Julian menahan pergelangan tangan Tami yang hendak turun dari mobil. Sepanjang perjalanan pulang, hening menyelimuti mereka. Ia berusaha sekuat tenaga tak membahas pertemuan sore tadi, namun kecemasan terus menggerogoti pikirannya.
Awalnya ia merasa lega melihat Tami langsung menghampirinya, meninggalkan Kavi tanpa menoleh ketika ia panggil. Tapi perasaan itu memudar sepanjang perjalanan. Tami yang belakangan ini berangsur kembali ceria, kini membisu tak bersuara.
Ia sangat sadar bahwa ia tak akan pernah bisa mengalahkan posisi Kavi di hati Tami. Meskipun Tami sudah memilihnya, ia tak sepenuhnya percaya diri. Tahu betul siapa dirinya dan siapa Kavi. Dan kini kehadiran Kavi bukan lagi sekadar bayangan, pria itu kembali dan menjadi saingan nyata. Membuatnya resah memikirkan nasib hatinya.
Ia menghela napas panjang, mencari kata yang tepat. Ia ingin tahu isi hati Tami, namun tidak ingin membuatnya tertekan atau merasa bersalah.
Ia sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan Tami. Meskipun dalam hati sudah berjanji pada diri sendiri untuk menerima segala keputusan Tami, dan rela jika hanya dijadikan persinggahan, ia tidak bisa menampik rasa egois yang tak ingin Tami meninggalkannya. Rasanya tidak adil, setelah Tami susah payah membuka hati, kini sosok masa lalu itu kembali dan mengancam.
Melihat raut wajah Julian yang gusar, Tami tertegun. Dari tatapan tanpa katanya, ia bisa menebak kegelisahan di hati pria itu. Ia memaklumi rasa cemas yang Julian rasa. Ia juga mengakui bahwa pikirannya telah melayang dan teralihkan, sampai tak menyadari Julian sudah ia abaikan sepanjang perjalanan.
“Kalau ada apa-apa, aku pasti cerita,” ucap Tami, mencoba menenangkan.
Ia tak bisa menjanjikan apa pun selain itu. Baginya, Julian sosok berharga yang ingin dia jaga. Apa pun yang ia rasakan, melindungi perasaan Julian kini menjadi prioritasnya.
Julian mengangguk, mempercayai Tami sepenuhnya. Sejak awal memang bukan Tami yang ia sangsikan, melainkan kepercayaan dirinya sendiri.
“Ya udah, kamu istirahat ya. Besok pagi aku jemput lagi.” Ia mengusap lembut kepala Tami.
Tami tersenyum sambil mengangguk singkat. “Night!” seru Tami sambil melambaikan tangannya dan turun dari mobil.
“Bye!” balas Julian, masih memandangi Tami yang sedang berjalan masuk ke dalam lift dan sekali lagi melambaikan tangan ke arahnya.
Begitu Tami menghilang di balik pintu lift yang tertutup rapat, Julian menarik napas panjang. Tubuhnya terasa berat dan penuh ketegangan. Tapi pikirannya tetap ia paksa tenang, sekuat tenaga meredam gelombang kecemasan yang mulai menyelimuti hati. Sembari tetap bersiap dan mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Meski begitu, apapun yang akan terjadi, apapun tindakan Kavi nanti, ia bertekad untuk tetap tak terpengaruh. Karena yang paling utama saat ini adalah Tami yang masih menggenggam tangannya, sebuah kehangatan yang harus selalu disyukuri, sesuatu yang tak boleh disia-siakan meski dunia tengah bergejolak.
Sementara di dalam lift, wajah Tami berubah tegang. Jantungnya berdegup keras, setiap ketukannya seperti menggetarkan seluruh tubuh.
Telapak tangannya mulai berkeringat menambah beban perasaan yang gugup di dada. Saat angka di panel lift menunjukkan angka dirinya akan segera tiba di lantai tujuan, ia menegakkan tulang punggung, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian, mempertegas tatapan.
Lift berhenti, pintu terbuka, dan begitu kakinya melangkah keluar, di hadapannya sudah tampak Kavi.
Tebakan tersebut benar. Kavi tidak akan pergi begitu saja setelah pengalaman pengabaian yang menghinanya tadi sore. Ia pasti sudah menunggu sejak tadi, bersembunyi di balik sikap pengertian sementara, menanti saat yang tepat untuk menagih jawaban yang ia mau.
Kali ini, Tami sudah sepenuhnya siap. Ia tidak lagi menghindar, tidak bersembunyi di balik pura-pura tak peduli seperti sebelumnya.
Dengan langkah mantap, ia mendekati Kavi lebih dulu.
Kavi yang sedari tadi bersandar di dinding langsung berdiri tegak.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, mereka saling memandang, diam yang berat menyelimuti.