AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #15

15. Pasangan Pesta

Rabu pagi ini menjadi waktu yang sudah Mia antisipasi sejak akhir pekan lalu.

Pertemuan lanjutan antara Kavi dan Tami membuatnya ekstra waspada. Karena setelah beberapa pertemuan sebelumnya yang selalu berakhir canggung dan menyesakkan, ia sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk lain pagi ini.

Namun sekarang matanya justru bergerak bolak-balik ke kedua sisi meja rapat dengan rasa tak percaya. Untuk pertama kalinya, percakapan antara Kavi dan Tami terasa selaras. Rapat kali ini benar-benar berjalan seperti diskusi formal profesional, bukan lagi adu tensi dua mantan kekasih yang perang dingin.

Keduanya terdengar santai, meski tetap menjaga jarak. Pemilihan kata mereka masih terasa sedikit kaku, tetapi lugas dan penuh percaya diri. Sangat berbeda dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya yang selalu berakhir antiklimaks dan mencekik suasana.

Dan melihat jalannya diskusi hari ini, Mia bahkan mulai merasa hasil proyek mereka nanti mungkin benar-benar akan jadi masterpiece.

“Oke kalau gitu next meeting kita lanjut bahas mapping gejala penyakit sama poli yang bisa dituju, ya!” Mia menutup meeting dengan wajah berbinar.  Ia langsung bangkit dari kursinya sambil tersenyum puas sendiri.

Di sisi lain ruangan, Kavi ikut berdiri sambil menutup laptopnya perlahan. Namun sebelum benar-benar bergerak pergi, matanya mengunci Tami.

Hari ini Tami terlihat jauh lebih segar dibanding terakhir kali ia lihat di Parangtritis.

Cardigan ungu muda yang dikenakannya membuat wajahnya tampak lebih cerah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai santai di bahu, sementara pakaian putih yang dipakainya membuat kulitnya terlihat hangat di bawah cahaya ruang meeting.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, wajah Tami benar-benar terlihat hidup lagi.

Kavi memperhatikannya sepersekian detik terlalu lama sebelum akhirnya melangkah mendekat. “Lu dateng kan ke acara Raina lusa?”

Tami yang sedang memasukkan laptop ke dalam tas langsung menoleh. “Em.”

Ia mengangguk kecil sambil mengangkat laptopnya ke pelukan. “See you there!”

Nada suaranya terdengar ramah. Namun sekaligus terasa berjarak.

“Mau bareng?”

Pertanyaan Kavi keluar terlalu cepat, membuat Tami berhenti sepersekian detik di tempat.

Ia menoleh lagi. “Thanks,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Tapi gue bareng temen.”

Lalu dengan anggukan kecil sebagai pamit, Tami berjalan keluar ruangan begitu saja.

Kavi tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung Tami sampai menghilang di balik pintu. Dan anehnya, dari semua kalimat tadi, yang justru paling mengganggu pikirannya adalah satu kata sederhana itu: teman.

Kening Kavi langsung berkerut samar. Ia menoleh ke arah Mia.

Sementara itu Mia yang sedari tadi pura-pura sibuk merapikan dokumen langsung tersentak kecil karena ketahuan menguping.

“Dia bareng lu?” tanya Kavi.

“Hah?” Mia refleks memeluk laptop di dadanya. “Nggak lah. Gue kan bareng suami gue.”

Ia mengernyit bingung. “Lagian mana mungkin dia bilang bareng temen kalau temen yang dimaksud itu gue? Gue aja ada di sini.”

Kavi mengangguk kecil pelan. Masuk akal.

Namun bukannya tenang, dadanya justru makin terasa tidak nyaman. Karena sekarang hubungan dirinya dan Tami juga cuma teman. Padahal sebenarnya lawan jenis yang pernah terikat asmara.  Jadi tak ada jaminan ‘teman’ yang Tami maksud juga bukan pria sepertinya.

Julian?

“Sial…” Umpatan itu nyaris tak terdengar saat ia akhirnya berjalan keluar ruangan. Tangannya masuk ke saku celana sementara rahangnya mengeras kesal sendiri. “Kenapa juga gue ngomong temen…”

***

Beberapa hari kemudian...

Acara yang sudah lama dinanti-nantikan Raina akhirnya terlaksana.

Lampu ballroom berpendar hangat keemasan, memantul cantik di rangkaian bunga putih dan biru tua yang menghiasi setiap sudut ruangan. Alunan musik instrumental lembut memenuhi udara, bercampur suara obrolan para tamu yang datang dengan pakaian formal terbaik mereka.

Lihat selengkapnya