AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #25

25. Alasan yang Dicari

Begitu membuka pintu rumah, Raina langsung disambut wajah Tami yang sedang nyengir lebar.

Sebenarnya ia memang tak benar-benar marah. Ia hanya pura-pura kesal karena sebagai tamu penting di acara baby shower, Tami malah kabur tanpa pamit dan menghilang berhari-hari tanpa penjelasan. Namun melihat wajah sumringah itu, hati Raina langsung melunak. Sudah lama ia tak melihat Tami tersenyum seperti ini.

Jadi untuk sementara, ia memutuskan mengurungkan niat menghukum sahabatnya itu. Meski diam-diam, rasa bersalah justru mulai mengusik dadanya. Karena ia tahu, senyum di wajah Tami mungkin akan segera hilang setelah mendengar apa yang ingin ia sampaikan hari ini.

Awalnya Raina memang berniat menemui Tami untuk membahas kepergiannya di acara baby shower. Namun setelah siang tadi mendatangi Duna di rumah sakit, percakapan itu mendadak terasa tak penting lagi.

Pagi tadi, setelah menghubungi Tami, Raina sempat menelepon Duna. Namun yang mengangkat justru Tria, suaminya. Suara pria itu terdengar begitu putus asa sampai membuat Raina langsung merasa tak enak.

Dengan berat hati, Tria meminta bantuannya untuk bicara dengan Duna yang ternyata semalam masuk UGD karena percobaan bunuh diri semalam.

Kini, untuk pertama kalinya, Raina akhirnya tahu apa yang sebenarnya sedang dihadapi Duna selama ini.

Meski ia bisa memahami rasa kecewa Tami dan tak sepenuhnya membenarkan sikap Duna, setelah mengetahui kondisi sahabatnya itu, Raina merasa ia harus membuat Tami mengerti juga. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum Tami menyesal di kemudian hari.

“Yiran mana?” tanya Tami begitu masuk ke ruang tamu.

Pertanyaan itu keluar otomatis, sama seperti setiap kali ia datang ke rumah ini.

“Lagi anter Mamanya ke dokter,” jawab Raina sambil berjalan pelan mengikuti Tami ke sofa. Tangannya menopang punggung bawah sesekali. Perutnya yang semakin besar membuat langkahnya kini jauh lebih hati-hati dibanding dulu.

“Mertua lu sakit?” Mata Tami langsung membesar penuh khawatir.

Raina buru-buru menggeleng. Ia tersenyum kecil sambil duduk perlahan. “Cuma periksa mata aja. Katanya akhir-akhir ini kacamatanya udah nggak nyaman.”

Ia mengembuskan napas panjang begitu berhasil menyandarkan tubuh di sofa.

Tami otomatis memperhatikan sahabatnya itu sebentar. Cara Raina bergerak sekarang jauh lebih lambat. Napasnya lebih pendek. Dan entah kenapa, melihatnya seperti itu membuat dada Tami terasa hangat sendiri.

Sementara itu, Raina diam-diam justru sedang memperhatikan Tami. Hari ini wajah sahabatnya terlihat terang. Terlalu terang sampai sulit disembunyikan. Sudut bibirnya terus seperti ingin tersenyum bahkan saat sedang diam.

Raina langsung menyipit curiga. Ia mengambil bantal kecil lalu menyelipkannya di belakang pinggang sebelum memiringkan tubuh sedikit menghadap Tami. “Kayaknya lu lagi happy.” Tatapannya makin menyelidik. “Ada sesuatu ya?”

Tami langsung melirik kecil sambil mengangkat bahu. Lalu tanpa sadar senyum di bibirnya melebar sendiri. “Gue balikan sama Kavi.”

“What?!” Raina spontan memekik. Matanya langsung membulat besar. “Serius?! Kok bisa?!”

Tami terkekeh kecil. Wajahnya benar-benar terlihat malu sekaligus bahagia sekarang. “Terjadi gitu aja…” gumamnya sambil menunduk sebentar. “Dalam waktu singkat banyak banget yang kejadian.”

Ia mulai menggeser posisi duduknya, ikut memiringkan badan menghadap Raina seperti anak kecil yang tidak sabar mau cerita panjang. “Gue akhirnya tau apa yang terjadi lima tahun lalu.” Matanya berbinar. “Kenapa Kavi selalu dekat sama Lisa, alasan kalian putus dulu…”

Napasnya sedikit tercekat sendiri karena terlalu semangat. “Literally everything.”

Raina langsung terdiam. “Waa…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Ia memperhatikan Tami beberapa detik tanpa berkedip. Bertahun-tahun melihat Tami lebih sering terlihat murung, akhirnya sekarang perempuan itu tampak benar-benar hidup lagi. Sorot matanya kembali terang. Senyumnya terlihat ringan.

“Gue ikut seneng buat lu.” Suara Raina melembut tulus. Tangannya langsung terulur memeluk Tami erat. “Serius.”

Tami langsung membalas pelukannya sambil tertawa kecil lega. “Thanks, Na…” Pipinya menempel sebentar di bahu sahabatnya. “Untung gue masih punya lu buat cerita beginian.”

Kalimat itu membuat ekspresi Raina berubah samar. Dan seketika ia teringat alasan sebenarnya kenapa tadi menghubungi Tami datang ke rumah.

“Tam…” Nada suaranya berubah jauh lebih hati-hati sekarang.

Tami langsung melepaskan pelukannya perlahan lalu menatap Raina.

“Lu nggak mau baikan sama Duna?”


Senyum di wajah Tami langsung memudar pelan. Ia menatap Raina sedikit lebih lama. Mencoba membaca sesuatu di wajah sahabatnya. “Lu tau sesuatu ya?”

Tebakannya langsung tepat sasaran. Raina mengangguk kecil.

“Gue udah tau tentang Duna.” Ia menarik napas panjang sebelum lanjut bicara. “Dia cerita semuanya ke gue.”

Tami tetap diam. Namun rahangnya perlahan mengeras. Pikirannya langsung penuh oleh terlalu banyak emosi sekaligus. Bingung. Kesal. Muak. Dan entah kenapa… lelah. Ia tidak mengerti kenapa Duna memilih cerita ke Raina. Tidak mengerti kenapa itu justru membuat dadanya terasa makin sesak.

Melihat ekspresi Tami mulai berubah, Raina buru-buru menggenggam tangannya. “Dia baru cerita tadi siang,” jelasnya cepat. “Gue juga baru tau semuanya.”

Lihat selengkapnya