AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #28

28. Fatamorgana Kebahagiaan

Begitu memasuki restoran, Tami langsung menemukan Duna duduk sendirian di meja dekat jendela.

Namun saat berjalan mendekat, langkahnya perlahan melambat.

Duna duduk menunduk dengan wajah sebagian tertutup rambut. Sesekali perempuan itu menyeka pipinya cepat-cepat menggunakan punggung tangan.

Tami langsung tahu, Duna sedang menangis diam-diam.

Suara gesekan kursi membuat Duna mengangkat kepala. Begitu melihat Tami duduk di hadapannya, ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela lalu mengusap wajah asal dengan kedua tangan, seolah berusaha memastikan tak ada bekas air mata tertinggal di pipinya.

Setelah itu ia berdehem pelan, memaksakan senyum, lalu menatap Tami. “Hai,” sapanya lirih.

Namun mata sembabnya membuat sapaan itu terasa jauh lebih rapuh daripada biasanya.

“Lu kenapa?” tanya Tami khawatir.

Di perjalanan menuju restoran tadi, Tami merasa sangat bersemangat. Ia membayangkan semuanya akhirnya bisa kembali normal dengan Duna, mereka bisa bercanda dan saling menggoda seperti dulu. Namun begitu melihat keadaan sahabatnya sekarang, semua bayangan itu langsung runtuh. Kondisi Duna jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

“Gue denger lu masuk rumah sakit.”

Selama berhari-hari, Tami sudah mati-matian menahan diri untuk tak langsung menanyakan keadaan Duna. Sesekali ia hanya bertanya lewat Tria, dan kakaknya selalu menjawab singkat seperti, “Baik-baik aja,” atau, “Udah lebih baik,” tanpa penjelasan tambahan yang bisa membantu Tami menebak keadaan sebenarnya.

Tapi sekarang, setelah melihat sendiri dengan mata kepalanya, Tami yakin selama ini Tria hanya pura-pura tegar. Karena Duna jelas jauh dari baik-baik saja.

Wajahnya pucat dan lesu. Tatapannya sayu. Tubuhnya pun tampak semakin kurus dan ringkih. Padahal baru beberapa hari sejak pertemuan terakhir mereka, tetapi perubahan Duna terasa begitu drastis sampai Tami merasa mungkin ia tak akan mengenalinya kalau berpapasan di keramaian. Dan melihat keadaan itu, Tami bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan kakaknya sekarang.

“Lu sebenarnya kenapa, Dun?” tanyanya pelan penuh prihatin.

Duna menggeleng sambil kembali memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, kok.”

Padahal siapa pun yang melihat pasti tahu dirinya sedang kacau.

“Selamat ya,” lanjutnya tulus. “Katanya lu balikan sama Kavi.”

Ia berusaha terdengar senang, tetapi wajah muram dan tubuh lemahnya tak punya tenaga untuk benar-benar menunjukkan kebahagiaan.

“Em.” Angguk Tami, masih mengamati Duna yang kelihatan mengkhawatirkan.

Ia ingin mendesak, bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Duna katanya mencoba bunuh diri, apa yang membuat keadaannya menjadi mirip mayat hidup begini. (*cerita lengkap di ASNIGHTFALLBY)

Tapi semua ditahan di ujung mulut, buru-buru ditelan bulat-bulat. Dia sudah bertekad, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang tidak memaksa keingintahuan.

“Gue mau minta maaf,” tuturnya kemudian. “Selama ini gue egois pengen tahu semua masalah lu dan Tria. Berpikir lu gak mau cerita ke gue karena gak cukup percaya sama gue.” Ia menarik nafasnya dalam-dalam. “Maafin gue yang kekanak-kanakan.”

Mendengar itu, Duna tak bisa menahan air matanya untuk kembali mengalir. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam tangan Tami. “Enggak,” gelengnya. “Gue yang salah gak mikirin gimana perasaan lu, maafin gue.”

Tami membalas genggaman lemah Duna. “Mungkin kalau dulu gue gak mati-matian nentang perasaan lu sama Tria, lu bakal bisa terbuka sama gue,” sesalnya tulus. Ikut menangis. “Gue nyesel udah egois sama lu. Gue gak tau kalau beban yang lu tanggung segede itu.”

“Nggak, kok. Lu nggak salah apa-apa.” Geleng Duna.

Duna kemudian menceritakan secara terang-terangan apa yang dirinya alami selama ini, hal-hal traumatis yang masih membuatnya kesulitan berkata-kata itu, akhirnya ia sampaikan ke Tami. Ia juga menjelaskan alasan dirinya memutuskan untuk menikah dengan Tria, betapa beratnya hari demi hari dia lewati dengan ketergantungan obat penenang dan obat tidur, dan bagaimana hal-hal itu begitu mencekik hingga sulit diungkapkan ke siapapun.

Duna juga menjelaskan apa yang terjadi lima tahun lalu. Tentang dirinya yang sebenarnya tidak tahu perihal situasi Julian, Tria dan Kavi. Yang ia tahu hanya, saat di acara lamaran Raina, Tami kelihatan begitu frustasi.

Oleh karenanya setelah beberapa waktu kemudian, dirinya yang tak sengaja bertemu Julian di dekat rumah, mendapati pria itu tahu tanggal keberangkatan Kavi, sedangkan setelah ia memastikan, sedangkan Tami tidak, ia merasa perlu memberitahu.

Tak punya niat lain selain itu, sama sekali tidak berpikir kalau hal yang ia lakukan justru menjadi pemicu yang membuat kandasnya hubungan Tami dan Kavi.

Ia teramat menyesal akan keputusannya, dan akhirnya memilih untuk tak pernah membahas hal itu di hadapan Tami. Bukan karena membantu Tria dan Julian menyembunyikan rincian kejadiannya. Dia bahkan baru tahu belakangan, setelah Tami mengamuk ke Tria malam itu.

Mendengar kisah Duna seutuhnya, Tami menunduk dalam.

Wajahnya berderai air mata, tangannya yang gemetar menggenggam tangan Duna lebih erat. “Maafin, maafin gue yang gak tau apa-apa dan malah marah sama lu.”

Kebalikan Tami, Duna yang akhirnya menceritakan semua rahasia yang ia pendam itu, malah kelihatan lebih tenang. Ia tersenyum tipis, menepuk-nepuk tangan Tami yang menggenggam tangannya. “Gue yang minta maaf, udah bikin lu kesel banget.”

“Nggak apa-apa,” Tami mengangkat wajahnya, kini ia dengan jelas bisa memahami posisi Duna, dan satu-satunya orang yang lebih banyak salah disini adalah dirinya.

Lihat selengkapnya