AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #18

18. Mau Menginap?

Kavi menyalakan lampu ruang tunggu klinik. Bergegas mengambilkan air minum hangat dan memberikannya pada Tami.

“Tunggu bentar!” ujarnya lalu berlarian menaiki tangga, bergerak tergesa-gesa di lantai atas. Lalu tak lama kemudian kembali dengan membawa beberapa handuk dan satu selimut di tangannya.

Tami menerimanya dan langsung berusaha mengeringkan rambut juga pakaiannya.

Kavi bergerak bolak balik dengan canggung dan akhirnya duduk di sofa seberang. Berusaha tak menatap Tami terus menerus, gadis itu sedang fokus mengeringkan rambut basahnya. Tapi entah mengapa pemandangan langka ini membuat Kavi tak mampu berpaling.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa begitu gugup di depan seorang wanita, padahal Tami adalah mantan pacarnya, dan orang yang sudah lama dikenalnya. Tapi dia merasa tak bisa bergerak dengan leluasa, sampai kebingungan harus mengarahkan pandangannya ke mana.

Mungkin karena kejadian beberapa jam lalu di lorong hotel masih terbayang jelas olehnya, ada rasa puas karena sudah mengungkapkan isi pikirannya, juga rasa bersalah karena mengatakan hal yang mungkin seharusnya lebih baik tetap jadi rahasia, pun malu karena tingkahnya yang kurang perhitungan itu terlalu menggebu-gebu, tak karuan mirip orang gila.

Tanpa sepengetahuan Kavi, Tami sebenarnya juga sedang berusaha menata pikiran dan ekspresi wajahnya. Ia tak kalah gugup. Setelah mendengar semuanya dari Julian, kini ia tak bisa melihat Kavi dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Di matanya, pria ini bukan lagi Kavi yang kurang ajar, tak tahu malu, dan tukang selingkuh seperti dugaannya.

Ia berdehem, membersihkan pikirannya ketimbang tenggorokannya. Perlahan mengangkat gelas yang ada di atas meja dan meminum air hangatnya. Kemudian setelah merasa rasa hangat itu mengalir ke dalam perut, ia mempertegak posisi duduknya dengan kedua tangan di atas lutut. Mirip orang yang pasrah untuk menerima penghakiman.

Sorry gue dateng malem-malem.” Buka Tami. “Gue, udah tanya langsung ke Julian.”

Ia melihat sorot mata Kavi yang semula teduh berubah siaga ketika nama Julian disebut. 

Langsung terpikir tampaknya sebelum masuk ke topik utama, ada hal yang perlu diluruskan lebih dulu.

“Oh iya, gue gak pacaran sama Julian,” jelasnya.

Lucunya, sorot mata Kavi seketika tampak berbinar.

Mata Tami melebar singkat. “Dia emang nyatain perasaannya sama gue!” tambahnya buru-buru.

Ada dorongan di dalam dirinya yang ingin membuat Kavi tetap siaga terhadap sosok Julian. Entah mengapa dia berpikir hal itu cukup menguntungkan untuk posisinya. Karena beberapa jam lalu Kavi bisa dibilang menyampaikan perasaannya karena merasa tersaingi oleh Julian. “Tapi gue belom jawab,” tutupnya.

Ketika melihat bahu Kavi yang semula tinggi penuh percaya diri, kini melorot lemas. Tami menyembunyikan semburat kepuasan di dalam ekspresi wajahnya.

Ia tak salah, selama beberapa detik tadi Kavi memang sudah melonjak kegirangan mendengar kalau Tami dan Julian tidak pacaran. Lalu akhirnya, informasi tambahan yang Tami sampaikan membuatnya tersadar kalau dirinya tak sepenuhnya salah paham. Karena meskipun tak pacaran saat ini, tapi dari ucapan Tami menyiratkan kalau masih ada kemungkinan mereka akan menjalin hubungan kedepannya. Ia kembali waspada dan cemas.

“Gue mau denger cerita dari versi lu, buat make sure yang gue denger dari Julian gak ada yang salah,” lanjut Tami. Menatap Kavi tegas, bukan menyudutkan melainkan memohon.

Kavi mengedip lambat, menunduk sejenak dan akhirnya mengangkat wajahnya lagi kemudian mengangguk. “Gue akan ceritain semuanya.”

Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menyiapkan dirinya untuk membuka rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh keluarganya dan Lisa, satu-satunya sahabat sejak SMP.

“Gue harus cerita dari awal biar lu gak bingung.”

Ketika Tami mengangguk, Kavi merasa dirinya sudah siap untuk membeberkan rahasianya, ia menyandarkan punggungnya di sofa dan menyilangkan kaki, mencari posisi nyaman untuk menyampaikan kisah panjang dan rumit itu.

Lihat selengkapnya