Dua bulan kemudian…
Tepuk tangan meriah dihadiahkan untuk Tami yang berdiri di atas panggung dan menerima penghargaan karyawan dengan kinerja terbaik tahun ini. Dengan mengenakan A-Line dress berwarna mustard, ia berjalan ke podium. Mengucapkan terima kasih pada seluruh timnya yang membantu pekerjaannya selama ini. Terutama Mia dan Astrid yang paling direpotkan olehnya.
Mia dan Astrid mengacungkan jempol dan bertepuk tangan paling kencang saat Tami turun dari panggung.
“Traktir, traktir!” cetus mereka waktu Tami kembali ke kursinya.
“Pilih tempatnya!” bisik Tami sombong, membuat Astrid dan Mia langsung heboh mencari tempat makan yang akan mereka tuju untuk memalak Tami habis-habisan.
“Aku dah kirim fotonya ya!” bisik Astrid setelah mengirimkan Tami foto dia yang tengah menerima penghargaan di atas podium.
“Thanks!” Tami mengecek foto dari Astrid dan langsung meneruskannya ke Julian sambil tersenyum.
Dan sebagai seseorang yang selalu sigap, seperti ponselnya tak pernah bergeser dari depan mata, Julian langsung mengetik balasan.
“Waaaah! Selamat! Cantik banget! Selamat ya! Makan-makan di restoran aku aja, aku siapin sekarang juga!” katanya dengan banyak emoji senyum, hati, dan makanan di akhir chat-nya. Entah bagaimana tahu kalau sekarang Tami sedang dipalak traktiran.
Tami menepuk bahu Astrid dan Mia dengan sumringah. “Kita makan di tempat Julian aja!” bisiknya.
Mata Astrid dan Mia langsung berbinar, keduanya mengangguk setuju tanpa perlawanan. Tami pun langsung mengetik balasan lagi. “Kita kesana setengah jam lagi ya.”
Tapi setelah mengirim pesan itu ke Julian, wajah Tami mendadak kosong.
Matanya terpaku menatap ke layar ponsel, mulutnya rapat.
“Ayo langsung berangkat abis foto-foto!” tepuk Mia, menyadarkan Tami.
“Em.” Angguk Tami langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak ingin memastikan apa yang sekilas dia lihat tadi, yakin diri hanya salah lihat.
“Selamat datang! Silahkan duduk!” Julian langsung mengantarkan Tami dan teman-temannya ke salah satu meja paling besar yang sudah ditandai reservasi.
Astrid, Mia dan anggota tim lainnya duduk terkesima melihat penuhnya restoran tidak main-main. Tami duduk sambil mengucapkan terima kasih ke Julian yang mengedipkan matanya sambil mengangguk.
“Ditunggu ya, gak usah pesen makanannya, semuanya udah kita siapin!” ujar Julian langsung membuat semua orang di meja Tami kegirangan.
Lalu pria itu menyentuh lengan Tami singkat, pamit kembali ke dapur karena masih ada pekerjaan yang harus diurus. Tami mengangguk dan mengucap terima kasih sekali lagi.
Selepas Julian tak terlihat lagi, Fira yang duduk di sebelah Astrid menjulurkan lehernya untuk menoleh ke Tami. “Pacar Mbak Tami, ya?” tanyanya.
Bibir Tami melengkungkan senyum, matanya menyipit, dan ia mengangguk.
“Aaaak keren banget!” pekik Fira dan beberapa orang lainnya di meja.
Kecuali Astrid dan Mia yang tersenyum penuh kelegaan.
“Aku ke toilet bentar ya,” pamit Tami, bergegas bangun.
Di dalam toilet ia terdiam di depan cermin, membuka ponselnya dan mengecek aplikasi chat. Padahal dia sudah memutuskan untuk tak mengecek, tapi sepanjang jalan tadi ia terus kepikiran. Jadi ia hanya memastikan kalau dirinya salah lihat.
Tapi ternyata ia tak salah.
Chat nya ke Kavi bertanda sudah dibaca.
Ia menggulir layar sampai ke atas, semua chat yang selama hampir satu tahun ini dia kirim, tertanda sudah dibaca semua.