AS YEARS GO BY

Arisyifa Siregar
Chapter #29

29. Ketiadaan yang Tak Bisa Diterima

Tami meninggalkan kantor dengan wajah berseri. Ia menyapa semua orang yang dilewatinya dengan ramah dan ceria, seolah akhir pekan di depan mata adalah hal yang sudah lama ia nantikan.

Langkahnya ringan, senyumnya hidup. Padahal malam itu ia termasuk orang terakhir yang masih berada di kantor. Namun sikapnya justru memperlihatkan seolah ia sangat menikmati kesibukannya di sana dan tak keberatan menghabiskan waktu lebih lama untuk bekerja.

Semuanya tampak normal. Ia bahkan masih sempat menyapa satpam gedung saat melewati lobi dan menengadah sebentar menatap langit malam yang kosong tanpa bintang sebelum masuk ke dalam taksi online.

Namun begitu pintu mobil tertutup, seluruh keceriaannya langsung luruh.

Auranya berubah seratus delapan puluh derajat.

Wajahnya mendadak dingin. Tatapannya kosong, mengarah ke luar jendela mobil yang perlahan menjauh dari gedung kantor, tanpa benar-benar melihat apa pun. Bahkan mungkin tak ada bedanya jika matanya terpejam.

Sepanjang perjalanan, Tami diam seribu bahasa. Suara radio bervolume sedang yang diputar sopir taksi pun tak mampu memecah keheningan yang menggigit. Seolah dunia di sekitarnya ikut membisu bersama pikirannya yang sudah terlalu lelah. Bibirnya terkatup rapat. Kedipan matanya lambat. Langit malam ini terasa sama kosongnya dengan hatinya.

Sekitar satu setengah jam kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan ruko tujuan.

Tami turun sambil mengucapkan terima kasih singkat dengan nada datar, lalu berjalan pelan menuju pintu.

Di depan pintu, ia sedikit menunduk dan memasukkan kode sandi yang sudah dihafalnya di luar kepala. Pintu besi dan kaca itu terbuka dengan suara derit samar karena terlalu lama jarang digunakan.

Dengan langkah berat, Tami masuk ke dalam klinik yang gelap gulita. Sama seperti hari-hari sebelumnya, sepulang kerja ia selalu menyempatkan diri datang ke tempat ini, sekadar memastikan apakah harapannya akhirnya menjadi kenyataan.

Namun lagi-lagi ia dipaksa sadar bahwa semuanya masih sama seperti terakhir kali ia pergi. Orang yang ditunggunya masih belum datang.

Ia menyalakan lampu sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Hawa dingin dan hampa langsung menyeruak ke dadanya. Bau debu dan lembap mulai kembali memenuhi udara, menusuk hidung, padahal belum lama ini ia sudah susah payah membersihkan setiap sudut klinik agar jamur tak cepat muncul lagi.

Dalam sunyi, ia melepas jaket dan menyampirkannya di sandaran sofa. Gerakannya terasa otomatis, seperti sesuatu yang dilakukan berulang kali tanpa sadar.

Seperti biasa, ia langsung berjalan ke pantry dan mengambil vacuum cleaner di lemari penyimpanan. Dan setelah menghidupkannya, ia mulai berkeliling membersihkan debu yang terlihat sambil melamun.

Sesekali ia berhenti untuk menghela napas berat dan menyeka keringat di dahinya. Namun jeda itu tak pernah lama. Ia kembali bergerak menyusuri tiap sudut ruangan dalam diam. Tak ada suara selain dengung vacuum cleaner di tangannya.

Setelah lantai satu selesai, Tami mengangkat alat itu ke lantai dua. Dan semakin dekat langkahnya menuju kamar di ujung lorong, semakin berat perasaan di dadanya.

Seperti biasa, begitu berdiri di depan pintu kamar dan membuka gagangnya perlahan, rasa sesak langsung menghantam tanpa ampun.

Tangannya mulai gemetar mencengkeram vacuum cleaner lebih erat. Rahangnya mengatup kuat, menantang ruangan kosong di hadapannya sambil memaksa dirinya untuk tetap tegar.

Ia melangkah masuk dan mulai membersihkan lantai kamar.

