AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #22

22. Emosi yang Tumpah

Hari mulai gelap saat Tami memarkir SUV milik Astrid di depan pagar rumahnya. Ia menarik napas panjang sebelum turun dari mobil.

Meski enggan kembali masuk ke rumah setelah pergi dalam keadaan penuh emosi, ia tetap harus melakukannya. Semua barangnya masih ada di kamar, dan ia membutuhkannya untuk memulai hidup di tempat tinggal baru.

Tami membuka pintu perlahan. Sisa udara lembab dari luar masih menempel di tengkuknya saat ia melongok ke ruang tamu dan mendapati rumah itu sepi. Barulah ia merasa sedikit lega untuk melangkah masuk.

Matanya menyapu ruang tengah dan dapur sambil terus berjalan menuju kamar. Tak ada siapa pun terlihat. Tria pasti masih di kantor karena jam kerja belum selesai, sementara Duna kemungkinan sedang bekerja juga di salon.

Namun begitu mengingat pintu rumah tadi tidak terkunci, Tami langsung mengoreksi pikirannya sendiri.

Mungkin Duna ada di dalam kamar.

Karena itu ia buru-buru masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan agar tak menimbulkan suara yang memancing perhatian. Ia sama sekali tak ingin berpapasan atau terlibat percakapan dengan Duna sekarang.

Tanpa membuang waktu, Tami langsung mengambil dua koper terbesar miliknya dan membukanya di atas kasur. Ia mulai memasukkan pakaian, buku, foto, dan berbagai barang lain dengan gerakan tergesa. Tak peduli bagaimana nanti isi koper itu berantakan, yang penting sekarang ia bisa membawa sebanyak mungkin barang dalam waktu singkat.

Dan ternyata, barang-barangnya jauh lebih sedikit dari yang ia kira. Dua koper itu memang penuh sesak, tetapi tak banyak lagi yang tersisa di kamar untuk dibawa.

Tami berhenti sejenak. Tatapannya menyapu seluruh sudut kamar yang sudah ia tempati sejak kecil. Begitu banyak kenangan tertinggal di ruangan ini sampai dadanya terasa sesak.

Pada akhirnya, ia benar-benar meninggalkan rumah ini. Dan yang paling menyakitkan, ia pergi dengan perasaan seberat ini.

Tak ingin larut terlalu lama dalam pikirannya sendiri, Tami langsung menurunkan dua koper dari atas kasur ke lantai.

Roda koper bergesekan pelan dengan lantai kamar saat ia menyeret keduanya menuju pintu. Gerakannya cepat. Terburu-buru. Seolah kalau ia berhenti terlalu lama, keberaniannya untuk pergi akan runtuh lagi.

Namun begitu pintu kamar terbuka, langkahnya langsung terhenti. Tubuhnya membeku.

Duna berdiri di sana. Tepat di depan pintu kamarnya.

Entah sudah berapa lama perempuan itu berdiri diam di lorong, tapi wajahnya terlihat kacau. Matanya sembab, rambutnya sedikit berantakan, dan tatapan yang diarahkan ke Tami terasa begitu penuh sampai membuat dada Tami ikut menegang. Akhir-akhir ini, setiap kali melihat Duna, perempuan itu memang tampak semakin berantakan

“Lu beneran pergi?” Tatapan Duna turun ke koper di tangan Tami.

“Lu kira gue gertak doang?” balas Tami dingin. Ia langsung menarik koper melewati Duna begitu saja.

Namun Duna buru-buru mengikuti di belakang. “Bisa diomongin baik-baik kan, Tam?” suaranya mulai terdengar panik. “Nggak usah sampe pergi kayak gini… gimana juga kita keluarga.”

Langkah Tami mendadak berhenti lagi. Ia menoleh cepat. Tatapannya tajam. “Ngomong baik-baik?” ulang Tami pelan sambil tertawa kecil sinis. “Emang lu sama Tria pernah ngomong baik-baik dan terbuka sama gue?”

Duna langsung memejamkan mata sebentar sambil menarik napas panjang. Begitu matanya terbuka lagi, tatapannya terlihat makin lelah. “Please…” gumamnya lirih. “Jangan bahas itu dulu, Tam. Sekarang kita lagi bahas soal lu.”

Tami langsung mendecih tajam. “Masalah lu nggak perlu dibahas, tapi masalah gue harus?” bentaknya.

Lihat selengkapnya