Tiga bulan kemudian…
Tami bersama dengan Mia, dan Astrid memasuki restoran Julian untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Sejak menolak perasaan Julian, Tami memang tak pernah menginjakkan kakinya di restoran itu lagi. Tapi semenjak mereka kembali berhubungan beberapa bulan ini, ia akhirnya bisa mencampakkan perasaan berat yang ia miliki, untuk menyambangi tempat yang makanannya selalu membuat seleranya tergugah ini.
Julian langsung menyambut kedatangan Tami dengan senyum sumringah. Dia sudah menyisakan satu meja di pojok terdalam restoran untuk mereka bertiga. Mengantar dengan gerak tubuh penuh sopan santun, seakan mereka adalah tamu kehormatan.
“Kalau udah mau pesen panggil aja, ya,” kata Julian kemudian pamit undur diri.
“Waaa!” Kagum Astrid begitu duduk di kursinya. “Aku udah lama mau kesini loh, tempat ini kan viral akhir-akhir ini, chef-nya dari italia, ganteng banget, terus makanannya enak.”
“Oh gitu?” tanggap Mia, matanya menyisir ke seluruh area restoran yang memang ramai pengunjung. “Baru tau gue,” gumamnya kagum, sambil melihat-lihat buku menu.
Tami melipat kedua tangannya di perut sambil menyandarkan punggung lalu menoleh ke arah luar. Lewat jendela yang tak jauh dari meja mereka, ia melihat sosok Julian yang tampaknya sedang berjongkok di area samping. Tiba-tiba penasaran apa yang sedang pria besar itu lakukan di gang sempit begitu.
“Bentar ya, gue keluar bentar,” ucapnya ke Mia dan Astrid, lalu beranjak.
Mia dan Astrid saling melempar pandangan.
“Lu juga ngerasa?” tanya Mia, seolah bisa membaca pikiran Astrid.
Astrid mengangguk. “Beberapa bulan ini Mba Tami kayaknya deket sama Mas Julian, dia udah nggak pernah keliatan mikirin Mas Kavi.”
Mia mengangguk setuju, melemparkan pandangannya ke luar jendela. Melihat Tami yang menyambangi Julian dan ikut berjongkok di hadapannya. “Gue harap Tami sama Julian aja.”
Meski tak tahu alasan pasti Mia mengatakan itu, Astrid pun merasa setuju. Karena Julian selalu terlihat penuh perhatian dan dewasa. Kalau ada orang yang bisa menyelamatkan Tami dari keterpurukan, Julian adalah orang yang tepat.
Tami berjongkok memandang anak kucing berwarna abu-abu yang sedang diberi makan ikan di piring kecil oleh Julian. Tak menyangka pria sebesar Julian, dengan wajahnya yang teramat maskulin, ternyata suka mahluk mungil imut-imut.
Dia mengamati bagaimana Julian mengelus lembut bulu kucing dengan jari telunjuk, seolah sedang berusaha keras agar tangan besarnya tak bergerak terlalu kasar di tubuh ringkih kucing itu. Kedua makhluk di hadapannya ini, terlihat sangat kontras namun entah mengapa menggemaskan.
“Udah lama dia disini, Kak?” tanya Tami.
“Lumayan,” sahut Julian, sambil terus menatap dan mengelus kucing itu dan tersenyum tipis. “Kayaknya ibunya kucing yang waktu itu meninggal ketabrak mobil di depan sana.”
“Ah.” Tami merasa tambah kasihan dengan kucing ini. Tangannya terulur, ingin ikut membelai, tapi tanpa sengaja malah bersentuhan dengan tangan Julian.
Pria itu kelihatan mengerjap, tangannya ditarik, dan segera berdiri.
Di mata Tami, kelihatan jelas lagi-lagi Julian sedang menjaga jarak.
Selama tiga bulan ini Julian sering mengirim chat untuk menanyakan kabar dan keadaan Tami, tapi setiap kata yang ia pilih, terasa sangat hati-hati. Seakan pria ini tak ingin Tami terasa terbebani, seperti dia berusaha keras tak menunjukkan perhatian yang berlebihan dan membuat Tami tak nyaman.
Padahal setiap kali bertemu, baik di rumah, saat Tami mengunjungi Duna, dan Julian mengunjungi Tria. Atau kesempatan-kesempatan lainnya, yang entah mengapa terus berdatangan tanpa sengaja, Tami bisa melihat dengan jelas dari sorot mata Julian, pria ini masih menyukainya seperti dulu.
“A-aku, balik ke dapur dulu. Kamu udah mesen makanan?” Julian tergagap, matanya sibuk melihat kesana kemari, karena wajahnya tersipu dan ia malu menatap Tami.
“Kak!” panggil Tami.
“Hm?” Julian menahan langkahnya.
Tami mengangkat tubuhnya, ikut berdiri, dan kini mereka berhadapan.
“Weekend ini, ada acara?”
Mata Julian membesar. “Aku?” tanyanya tak percaya. “Nggak ada. Kenapa?”
“Mau jalan-jalan?” tanya Tami santai, matanya memandang ke langit yang cerah. “Aku akhir-akhir ini lagi pengen liburan.”
“Ha?” Julian makin tak percaya. Ia terdiam sejenak, mencoba memahami ucapan dan gelagat Tami. Tapi sebagai pria dewasa, tak butuh banyak waktu baginya untuk menyadari, kalau sikap dan perkataan Tami saat ini adalah lampu hijau baginya. Sesuatu yang tak boleh terlewatkan dan harus segera ia raih. “Mau glamping?” tanyanya kemudian.
“Glamping?” Tami kembali menatap Julian, “Nginep berarti?”
“Iya, tapi jangan khawatir, kamarnya pisah, tempatnya juga ramai, banyak kegiatan lainnya kayak arung jeram, petik bunga, berkuda,” berondong Julian, kelihatan panik, tak ingin Tami salah paham dengan ajakannya.
“Pft!” Tami mendesiskan tawa. “Oke, ayo!” sambutnya positif.