Kali ini sambil bersenandung pelan asal-asalan demi mengisi sunyi yang terasa begitu dingin dan tak bersahabat. Pikirannya terlalu kosong untuk benar-benar mengenali lagu yang sedang ia gumamkan.

Namun begitu sampai di depan ranjang, langkahnya mendadak terhenti. Kakinya tak bisa bergerak lagi. Air matanya mulai jatuh satu per satu, sementara genggaman tangannya perlahan melemah.

Setelah menatap ranjang itu beberapa detik, seluruh tenaga yang tadi dipaksanya bertahan akhirnya benar-benar runtuh. Dengan kaki lunglai, ia merambat lalu duduk di pinggir kasur.

Tatapannya kosong menyapu sekeliling kamar, sementara tangannya masih memegang vacuum cleaner yang terus menyala tanpa sadar.

Kejadian di kamar ini terasa seperti baru kemarin, bagaimana Kavi mengungkapkan perasaannya, bagaimana mereka bercumbu hingga akhirnya ketiduran bersama, bagaimana akhirnya ia merasakan cinta tak bertepuk sebelah tangan untuk pertama kalinya. Semua ingatan itu, yang awalnya masih segar, kini perlahan namun pasti, pudar dan menjauh.

Kadang ia sulit mengingat ucapan Kavi saat menyatakan cinta, kadang ia ragu bagaimana cara Kavi memeluknya. Makin hari ia makin takut, bagaimana kalau dia akhirnya tak bisa mengingat setiap rinci kejadian itu? Bagaimana kalau ia sudah tak lagi merasa bahagia saat mengenang momen itu?

Pahit muncul di dalam mulutnya, dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh. Sisa-sisa kenangan yang muncul dalam ingatannya menjelma menjadi racun yang menjerat batin. Pelan-pelan kehilangan keindahan itu dan berubah menjadi mimpi buruk.

Satu hari,

Dua minggu,

Tiga bulan,

Lima bulan sudah berlalu, sejak kepergian Kavi mencari orang tuanya.

Kavi memang sudah menjelaskan kalau dia kemungkinan akan sulit dihubungi, tapi Tami tak pernah menyangka pria itu malah seakan ‘menghilang’ dari permukaan bumi.

Dia berjanji akan segera kembali. Tapi lima bulan sudah Tami tak mendapat kabar.

Ia bahkan sudah berkali-kali menghubungi Lisa yang diharapkan tahu dimana dan bagaimana keadaan Kavi. Sayangnya Lisa sama bingungnya. Ia mengatakan dirinya hanya menyerahkan semua informasi yang ia dapat ke Kavi, selebihnya, Kavi yang menghubungi dan berkoordinasi dengan orang yang ingin ditemuinya.

Saat Tami mencoba menghubungi kontak orang yang Kavi temui, ia tak mendapat jawaban apapun. Nomor itu bahkan tak terdaftar saat di telepon. Semua pesannya gagal terkirim.

Lima bulan ini terasa seperti pasang surut untuk Tami.

Ia melakukan apapun untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik, ia mulai dengan memangkas pendek rambutnya, pergi ke gym untuk menghabiskan waktu berolahraga, mendatangi semua restoran yang makanannya ingin ia coba, dan puluhan usaha membuang waktu lainnya.

Namun semua percuma.

Ia masih tersiksa, masih tenggelam dalam rindu yang perlahan-lahan mengambil nafasnya. Setiap kali membuka mata dari tidurnya yang singkat, ia tersiksa karena merasa tak tahu lagi harus melakukan apa untuk bertahan hidup sehari lagi dengan perasaan mencekik itu.

Tapi ia tak mampu menceritakan perasaannya itu pada siapapun. Tak bisa menyuarakan dengan lantang perasaan yang menyiksanya itu.

Tidak pada Mia yang akan memaki Kavi dan mengatakan. ‘Tuh bener kan yang gue bilang.” Tidak ke Raina yang sibuk mengurus bayinya. Apalagi ke Duna, yang baru saja pulang dari rehabilitasi dan sedang meniti kehidupan baru.

Selain Lisa, satu-satunya orang yang Tami hubungi untuk memastikan keberadaan Kavi adalah Luna, kakak angkatnya.

Lihat selengkapnya