AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #11

11. Keajaiban yang Hampir Mustahil

Tami duduk di bangku coffee shop dekat jendela, menyedot kopi susunya pelan sambil termenung. Es batu di dalam gelas plastik berderak kecil setiap kali sedotannya bergerak. Di luar, langit sore mulai mendung, membuat cahaya matahari yang masuk lewat kaca tampak redup kekuningan.

Coffee shop itu cukup ramai, dipenuhi suara mesin kopi, denting gelas, dan obrolan pelanggan yang saling tumpang tindih. Namun di meja mereka, suasananya justru terasa canggung dan sunyi.

Di seberangnya, Astrid diam-diam mengawasi ekspresi Tami yang jelas terlihat sedang banyak pikiran. Tatapan wanita itu kosong sejak tadi, bahkan beberapa kali terlihat membaca pesan di ponselnya lalu buru-buru mematikan layar lagi.

Astrid sebenarnya ragu untuk bertanya.

Tapi sudah hampir lima menit mereka duduk saling berhadapan tanpa obrolan apa pun. Sebagai junior, rasanya sekarang ia harus mulai menunjukkan tata krama dan mencoba mencairkan suasana.

“Jadi cuti, Mbak?” tanyanya akhirnya sambil merapikan lengan cardigan yang menggulung.

“Em.” Tami mengangguk kecil tanpa benar-benar mengangkat kepala. “Mau healing gue.”

Tadi pagi akhirnya dia menagih voucher resort yang Mia janjikan, memutuskan untuk mengajukan cuti yang selama ini selalu ia tunda-tunda karena terlalu enggan meninggalkan pekerjaan.

Dilihat dari ekspresi terkejutnya, sepertinya Mia sempat lupa dengan sarannya sendiri ke Tami waktu itu, karena beberapa hari kebelakang memang Tami sudah tak pernah mengeluh tentang Kavi, dan fokus ke pekerjaannya.

Astrid membuka mulutnya hendak bertanya, tapi langsung menutupnya lagi karena merasa sungkan.

Tami menangkap gelagat tak nyaman itu, ia pun berdecap merasakan pahitnya kopi di bibirnya sambil melirik junior-nya yang pendiam itu.

“Lu punya pacar gak?” tanya Tami santai, sambil meletakkan gelas kopinya di atas meja.

Astrid mengangguk. “Ada.”

“Lu yang lebih suka atau dia yang lebih suka?” kedua alis Tami mengangkat.

Kali ini kedua pundak Astrid mengangkat, ia tersenyum tak yakin. “Kayaknya sama.”

Tami menghela napas berat sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

“Gue gak pernah ngerasain begitu,” gumamnya lirih, mengayun dan memutar gelas kopinya.

Tubuh Astrid maju sedikit, menunjukkan ketertarikan. “Bukannya Mbak punya mantan, yang waktu itu datang ke kantor, yang dokter, mantan Mbak Tami katanya.”

Tami hampir tersedak sisa kopi susunya di tenggorokannya. Ia langsung batuk dua kali sambil menatap Astrid tak percaya. “Kelihatan?”

Astrid meringis bersalah. “Maaf…”

Tami menghela napas panjang lalu menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya naik ke langit-langit coffee shop beberapa detik sebelum akhirnya menunduk dan bergumam pasrah. “Em.” Mengiyakan sedikit terlambat. “Tapi kayaknya selama pacaran dulu cuma gue yang suka dia.”

“Kok bisa? Emang kenapa bisa mikir gitu?”

Biasanya Astrid tak terlalu tertarik dengan urusan orang lain, tapi gadis pendiam dan penyendiri itu sejak lama memang menjadikan sosok Tami sebagai role model nya di kantor, jadi apapun yang berhubungan dengan Tami otomatis menarik perhatiannya.

“Lu pernah nggak, ngerasa dikejar-kejar sama cowok?” pertanyaan Tami berganti lagi.

“Gue gak pernah.” Ia jawab pertanyaannya sendiri.

“Lu bisa liat, gue cewek rata-rata, gak manis gak cantik kaya cewek-cewek populer di sekolah atau kampus gue. Jadi gak pernah ada cowok yang ngejar gue. Gue pun sebenernya ga tertarik-tertarik amat sama cowok. Sampe gue jatuh cinta sama dia, si mantan.”

Tami berhenti sejenak. Menyedot lagi kopinya dan melemparkan pandangan ke jendela.

“Gue sempet ragu, gue sempet nyerah, tapi akhirnya gue nekat ngejar dia, itu pun butuh setahun,” sambung Tami. “Sampai akhirnya dia nerima gue dan kita jadian.”

“Wow!” Astrid tercengang.

Tanggapan polos Astrid membuat Tami tersenyum pedih. “Tapi selama hampir dua tahun pacaran,” lanjutnya, kini memandang ke gelas kopinya. “Gue nggak pernah ngerasa dia beneran suka sama gue.”

“Kenapa gitu?” Astrid tak berusaha menutupi lagi rasa penasarannya.

“Coba lu bayangin! Dia gak pernah gandeng tangan gue duluan, gak pernah nyium gue duluan, gak pernah paham waktu gue marah itu karena sikap dingin dia ke gue, padahal dia selalu ramah dan hangat ke orang lain, gak pernah terbuka tentang dirinya kecuali gue coba nyari tau sendiri,” beber Tami.

Rasa frustasi karena kejadian kemarin malam membuatnya bahkan tidak ragu-ragu lagi untuk menceritakan pengalaman pribadinya ini, ia benar-benar perlu berbicara dengan seseorang, yang hanya mendengarkan tanpa mengintervensi seperti Astrid sekarang.

Cewek itu hanya terdiam, meskipun tatapan matanya berubah menjadi iba.

“Selama ini gue ngerasa gue ngebohongin diri gue sendiri, dengan pemikiran sampai sekarang gue gak paham alasan sebenarnya kenapa kita putus lima tahun lalu, padahal, gue tau, sejak awal dia emang gak pernah suka sama gue.”

Tami menatap Astrid sambil tersenyum tipis. “Itu pasti alasannya.”

“Jadi, sekarang gimana?” Astrid mengedip lambat “Apa yang bikin Mbak Tami kepikiran?” Dia paham cerita Tami barusan hanya intro dari kelengkapan cerita yang sebenarnya sedang mengusik benak Tami.

Tami mengangkat punggungnya dari kursi, kemudian menyilangkan kakinya.

“Tadi gue dah bilang kan, gak ada cowok yang ngejar gue seumur hidup gue?” Ia mengingatkan.

Astrid mengangguk.

“Setelah lima tahun gue jomblo, tadi malem gue baru tahu kalau ternyata ada cowok yang diem-diem selama tiga tahun ini, bahkan mungkin lebih, nyimpen perasaannya ke gue dan minta izin buat ngejar gue.”

Mata Astrid melotot, tak menduga alur cerita ini. “Terus?”

Tami kembali memandang ke gelas kopinya, tangannya mengaduk-aduk isinya dengan sedotan. “Harusnya gue seneng kan?” tanyanya lirih.

Lihat selengkapnya