AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #14

14. Sebagai Teman atau Ratu

Keduanya sama-sama terdiam sampai masuk ke dalam mobil.

Kavi sebenarnya ragu untuk membuka pembicaraan lagi setelah ucapannya tadi dipotong oleh Tami.

Sementara itu, Tami masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya sendiri. Semula ia sudah bertekad untuk melupakan Kavi dan menjaga jarak sejauh mungkin. Namun setelah mendengar potongan cerita pria itu barusan, rasa penasarannya justru tumbuh semakin besar.

Tentang Kavi. Tentang keluarganya. Dan terutama… tentang apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu.

Padahal tadi dia yang memilih menghentikan pembicaraan itu. Berpura-pura sudah tak peduli dan tak ingin tahu lagi. Namun sekarang, diam-diam ia justru menyesal setengah mati. Karena ada rasa takut bahwa dirinya akan terus dihantui penasaran jika tak pernah mendengar kelanjutan ucapan Kavi tadi.

“Tam,” panggil Kavi sebelum menyalakan mesin mobil. “Gue gak ngarepin lu maafin gue… tapi jujur, gue pengen setidaknya kita bisa jadi temen.”

Kalimat itu terasa seperti jarum yang menusuk salah satu sisi dada Tami.

Meski begitu, di saat yang sama, ia seperti akhirnya mendapat jawaban atas kebingungannya beberapa waktu terakhir. Dalam keheningan singkat setelah ucapan itu, pikiran Tami mulai menarik kesimpulan satu per satu.


Pertama, kemunculan Kavi di hidupnya lagi pada dasarnya memang bukan keinginan pria itu sendiri. Kalau saja Mia tidak mengajak mereka bekerja sama, mungkin Kavi tak akan pernah muncul di hadapannya lagi entah sampai kapan.

Kedua, rasa penasaran Kavi soal hubungannya dengan Julian kemungkinan memang hanya rasa penasaran biasa. Karena kalau pria itu benar-benar menginginkan sesuatu yang lebih, ia tak mungkin mengatakan ingin menjadi teman.

Ketiga, keberadaan Kavi di sini ternyata memang karena kakaknya juga menginap di tempat yang sama. Jadi kemungkinan besar semua itu hanya kebetulan. Meski bagian itu masih agak sulit diterima mentah-mentah mengingat kemarin pagi Kavi masih menghadiri rapat kantor. Tetap saja, itu penjelasan paling masuk akal.

Keempat, semua kepanikan Kavi saat mengetuk pintu kamar sampai membawanya ke rumah sakit kemungkinan murni karena kekhawatiran seorang dokter terhadap orang sakit. Bukan karena hubungan spesial yang pernah mereka miliki. Bukan karena pria itu masih memiliki perasaan. Bagaimanapun juga, sebagai dokter, Kavi pasti akan bersikap sama pada siapa pun yang tumbang di depannya.

Dan kelima… semua keramahan, permintaan maaf, juga keterbukaan mendadak hari ini kemungkinan hanya karena Kavi ingin menyelesaikan masa lalu mereka dengan lebih baik. Menghilangkan kecanggungan yang selama ini menggantung di antara mereka. Terlebih mereka masih harus terus berhubungan untuk urusan pekerjaan.

Dalam beberapa detik saja, Tami sudah menyusun semua kesimpulan itu di kepalanya. Kavi tidak merasakan hal yang sama seperti dirinya. Semua kegelisahan ini hanyalah perasaan sepihak yang muncul karena pikirannya sendiri terlalu jauh berharap. Tanpa sadar, ia sudah kelewat percaya diri dan diam-diam mulai membayangkan kemungkinan bahwa Kavi juga merasakan sesuatu. Padahal tidak.

Jadi mungkin, untuk sekarang, hal terbaik yang bisa ia lakukan bukan menolak permintaan Kavi dengan dingin, melainkan menerima kenyataan bahwa memang tak seharusnya ada apa-apa lagi di antara mereka.

Miris memang. Karena selama ini, mereka bahkan tak pernah benar-benar berteman.

Namun mungkin mencoba menjadi teman bukan ide yang buruk. Setidaknya setelah ini ia tak perlu lagi kebingungan menafsirkan sikap Kavi setiap kali pria itu menunjukkan perhatian atau bersikap baik padanya.

Meski begitu… jauh di dalam hatinya tetap ada rasa kecewa yang terasa pelan menyayat. Karena ternyata, bagi Kavi, mereka hanya sebatas teman.

“Sebagai teman…” Suara Tami terdengar pelan, tapi cukup tegas.

Ia menoleh pelan Tatapannya lurus. Sudah tidak lagi menghindar seperti beberapa menit lalu. “Setidaknya gue mau minta lu jangan ganggu sisa liburan gue beberapa hari ke depan.”

Nada bicaranya tenang. Terlalu tenang. Dan justru itu yang membuat dada Kavi terasa makin berat.

“Meskipun gue makasih buat bantuan lu hari ini…” lanjut Tami sambil mempertahankan tatapannya, “…ke depannya jangan panik atau perhatian berlebihan lagi meskipun gue sakit.”

Jeda kecil muncul sebelum ia menambahkan, “Temen nggak kayak gitu.”

Kalimat itu jatuh pelan. Namun cukup untuk membuat ekspresi Kavi perlahan kosong.

Lihat selengkapnya