AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #17

17. Meledak Sejadi-jadinya

Tepat dua jam Tami duduk membisu sendirian di ruang tamu saat suara pintu depan akhirnya terdengar terbuka.

Rumah yang sejak tadi sunyi langsung dipenuhi suara obrolan Tria dan Duna yang terdengar cukup hangat. Tawa kecil mereka samar bercampur bunyi langkah kaki dan plastik belanja yang bergesekan.

Namun suasana itu runtuh seketika.

Begitu masuk dan melihat Tami berdiri dari sofa dengan sorot mata penuh amarah, senyum di wajah keduanya langsung menghilang.

Lampu ruang tamu yang kekuningan membuat ekspresi Tami terlihat makin dingin. Matanya merah, entah karena marah atau terlalu lama menahan emosi sendirian.

“Kenapa lu?” tanya Tria pelan, keningnya langsung berkerut.

Tami tertawa pendek tanpa humor. “Waktu itu,” ucapnya tanpa basa-basi, “kenapa lu nanyain ke gue Kavi bilang apa pas ketemu sama gue?”

Raut wajah Tria langsung berubah. Kaget. Buru-buru ia menyembunyikan kecemasan. “Ya nggak apa-apa,” jawabnya buru-buru. “Dia kan dah pergi ninggalin lu gitu aja, gue cuma mau tau dia ngomong apa ke lu pas ketemu lagi.” Dustanya terdengar patah-patah.

“Ch.” Tami menyeringai sinis. “Apa urusan lu sampai mau tau?” Nada suaranya tajam penuh muak.

Di mata Tami, Tria tak pernah benar-benar bertindak seperti kakak yang baik. Dan sekarang kepedulian mendadak itu justru terasa palsu.

Wajah Tria langsung menekuk kesal. “Ya sebagai kakak lu gue cuma mau nanya emang salah!”

“Sebagai kakak?” Tami langsung memotong dengan suara meninggi. “Sejak kapan lu jadi kakak gue? Emang gue pernah minta lu ngatur hidup gue? Ikut campur hidup gue tanpa gue minta?” bentak Tami. “Sejak kapan lu pernah ngurusin gue!”

Suasana ruang tamu langsung memanas. Duna buru-buru melangkah mendekat. “Tam, Tam… sabar dulu,” ucapnya pelan mencoba menenangkan.

Namun Tami langsung menoleh tajam. “Lu juga!” serunya pada Duna. Suaranya pecah oleh emosi yang terlalu lama dipendam. “Lu tau, kan!?” teriaknya. “Lu tau apa yang dilakuin Tria sama Julian lima tahun lalu!”

Duna langsung membeku. Ia tidak pernah benar-benar tahu seluruh kejadian sebenarnya. Namun selama ini dirinya selalu merasa ikut menjadi penyebab putusnya Kavi dan Tami.

Karena kalau saja ia tidak memberi tahu Tami soal keberangkatan Kavi hari itu… Kalau saja ia tidak mengantar Tami ke bandara tanpa memberi kabar pada Kavi lebih dulu… mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti itu.

Duna tak pernah tahu Lisa juga ada di sana. Dan rasa bersalah itu diam-diam ia bawa selama lima tahun terakhir. Seolah dirinyalah yang sengaja membuat Tami memergoki sesuatu yang menghancurkan hubungannya sendiri.

“Gue kira kekecewaan gue sama lu berdua udah paling maksimal,” ucap Tami dengan napas bergetar. “Gue gak nyangka lu berdua bisa menjijikkan sampai tahap ini!”

“Tami! Jaga mulut lu!” bentak Tria yang akhirnya ikut tersulut emosi.

Namun Duna langsung memegangi lengannya cepat sebelum Tria bergerak mendekat.

Tami malah tertawa kecil. Tawa yang terdengar sinis dan lelah sekaligus. “Jaga mulut gue lu bilang?” ulangnya pelan sambil menggeleng tak percaya. “Urus diri lu sendiri!”

Matanya mulai berkaca-kaca. “Sejak Mama keluar negeri, apa lu pernah ngurus gue?” suaranya meninggi lagi. “Gue gak pernah minta lu ngurus gue! Tapi apa hak lu ikut campur di hidup gue! Lu siapa!”

Tria mematung. Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat semua kemarahan Tami diluapkan tanpa ditahan. Dan itu jauh lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan.

Tami lalu beralih menatap Duna. “Lu juga,” ucap Tami lirih tapi menusuk. “Makasih udah ngasih tau gue kalau bahkan orang yang gue kenal dari kecil dan paling gue percaya di dunia ini… ternyata bisa jadi pengkhianat.”

Sunyi. Tak ada yang mampu membalas. Duna tertunduk dalam sementara Tria mematung.

“Mulai sekarang gue gak mau tinggal sama kalian lagi,” ucap Tami tegas. “Gue muak sama kalian.”

Lihat selengkapnya