Asa

Anjas Saputra
Chapter #2

BAB 2 : Kenangan masa lalu

Rendy, sosok pria berbadan tegap, berkulit kecoklatan dengan postur tubuh yang layaknya binaragawan. Wow, batin Vivi kala itu melihat Rendy untuk pertama kalinya.

Tidak hanya dari tampilan fisiknya saja, pencapaian yang diraih Rendy pun juga tidak kalah mengesankannya. Seorang lulusan salah satu kampus ternama seantero negeri, dengan predikat cumlaude nya, dan juga karir yang melejit pesat bahkan jauh sebelum dia wisuda. Bekerja pada sebuah perusahaan bertaraf nasional semakin memantapkan kasta Rendy sebagai salah seorang alumni tokcer.

Sementara Vivi? Dia bukanlah siapa-siapa. Bagai langit dan bumi apabila dirinya dibandingkan dengan Rendy? Dari awal Vivi dan Rendy menjejakkan kakinya di dunia perkuliahan, jalan hidup mereka sudah sangat bertolak belakang.

Kampus Vivi tidak setenar punya Rendy. Memang dari administrasi kampus masih seseklai sesumbar kalau mereka salah satu universitas terbaik di negeri ini. Cuman yah, kalau dari mulut-ke-mulut memang nama kampus Rendy jauh lebih sering terdengar di telinga orang daripada kampus Vivi.

Belum lagi perihal jurusan dan prestasi akademiknya. Jurusan Teknik Informatika yang dienyam oleh Rendy tentunya tidak sebanding dengan jurusan Keguruan yang didalami oleh Vivi. Tahu sendiri bagaimana naas betul nasib para alumni keguruan di negara ini.

Terkadang itu pula yang menyebabkan Vivi sesekali mempertanyakan Kembali mengenai pilihan studinya ini. Tapi mau bagaimana lagi, jurusan ini juga merupakan pilihan keduanya. Pilihan pertamanya sebenarnya jatuh pada Manajemen. Namun, nasib berkata lain dan Vivi pada akhirnya tidak mampu ke pilihan utamanya tersebut.

Walau begitu, Vivi masih bisa teguh dan berkeyakinan kalau memang rejeki tidak akan kemana. Apabila memang seseornag benar-benar ingin memperjuangkannya, maka rejeki itu juga akan datang padanya. Sulit terkadng untuk diucapkan dan diterapkan dengan baik-baik dan dalam-dalam di kepala Vivi ketika teringat akan keluarganya, namun hanya itu satu-satunya cara baginya untuk bisa meredakan kegusaran hatinya akan hidupnya yang tidak menentu.

Kembali lagi ke Rendy, awal pertemuan mereka tiba ketika Rendy datang ke sekolah tempat Vivi mengajar. Kedatangannya saat itu rupanya adalah bentuk undnagan dari kepala sekolah setempat yang bekerjasama dengan para alumni-alumni yang ada. Tentunya, hanya alumni yang berprestasi tinggilah yang mendapat undangan semacam ini.

Dan Rendy pun adalah salah seorang darinya. Apabila tidak salah, ada sekitar 4-5 orang yang diundang oleh pihak sekolah untuk bisa memberikan semacam gambaran, arahan, motivasi serta sesi tanya jawab yang ditujukan kepada para siswa SMA yang nantinya berminat untuk melanjutkan studi mereka, terutama yang hendak melanjutkan studi di kampus dan almet yang sama dengan para alumni-alumni tadi.

Kala itu, disaat sesi istirahat tiba, tidak sengaja Vivi berpapasan dengan Rendy. Kalau tidak salah, mereka berdua sedang mengantri di salah satu kantin sekolah yang dimiliki oleh Ibu-Ibu tua disana bernama Bu Pur.

“Bu Pur, yang kayak biasanya ya!” sahut perempuan itu dari kejauhan, melihat Bu Pur yang berada di dalam dapurnya yang cukup jauh dari tempat Vivi berdiri. Bu Pur dari kejauhan tidak menjawab sahutan dari Vivi, tetapi memberikan isyarat jempol yang menandakan dia paham makanan yang sering Vivi pesan.

Ketika Vivi hendak mengecek dompetnya untuk membayar, dia baru sadar kalau isi dompetnya membuat matanya terbelalak. Dia baru menyadari kalau di dalam dompentnya hanya berisikan dua lembar uang senilai Rp2000.

Dalam kebingungan , dirinya bertanya-tanya bagaimana bisa dia hanya menyisakan uang sesedikit tu di dalam isi dompetnya? Perasaan Vivi selalu cukup teliti dalam memantau arah kemana uangnya mengalir.

Panik, lantas Vivi mencoba untuk membuka hp nya. Dia barusan ingat kalau kantin Bu Pur mendukung fitur pembayaran via QRIS. Namun, hari apes memang tidak mengenal tanggal. Disaat yang sama pula, baterai hp nya suah drop, tidak bisa menyala sama sekali. Sementara dia saja tidak memiliki powerbank  yang bakalan berguna disaat genting seperti ini.

Melingak linguk ke arah belakang juga rasanya sia-sia saja karena ini hanyalah kantin sekolah, bukan café. Ya mungkin untuk kantin sekolah elit bisa saja sekelas café, tapi ya ini cuman sekolah biasa saja dimata Vivi.

Disaat itulah, lelaki bertubuh kekar yang sedari tadi berada di belakangnya mulai mengernyitkan dahinya dan bertanya pada Vivi,

“Kenapa mba?”

“Anu gapapa kok mas, saya cuman lagi kebetulan apes ga bawa uang. Mau bayar pake QRIS juga batere hp saya malah mati … “ Mata Vivi melihat kesana-kemari. Perhatiannya terbagi antara memperhatikan Bu Pur yang hmau selesai menyelesaikan pesanannya, sama meladeni laki-laki tersebut.

Lihat selengkapnya