Kavi sudah beberapa menit berdiri diam di depan pintu kamar Tami.
Semalaman ia terus mengawasi area lobi dan menyisir lingkungan sekitar resort, tetapi keberadaan Tami tak terlihat di mana pun. Gadis itu jelas tidak keluar kamar. Ia bahkan yakin Tami tak makan malam. Dan sekarang, ketika matahari sudah cukup tinggi dan restoran hotel mulai ramai oleh tamu sarapan, batang hidung Tami masih belum juga terlihat.
Berkali-kali Kavi mengecek ke resepsionis, memastikan kalau-kalau Tami check out diam-diam tanpa sepengetahuannya. Namun kamar itu masih tercatat terisi. Artinya, sejak kabur dari hadapannya kemarin, kemungkinan besar Tami masih berada di dalam sana.
Kavi menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan bel di pintu kamar.
Ia sudah terlanjur nekat datang sejauh ini. Rasanya tanggung kalau sekarang justru mundur dan pura-pura menjaga jarak setelah semua sikap aneh yang ia lakukan belakangan ini.
Siap atau tidak dengan konsekuensi yang mungkin muncul setelahnya, Kavi memilih mengikuti intuisi untuk menemui Tami. Soal perasaannya sendiri, soal perasaan Tami, semuanya bisa dipikirkan nanti tergantung bagaimana keadaan berkembang. Karena saat ini, ada hal yang terasa jauh lebih penting baginya. Memastikan Tami baik-baik saja.
Bel pintu berbunyi beberapa kali, tetapi tak ada jawaban. Kavi mulai mengetuk pelan.
Masih hening. Ia mengetuk lebih keras. “Tam? Tami!” panggilnya.
Tetap tak ada respons.
Kecemasan mulai merambat di dadanya. Tangannya bergerak mengguncang gagang pintu lebih kuat sambil terus mengetuk menggunakan tangan satunya. “Tami!”
Suara ketukannya makin keras sampai penghuni kamar sebelah membuka pintu untuk mengecek keributan yang ia buat. Namun dari dalam kamar itu tetap tak terdengar apa-apa.
Tak ada langkah kaki. Tak ada suara.
Kavi buru-buru menghubungi nomor Tami sambil terus mengetuk pintu. Nada sambung terdengar panjang sampai akhirnya panggilan tertutup otomatis tanpa jawaban.
Dadanya langsung makin tak tenang. Ia hampir berlari menuju resepsionis untuk meminta pintu dibuka paksa ketika akhirnya, ceklek. Kenop pintu bergerak pelan. Pintu terbuka sedikit dari dalam.
Kavi langsung berbalik cepat dan kembali mendekat. Dengan hati-hati, ia mendorong daun pintu perlahan agar terbuka lebih lebar.
“Lu baik-baik aja, Tam?”
Suara Kavi terdengar dekat di tengah kepala Tami yang terasa berat.
“Iya…” jawab Tami serak.
Namun bahkan tanpa perlu jadi dokter pun, siapa saja pasti tahu Tami jelas tidak baik-baik saja. Bibirnya kering. Kelopak matanya turun lemah. Dan tubuhnya terlihat seperti berdiri hanya karena dipaksa.
Alis Kavi langsung mengernyit. Refleks, punggung tangannya terangkat menyentuh dahi Tami. Kulit perempuan itu tak sepanas kemarin, tapi ada keringat dingin tipis di pelipisnya.
Jantung Kavi langsung menegang.
Tangannya turun meraih pergelangan tangan Tami lalu mengecek denyut nadinya dengan fokus penuh. Jemarinya terasa dingin di kulit Tami, namun perempuan itu terlalu lemas untuk menepis atau protes.
Kavi mendesah pelan. “Ayo kita ke rumah sakit.” Satu tangannya langsung merengkuh bahu Tami sebelum perempuan itu sempat membantah lebih jauh.
“Nggak usah…” tolak Tami lirih sambil berusaha berdiri tegak sendiri. “Gue cuma perlu istirahat.”
“Lu dehidrasi!” Nada suara Kavi berubah tegas.
Ia mulai membimbing Tami keluar kamar sambil tetap menopang tubuh perempuan itu yang beberapa kali terlihat kehilangan keseimbangan. “Ayo ke rumah sakit dulu.”
Mereka baru beberapa langkah berjalan di lorong ketika pintu kamar lain terbuka. Luna muncul sambil mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Dehidrasi,” jawab Kavi cepat tanpa berhenti melangkah.
Tatapan Luna langsung bergerak meneliti wajah Tami beberapa detik. Sebagai sesama dokter, ia tidak perlu pemeriksaan lama untuk tahu kondisi Tami memang tidak bagus.
“Oke.” Luna langsung mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. “Pakai mobil sewa gue.”
Kavi langsung menerimanya. “Thanks.”
Lalu tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menopang tubuh Tami dan membawanya keluar resort dengan langkah cepat sementara angin pantai kembali menerpa lorong terbuka di sekitar mereka.