“KAVI!”
“KAV!!”
“KAVI!”
Suara Tami menggema di kepalanya.
Nyaring. Cerah. Hidup.
Kavi melihat bagaimana gadis itu selalu memanggil namanya penuh semangat selama tiga tahun. Senyum cerianya. Sikap blak-blakannya. Mata yang selalu berbinar penuh keberanian dan antusiasme. Semua itu terasa begitu melekat pada kesehariannya sampai dulu ia tak pernah benar-benar menyadari betapa terbiasanya dirinya dengan kehadiran Tami.
Tami adalah secercah cahaya yang tak pernah Kavi kira akan masuk ke hidupnya yang dingin dan teratur.
Namun dalam penglihatannya, cahaya itu perlahan redup.
Tami tak menyerukan namanya lagi.
Gadis itu berdiri beberapa meter darinya dengan wajah kacau, mata penuh amarah dan kekecewaan saat melihat Kavi justru memeluk Lisa di gerbang keberangkatan bandara. Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh, bahunya naik turun menahan emosi.
Lalu Tami berjalan mendekat. Langkahnya terdengar berat. Namun hanya perlu beberapa detik sampai ia benar-benar berdiri di hadapan…
Kavi membuka mata setengah terperanjat.
Napasnya memburu.
Peluh dingin mengalir di dahi saat ia tersadar dirinya tertidur di sofa klinik. Lampu ruangan yang remang membuat kepalanya terasa makin berat.
Lagi-lagi mimpi yang sama.
Sudah beberapa hari terakhir hal itu terus muncul setiap kali ia tertidur. Dan itu bukan sekadar mimpi. Melainkan potongan memori yang selama ini ia pikir sudah terkubur rapi. Kenangan saat Tami memutuskan hubungan mereka di bandara lima tahun lalu.
Kavi duduk perlahan sambil memijat kening. Matanya masih terpejam ketika bayangan lain kembali muncul di kepalanya.
Pertemuan pertamanya dengan Tami beberapa minggu lalu di rumah sakit. Bagaimana gadis itu bahkan tak mau benar-benar melihat ke arahnya. Tatapan matanya tak lagi berbinar seperti dulu. Yang tersisa hanya keengganan dan kehampaan. Hal itu mengganjal lebih dalam daripada yang seharusnya.
Selama ini Kavi memang selalu berpikir Tami sudah melupakannya setelah lima tahun berlalu.
Apalagi saat Mia menghubungi dan mengatakan mereka ingin bekerja sama dengannya dalam proyek rumah sakit, Kavi langsung berasumsi kalau Tami pasti sudah tak keberatan bertemu dengannya lagi. Kalau wanita itu sudah selesai dengan masa lalu mereka.
Karena itu ia mengiyakan. Meski jauh di dalam dirinya ada rasa penasaran yang tak bisa dipungkiri. Bagaimana penampilan Tami sekarang. Apa yang berubah. Apa yang masih sama. Dan tanpa mau mengakuinya dengan lantang, Kavi sebenarnya menantikan pertemuan pertama mereka.
Namun ia tak menyangka semuanya justru mulai berantakan sejak hari itu.
Kavi menunduk sambil mengusap wajah kasar.
Kalau mereka tak pernah bertemu lagi… apakah ia akan merasa segelisah ini?
Selama lima tahun terakhir, sebenarnya ia tak pernah benar-benar merasa merindukan Tami. Ia hanya sesekali mengingat wanita itu. Sesekali saat ada wanita yang tersenyum padanya. Sesekali saat mendengar seseorang meneriakkan namanya dengan nada ceria. Sesekali saat ada seseorang yang bersikap hangat dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan.
Yah. Kalau dipikir-pikir lagi… mungkin bukan sesekali. Mungkin cukup sering. Hanya saja Kavi tak pernah benar-benar menyadarinya.
Ia juga selalu merasa wajar kalau Tami akhirnya melupakannya. Justru itu yang selama ini ia harapkan. Bahwa wanita itu sudah baik-baik saja. Bahwa luka yang ia tinggalkan sudah sembuh.
Dan tentu saja wajar kalau Tami sekarang punya pria lain. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Tami bisa bertemu siapa saja selama rentang waktu itu. Semua sudah Kavi prediksi. Semua terasa masuk akal.
Sampai ia melihat Julian.