sama seperti yang mereka berikan pada Luna. Di rumah itu, Kavi selalu diperlakukan seperti orang luar. Tak benar-benar dilihat, tak pernah sungguh-sungguh dipahami, dan jarang dianggap penting.

Meski Luna menyayanginya seperti adik kandung sendiri, perasaan asing itu tetap tak pernah hilang. Kavi selalu sadar dirinya bukan siapa-siapa di keluarga itu.

Tumbuh dengan beban hutang budi membuatnya menjadi anak penurut yang tak pernah berani hidup atas kemauannya sendiri. Ia hanya menjalani kehidupan yang sudah diatur orang tua angkatnya. Berusaha keras memenuhi harapan. Mati-matian membuat bangga agar tidak dibuang.


Saat kelas sepuluh SMA, mungkin karena pubertas yang sedang berada di puncak, atau karena saat itu ia mulai sadar bahwa banyak perkataan dan aturan orang tua angkatnya terasa keterlaluan dan sulit diterima, untuk pertama kalinya Kavi ingin memberontak.

Meski kenyataannya, pemberontakan itu teramat kecil.

Ia hanya ingin mencoba hidup seperti remaja normal. Melakukan sesuatu yang bukan arahan keluarganya. Punya seseorang untuk diajak bicara. Sesekali merasakan hidup di luar rutinitas yang serba diatur, yang terasa seperti penjara.

Lalu Raina muncul di waktu yang tepat.

Gadis itu manis, dan mereka nyambung dalam banyak hal. Orang-orang di sekitar bahkan sering bilang mereka cocok bersama. Meski Kavi sendiri belum benar-benar paham apa itu cinta, keberadaan Raina memang membawa warna baru dalam hidupnya. Untuk pertama kali, ia merasa memiliki dunia lain di luar hidupnya yang dingin dan kaku oleh aturan.

Namun pada akhirnya, ia justru menyakiti Raina.


Ketidakpahamannya tentang perasaannya sendiri membuatnya terlihat tak acuh dan tak peka. Pun karena terlalu tertutup terhadap sisi tergelap hidupnya yang acapkali menyita waktu dan perhatiannya, ia gagal menyadari bahwa Raina juga sedang berada di masa sulit ketika itu.

Dan dari sana, Kavi sadar satu hal: ia jauh dari kata normal.

Ia merasa dirinya seperti robot yang tak bisa berfungsi tanpa remote dari pemiliknya. Bahkan untuk menjalani kehidupan normal pun, ia tetap harus berpura-pura. Ia tumbuh dengan diatur dan menerima arahan, sehingga tak yakin apa yang harus dan tidak harus dilakukan diluar tatanan aturan yang telah ada.

Lihat selengkapnya