AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #23

23. Pengalaman Baru Daripada Nostalgia

Kavi menunggu kaki bergerak gelisah, makin waktu berlalu makin ia takut Tami tak kembali. Ia khawatir Tami langsung pergi, tak mau menginjakkan kaki di klinik ini lagi setelah tersinggung dengan sikapnya tadi pagi.

Entah sejak kapan dirinya berubah menjadi penakut, penuh kekhawatiran dan pikiran-pikiran negatif yang tak bisa diatasi. Ia pun tak paham. Tapi yang jelas seharian ini ia merasa tak pernah tenang.

Berkali-kali menimbang-nimbang perlu kah dia menanyakan kabar Tami lewat chat, apakah gadis itu sudah menemukan rumah yang cocok? Apa benar-benar tersinggung atau marah karena sikapnya? Namun tak ada yang dia lakukan, karena tak yakin mana tindakan yang benar untuk dilakukan. Mengingat hubungan mereka yang sekarang yang masih tak jelas statusnya. Pun tak tahu bagaimana perasaan Tami terhadap dirinya. Takut salah gerak sedikit saja malah memperkeruh keadaan yang sudah buruk karena kebodohannya.

Sekarang ia duduk di sofa klinik yang menghadap ke arah jendela. Kedua ujung kakinya berjinjit, lututnya bergerak naik turun.

Lalu saat mobil SUV merah berhenti di depan klinik, tubuhnya terlontar berdiri seolah duduk diatas pegas. Ia memanjangkan leher heboh, celingukan menunggu siapa yang turun dari sana. Mendapati Tami yang keluar dari pintu supir, ia buru-buru memakai sandalnya dan keluar sambil terus celingukan ke arah mobil.

“Lu ngapain?” tanya Tami, dahi berkerut.

“Diantar siapa?” tanya Kavi, terus menerus celingukan, sampai membuat Tami ikut menengok ke arah mobil.

“Sendiri, gue minjem mobil Astrid,” Sahut Tami datar.

Barulah Kavi berhenti celingukan.

“Kenapa?” tanya Kavi lagi.

“Kenapa apanya?” wajah Tami menekuk bingung.

“Kenapa minjem mobil Astrid, kan bisa minjem mobil gue?” sahut Kavi.

“Oh.” Tami baru paham, meski tak yakin memang Kavi yang bicara kurang jelas atau otaknya yang kelelahan karena menangis terlalu lama sepanjang jalan tadi.

“Tadi gue dari rumah Astrid, terus gue harus balik ke rumah ngambil barang-barang gue.” Dia menunjuk ke arah mobil. “Gue jadi pindah besok soalnya, jadi gue bawa semua kesini dulu, sebelum gue bawa ke tempat gue nanti. Sekalian barang-barang gue yang ada disini,” paparnya tak bersemangat, tak punya tenaga untuk menengadah dan menatap wajah Kavi.

Kavi termangu, sadar doanya yang licik sejak kemarin ternyata tak terkabul.

Pada akhirnya Tami benar-benar hanya sebentar menginap di sini. Akhirnya dia benar-benar akan pergi sebelum Kavi sempat memulai usaha apapun untuk mendapatkan hatinya. Ragu kedepannya bisa punya kesempatan lain untuk mendekati Tami dengan jarak sedekat ini.

“Oi!” tegur Tami dengan tatapan sayu, melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Kavi yang melamun.

“Gue masih boleh nginep lagi disini malem ini?” tanyanya, tak menyimpan niat apapun dibalik pertanyaannya, karena ia merasa sama sekali tak punya tenaga kalau harus kembali ke apartemen Astrid sekarang. “Atau gue cabut sekarang aja?” sambungnya buru-buru, khawatir Kavi tak nyaman dengan keberadaannya.

“Disini aja!” tahan Kavi, kelewat lantang.

Alis Tami naik ke tengah dahi. Entah mengapa Kavi terlihat menggemaskan malam ini.

Mungkin karena kacamata yang dikenakannya? Kacamata yang sejak dulu selalu menambah ketampanan Kavi di mata Tami. Mungkin karena suaranya tiba-tiba melengking bersemangat sehabis dia berkata akan menginap lagi. Ah, tapi Tami sedang berada dalam kondisi yang membuatnya tak bisa merasa leluasa terpesona.

“Oke!” balas Tami dingin, melewati Kavi dan masuk ke klinik lebih dulu. 

Menyadari wajah Tami yang lemas dan sedikit pucat, mata Kavi berkelebat. Ia langsung berbalik dan menyusul masuk dan mendapati Tami ternyata sudah menaiki tangga ke lantai atas.

Ia berdiri di ujung tangga, mengawasi dalam senyap, mengamati Tami dengan seksama.

Namun beberapa detik kemudian, alis Kavi langsung berkerut. Langkah Tami goyah. Ujung sepatunya meleset sedikit di anak tangga, tubuhnya limbung sepersekian detik, dan refleks Kavi langsung bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri.

Dua tiga anak tangga dilompati sekaligus. Tangannya terulur dan langsung melingkar di pinggang Tami dari belakang sebelum tubuh perempuan itu benar-benar jatuh.

Tami tersentak. Ia menoleh cepat dengan napas tertahan, matanya membesar saat mendapati wajah Kavi begitu dekat di belakangnya. Tangan pria itu masih menahan pinggangnya erat. Dan selama beberapa detik, keduanya sama-sama diam. Tangga sempit itu mendadak terasa terlalu sunyi. Tatapan mereka bertemu. Kosong. Seolah otak keduanya sama-sama terlambat mengejar apa yang baru saja terjadi.

Kavi yang lebih dulu tersadar langsung menarik tangannya cepat-cepat. “Lu nggak apa-apa kan?”

Tami hanya mengangguk kecil. Namun matanya masih terus tertahan di wajah Kavi yang kini berdiri di anak tangga yang sama dengannya. Dekat sekali. Jarak di antara mereka tinggal sedikit.

Napas hangat Kavi samar terasa di wajahnya. Dan entah sejak kapan, udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih panas.

Kavi memperhatikan Tami beberapa detik tanpa bicara. Mata perempuan itu sembab. Wajahnya pucat. Lalu perlahan, kedua tangan Kavi kembali terangkat. Telapak tangannya menyentuh pipi Tami pelan. Hangat.

Tami langsung menahan napas. Kavi sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya sambil terus menatap mata Tami lekat-lekat tanpa berkedip.

Degup jantung Tami langsung kacau. Matanya mengedip cepat. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara yang keluar. Dan seketika, ingatan tentang lorong gedung di acara Raina kembali menyeruak ke kepalanya,  saat Kavi sempat bergerak mendekat seperti ingin menciumnya.

Dadanya langsung menegang. Apa sekarang akan terjadi lagi?

Namun bibir Kavi akhirnya bergerak pelan. “Lu lagi sakit?”

Seketika memukul mundur halusinasi Tami.

Lihat selengkapnya