AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #20

20. Mencari Saran

Mia menyapu pandangannya pelan ke bawah meja kerja Tami.

Satu. Dua. Tiga kantong belanja bertumpuk di sana. Alisnya langsung terangkat curiga.

Sementara di depannya, Tami sama sekali tidak sadar sedang diamati. Perempuan itu sejak datang tadi sibuk mengetik laporan mingguan dengan wajah serius, bahkan nyaris tak mengangkat kepala.

Mia lalu memperhatikan pakaian yang dikenakan Tami hari ini. Dress hitam simpel. Masih terlalu baru. Tatapannya bergerak ke bagian kerah, dan matanya langsung menyipit.

Tanpa aba-aba, Mia langsung mendekat lalu membungkuk ke arah leher Tami. “Ikut gue.”

Bisikan mendadak di dekat telinga membuat Tami langsung merinding dan tersentak kaget. “Ampun!”

Matanya membulat besar saat menoleh dan mendapati Mia tengah berdiri sambil mengedikkan kepala ke arah pantry dan berjalan ke sana.

“Ada apaan sih?” keluh Tami sambil menyusul. Di ambang pintu pantry, melirik laptopnya gelisah. “Gue lagi ngejar deadline submit report nih.”

Namun Mia malah melipat tangan di depan dada sambil bergerak mendekat.

Tatapannya memicing penuh selidik. “Lu nggak pulang ke rumah ya?”

Tami langsung membeku.

“Ada apa tadi malem?” Mia makin mendekat dengan sorot mata intimidatif.

Refleks Tami mundur setengah langkah. “Lu tau dari mana?” tanyanya panik.

Mia langsung menunjuk kerah baju Tami. “Labelnya masih nempel.”

Tami langsung meraba belakang lehernya sendiri dengan mata melebar.

“Lu juga beli baju banyak banget.” Mia mengedikkan kepalanya ke arah meja Tami. “Terus tadi gue liat lu dianter ke sini sama Kavi.”

Tatapannya makin tajam. “Ada apa antara lu sama Kavi sekarang?”

Tami buru-buru menarik label di belakang kerahnya sampai putus sambil berusaha menghindari mata Mia. “Apaan sih…” gerutunya kecil. Suaranya terdengar terlalu defensif untuk dianggap santai.

Mia langsung maju satu langkah lagi, sampai jarak mereka hanya beberapa jengkal. “Lu balikan sama dia?”

“Nggak!” bantah Tami buru-buru. “Gue cuma nginep sementara di tempat dia!”

Kini giliran Mia yang melotot. “HAH?” Ia benar-benar syok. Padahal 

“Lu nginep di rumah dia?!” ulangnya tak percaya. “Kenapa? Kok bisa?”

Wajah Tami langsung menekuk kesal. “Emang nggak boleh nginep di rumah temen?”

“Sejak kapan lu sama dia jadi temen?” balas Mia spontan.

“Sejak kita sepakat!” tantang Tami keras kepala.

Mia langsung memicingkan mata panjang. Tatapan curiganya makin menjadi-jadi. Lalu perlahan ia mendekat lagi sampai wajah mereka tinggal beberapa senti. “Lu tau nggak,” ucapnya serius, “dari sekian banyak hal di dunia ini…”

Ia sengaja membuat wajah segalak mungkin supaya Tami tidak menganggap ini candaan. “…ada hal-hal yang nggak boleh kita lakuin.”

Tami tetap menatap balik tanpa gentar.

“Salah satunya…” Mia menunjuk wajah Tami pelan. “…balikan sama mantan.”

“Ch.” Tami langsung mencibir sambil memutar mata. “Emang kenapa?” Sifat menantangnya keluar otomatis.

Dan justru itu yang bikin Mia makin gemas sendiri. “Karena percuma!” tekan Mia. “Lu balikan sama orang yang sama, masalah lu bakal sama!”

Tatapannya melembut sedikit meski nadanya masih tegas. “Putusnya juga bakal sama.”

Kalimat terakhir itu dilontarkan lebih pelan. Karena di balik semua omelan dan interogasi ini, Mia cuma takut melihat Tami jatuh ke luka yang sama sekali lagi.

Kali ini Tami tak bisa menyahut, ucapan Mia membuatnya tertohok.

Meskipun dalam hatinya tetap merasa tak mau kalah dalam debat ini, kenyataannya di dalam dirinya ia mempunyai ketakutan yang sama seperti ucapan Mia barusan.

Ia takut untuk jatuh menjalin hubungan lagi dengan Kavi, takut akan merasakan kedinginan dan kesepian seperti dulu, takut akan berpisah dengan cara yang sama menyakitkan. Walaupun bisa dibilang mereka putus karena adanya kesalahpahaman dan campur tangan pihak luar. Tapi semua waktu yang ia lewati dengan perasaan berat, kesedihan, dan amarah yang memenuhi dadanya itu, valid.

Melihat Tami yang mendadak bungkam dengan penuh pertimbangan, Mia bergeleng heran.

Bisa-bisanya temannya ini tadi lantang melawan, berdeklamasi kalau dirinya tak takut sama sekali untuk menginjak ranjau yang sama, tapi tiba-tiba gentar karena disinggung tentang masa lalu yang pahit itu.

“Terserah lu berdua gimana,” tegas Mia bergerak ke arah pintu pantry tanpa menoleh. “Yang pasti jangan sampai ganggu kerjaan lagi!” tekannya lalu meninggalkan ruangan.

Tami bergeming, perkataan Mia berhasil menghidupkan kembali peringatan siaga untuk membangun pertahanan dirinya, yang sejak kemarin redup karena terlalu hanyut dalam suasana menyenangkan antara dirinya dan Kavi.

Benar, kini ia harus lebih hati-hati, jika tak ingin membiarkan sakit yang menimpanya dulu, terulang lagi.

***

Lihat selengkapnya