AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #12

12. Kejutan Tak Diharapkan

Kavi berdiri di depan pintu ruang rapat dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

Biasanya begitu rapat selesai, ia akan jadi orang pertama yang menghilang dari ruangan. Namun kali ini tidak. Sejak lima menit lalu ia berdiri di sana sambil sesekali melirik ke arah pintu, ujung sepatunya bergerak kecil mengetuk lantai tanpa ritme jelas.

Begitu Mia keluar dari ruangan sambil membawa tablet dan map kerja, Kavi langsung melangkah mendekat. “Tami ke mana?” Nada suaranya terdengar terlalu cepat.

Mia berhenti sebentar. Sudut matanya bergerak tipis saat menatap wajah Kavi yang jelas-jelas terlihat gelisah, meski pria itu berusaha memasang ekspresi setenang biasanya.

Dan jujur saja, Mia mulai lelah berada di tengah-tengah mereka. Tami sahabatnya. Kavi juga temannya sejak SMA. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Sama-sama menyimpan terlalu banyak hal sendiri. Dan yang paling menyebalkan, keduanya seperti punya alasan masing-masing yang membuat Mia tidak bisa sepenuhnya membenci salah satu pihak.

“Kenapa emang?” balas Mia akhirnya. Nada bicaranya lebih ketus dari biasanya.

Kavi langsung menyadari perubahan itu. Alisnya terangkat sebelah samar. “Gue ada bikin salah sama lu?”

Entah mengapa keadaan ini terasa familiar, Mia terlihat seperti sosok Duna dulu, yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, dan belakangan baru ia tahu karena Duna tak mau Tami dekat dengannya. (*cerita lengkap di ASNIGHTFALLBY)

Pertanyaan itu membuat ekspresi Mia sedikit melunak karena merasa tidak enak sendiri. Bagaimanapun, masalah antara Kavi dan Tami bukan urusannya sepenuhnya. “Nggak,” jawabnya sambil berdeham kecil. “Dia cuti.”

Tatapan Kavi langsung berubah fokus. “Tapi dia baik-baik aja, kan?” Kekhawatiran di wajahnya terlalu jelas untuk disembunyikan.

Namun Mia hanya mengangguk kecil. “Em.” Jawaban singkat itu keluar dingin sebelum ia kembali melangkah pergi meninggalkan Kavi.

Namun baru beberapa meter berjalan, Mia berhenti. Ia mendesah pelan lalu berbalik lagi. “Lu masih ada rasa sama Tami?”

Pertanyaan itu membuat Kavi membeku di tempat.

Mia menatapnya lurus-lurus sambil melipat tangan di depan dada.

Padahal tadi ia sudah memutuskan untuk tidak ikut campur. Namun melihat wajah Kavi yang terlihat resah setengah mati sejak tadi membuatnya sulit benar-benar diam. Dan yang paling menyebalkan, pria ini terlihat seperti bahkan tidak paham dengan dirinya sendiri.

Kavi membuka mulut sedikit, tetapi tak ada jawaban yang keluar.

Hening beberapa detik.

Mia langsung mendecih pelan sambil menggeleng. “Lu tuh pinter dan hebat dalam banyak hal, Kav…” gumamnya dengan tatapan mengejek tipis. “Kecuali soal perasaan.”

Kavi tetap diam.

“Kalau lu aja nggak ngerti sama perasaan lu sendiri,” lanjut Mia lebih serius, “jangan ganggu Tami dulu. Biarin dia sendiri.”

Tatapan Kavi langsung berubah. Kata-kata itu membuat alisnya langsung berkerut. “Sendiri?” ulangnya cepat. “Bukannya dia punya pacar?”

Kini giliran Mia yang bengong. Keningnya langsung terangkat tinggi penuh heran. Beberapa detik kemudian, ekspresi kesalnya malah perlahan menghilang. Oh. Jadi ini masalahnya. Batinnya. Pantas saja sejak awal sikap Kavi aneh sekali. Maju mundur. Menatap Tami seperti orang yang ingin mendekat tapi terus menahan diri.

Cowok ini rupanya mengira Tami sudah punya pacar. Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat Mia tiba-tiba jadi sedikit iba. Namun tetap saja, ia tidak berniat mendorong hubungan mereka ke arah mana pun.

“Mending sekarang lu pikirin dulu sebenarnya lu maunya apa,” ujar Mia akhirnya dengan nada lebih tenang. “Kalau udah jelas, baru lu temuin Tami lagi.”

Lalu ia mengangkat tangan kecil. “Bye.” Ia kembali masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan Kavi yang masih berdiri diam di tempat yang sama.

Pikiran pria itu langsung penuh.

Tami masih sendiri? Kalimat itu terus terulang di kepalanya. Artinya Tami belum pacaran dengan Julian?

Namun itu tidak otomatis membuat dadanya tenang. Karena yang ia lihat malam itu di restoran jelas bukan hubungan biasa. Tatapan Julian ke arah Tami. Cara mereka duduk berdua. Suasana di antara mereka. Semuanya terasa terlalu dekat.

Bisa jadi mereka belum pacaran sekarang. Tapi siapa yang tahu beberapa hari lagi?

Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar, mengembalikan fokusnya. Ia pun bergerak meninggalkan kantor, sambil membuka kunci layar.

Nama Luna muncul di layar. Sebuah foto diterima.

“Kav, ini mantan lu bukan? Mukanya familiar kayak gue pernah liat di mana, terus gue inget pernah liat dulu di kafe lu.”

Langkah Kavi langsung terhenti. Jarinya refleks memperbesar foto itu.

Meski gambar agak blur dan hanya menampilkan sisi wajah perempuan yang sedang berdiri di depan meja resepsionis hotel, Kavi langsung mengenalinya.

Tami. Dadanya langsung menegang lagi.

Lihat selengkapnya