“Permisi, gue mau balik ke dalem.”
Tami memilih tak menggubris Kavi. Ia menunduk, menggeser tubuh mendekati dinding, berniat menyelinap melewati pria itu agar bisa segera kabur dari situasi aneh ini.
Namun melihat Tami sama sekali tak menanggapi ucapannya dan malah tampak ingin buru-buru kembali ke samping Julian, darah Kavi justru semakin mendidih.
Tangannya terulur dan bertumpu di dinding, menghalangi jalan Tami.
“Lu bisa putus sama dia?” suaranya rendah namun menekan. “Kalau gue bilang gue suka sama lu, apa lu bisa putusin dia?”
Wajah Tami langsung menekuk kesal. “Lu ngomong apa sih?”
“Gue minta lu putus sama Julian!” tegas Kavi.
Tami membuka mulut hendak membalas, tetapi kembali mengatupkannya rapat. Ia menarik napas panjang lalu menatap Kavi dengan tajam. Pria ini terlihat normal, meski tak dikancing sampai kerah, kemeja putihnya rapi, jasnya pun terlihat mahal dengan bahan dan potongan presisi jatuh di badan. Rambutnya ditata rapi.
Tapi matanya, ekspresi wajahnya, berantakan.
“Minggir!”
Tami bergerak ke sisi lain, tetapi Kavi kembali menghadang.
“Nggak sebelum lu jawab pertanyaan gue.”
“Lu pikir lu siapa bisa ngatur gue seenaknya?” bentak Tami yang mulai kehilangan kesabaran. Ia mendorong bahu Kavi cukup keras. Namun pria itu malah mencengkeram kedua bahunya dan mendorong tubuhnya ke sudut dinding.
“Lu udah nggak suka sama gue?” tanya Kavi dengan tatapan goyah.
Jarak mereka terlalu dekat. Tami bahkan bisa mencium samar aroma parfum pria itu. Dan anehnya, kepala Tami justru kosong. Seharusnya ia langsung mengelak. Seharusnya ia marah dan menyumpah. Namun melihat bayangan dirinya sendiri di mata Kavi, ia malah terjerat kebingungan yang sulit dijelaskan.
Kenapa Kavi tiba-tiba berubah seperti ini?
Kenapa pria yang selalu tenang dan pandai menyembunyikan emosi kini tampak segoyah ini?
Apa maksud semua ucapannya barusan?
Dan kenapa Kavi berpikir dirinya berpacaran dengan Julian?
Lorong itu mendadak hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar, sama-sama menahan emosi yang nyaris tumpah.
Diamnya Tami justru membuat Kavi semakin gelisah. Tangannya yang semula mencengkeram bahu Tami perlahan naik menyentuh wajah gadis itu.
“Gue suka sama lu,” tekan Kavi dengan suara mirip geraman tertahan. “Jadi sekarang putusin Julian.”
Setelah itu ia mendekat agresif.
Tubuh Tami langsung bereaksi. Ia cepat memalingkan wajah tepat sebelum bibir Kavi menyentuh bibirnya.
“Jaga sikap lu!” Tami mendorong tubuh Kavi sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung mundur. “Gue nggak tau lu kenapa, tapi berhenti bertindak semena-mena!” napasnya memburu. “Dan jangan mikir gue masih punya perasaan sama lu!”
Tangannya buru-buru membetulkan pundak gaun yang melorot akibat cengkeraman Kavi tadi.
Melihat Tami bergerak pergi, dada Kavi terasa seperti dihantam keras. Napasnya masih menderu, rahangnya masih tegang, tetapi kini sorot matanya mulai goyah. Penuh getir dan kepanikan.
Ia sendiri tak paham apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Sejak tadi ketenangannya terasa terus digerogoti emosi yang semakin membesar saat melihat Tami bersama Julian. Seolah ada bom lama yang selama ini tersembunyi jauh di dalam dirinya, lalu tiba-tiba meledak dan meluluhlantakkan seluruh akal sehatnya.
Dan sekarang, melihat punggung Tami yang semakin menjauh, dingin, dan terasa tak akan pernah bisa ia gapai lagi, Kavi panik.
Ia tak pernah segusar ini. Tak pernah seputus asa ini.
Membayangkan Tami mungkin tak akan mau menemuinya lagi setelah malam ini membuat dadanya terasa terdesak.
Ia pun langsung berlari menyusul dan menarik tangan Tami cukup keras hingga gadis itu tersentak, berbalik paksa ke arahnya. “Lu udah tahu kalau Julian juga salah satu alasan kita putus lima tahun lalu?”
Mata Tami langsung melebar. “Maksud lu? Julian? Ada apa sama dia?”
“Lu nggak tahu?” Kavi menatapnya lekat. “Tria yang minta gue mutusin hubungan sama lu. Dan Julian yang sengaja ngasih tahu keberangkatan gue di bandara… karena cuma dia sama Lisa yang tahu.”
Begitu semua kalimat yang selama ini dipendam keluar dari mulutnya, akal sehat Kavi perlahan kembali.