Apakah ini sudah waktunya bagi Vivi untuk membuka hatinya? Setelah sekian lama dia menutup pintu bagi para lelaki lain di luar sana, yang ingin mencoba mendekatinya?
Tetapi, sukar dan menakutkan rasanya bagi Vivi untuk mengulang kisah yang sama tersebut. Sudah begitu lama sejak dirinya putus dengan Viki dan mencoba berdekatan dengan lelaki lain.
Bahkan hanya sekedar untuk bersapa saja, rasanya sangat berat bagi Vivi untuk lakukan. Bisa diibaratkan rasanya Vivi bagai seorang biksu yang sedang ingin menyendiri, bermeditasi di sebuah gua nan jauh disana, tanpa adanya gangguan dari luar sama sekali. Namun, tentunya hal semacam itu tidak akan mungkin dilakukan di zaman dan negara seperti ini.
“Kalau mba sendiri gimana?” kata-kata dari Rendy memecah konsentrasi dari Vivi. Sedari tadi dirinya bengong, menatap dan mendengarkan segala cerita dari lelaki bernama Rendy yang baru saja ditemuinya ini.
“Eh maaf, maksudnya mas? Maaf tadi kurang fokus saya”
“Maksud saya mba, mba nya sendiri ada cerita juga ga nih bisa sampai di sekolah ini gitu? Ga lucu kan ya masa saya doang yang dari tadi nyeloteh cerita, tapi mba nya ga dapat kesempatan gitu hehe” ujarnya dengan cekikikan kecil terukir di bibirnya.
Bagaimana Vivi menceritakannya? Cukup njlimet mungkin karena memang Vivi berada di jurusan keguruan ini bukanlah pilihan murninya. Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, Vivi jatuh ke pilihannya yang sekarang ini bukan merupakan keinginan utamanya.
Dirinya mulai menceritakan awal kali pertama dia mulai berkuliah di UNS. Menceritakan bagaimana sebenarnya dia lebih mendambakan jurusan Manajemen ketimbang Keguruan.
Hal itu tak lepas dari masukan lingkungan sekitarnya yang menganggap bahwa jurusan Manajemen dapat lebih banyak membuka opsi lapangan pekerjaan lebih luas daripada kalau jurusan Keguruan. Beberapa dari orang-orang yang Vivi kenal juga menyarankan apabila dirinya masuk saja ke jurusan Hukum.
Namun yah, Vivi menyadari kapabilitas otaknya yang sekecil itu. Membayangkan dirinya menghafal bejibun pasal dan ayat-ayat perundang-udangan yang bahkan tak mampu ia hafalkan saat UTS/UAS PKN tiba semasa sekolah, membuatnya cukup tegas kalau Hukum bukanlah jurusan yang nantinya dapat ia selesaikan dan jalani selama 4 tahun.
Akhirnya ketika pengumuman tiba dan ternyata dia masuk Keguruan, tepatnya Keguruan Bahasa Inggris, sedikit membuat Vivi cukup sedih. Kisah-kisah pilu yang ia tahu mengenai lulusan keguruan sedikit membuat dirinya bergidik ngeri mengenai bagaimana nasibnya kelak. Bagaimana ketika dirinya sudah lulus? Bagaimana dirinya mencapai cita-citanya untuk keluar dari jurang kemiskinan ini? Semua pertanyaan penuh kengerian ini begitu terpatri dalam di kepala Vivi, tanpa ada satupun celah untuk mengeluarkannya rasanya.
Vivi lantas melanjutkan ceritanya tentang bagaimana dirinya cukup kesusahan dan keteteran dalam menjalani kehidupan perkuliahannya yang jauh begitu berbeda ketika dirinya masih menyandang status sebagais “siswa”.
Status “mahasiswa” yang ia sandang ternyata membuatnya harus lebih mandiri lagi dalam mengatur jadwal perkuliahannya. Vivi tidak memahami akan hal itu dikarenakan latar belakang kedua orangtuanya yang memang tidak mengenyam jenjang perguruan tinggi. Sehingga, mau tidak mau Vivi harus sedikit-sedikit mempelajari arus dan pola perkuliahan.
Mulai dari mengatur jadwal sendiri, mengatur kelas mana saja yang ingin diikuti (ada kelas wajib dan opsional) dan tetek bengek lainnya seputar perkuliahan. Kagetlah Vivi saat itu, walau juga ada perasaan senang karena dirinya masih diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi seperti ini. Hal yang sebelumnya tidak pernah kedua orang tuanya rasakan sebelumnya.
Terlebih, Vivi bisa mencapai salah satu titik tertinggi dalam kehidupannya ini berkat dari bantuan pemerintah melalui program Beasiswa Bidikmisinya.
Melalui proses yang tentunya tidak mudah pula, karena kembali lagi dia sendirilah yang harus mengurusi semua permasalahan entah terkait registrasi, dokumen dan lain sebagainya sendirian. Orang tuanya tidak sanggup untuk menelan berbagai informasi mengenai Bidikmisi yang begitu cepatnya itu dalam kedipan mata.
Vivi masih begitu ingat kala dirinya harus mengubek-ubek segala penjuru rumah, dari satu sudut ke sudut lainnya untuk mencari berkas-berkas yang diperlukan. Berkas-berkas seperti tagihan listrik dan tagihan air minum (dalam kurun 3 bulan terakhir), serta berkas kepemilikan properti apa saja yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
Berkas-berkas yang seumur hidupnya -saat itu dirinya berumur 18 tahun- tidak pernah ia lihat dan genggam dengan mata kepalanya sendiri, harus ia kumpulkan sesegera mungkin sebelum tenggat pendaftaran tiba.
Selepas berkas-berkas tadi terkumpul, tidak begitu saja Vivi bisa bersenang hati dan tenang tidur leap. Dirinya masih harus menemui beberapa tokoh desanya seperti Ketua RT/RW bahkan sampai lurah pun perlu ia sambangi untuk mendapatkan surat keterangan bahwa dirinya dan keluarganya tidak mampu dan menginginkan untuk dibantu dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Belum selesai sampai disitu, dirinya juga perlu me nunggu adanya sidak dari pihak kampus untuk memverifikasi data diri dan berkas yang sudah Vivi kumpulkan sebelumnya.
Disinilah letak yang membuat Vivi sedikit gusar hatinya. Dirinya mulai jengah menunggu perwakilan dari kampus yang hendak melakukan sidak ke rumahnya. Bagaimana tidak, hari ke hari, minggu ke minggu hingga bulan berganti baru tidak kunjung datang keberadaannya.
Sampai dengan tenggat daftar ulang kampusnya tiba pun, Vivi masih belum mendapatkan kejelasan pasti dari perwakilan kampus untuk bisa memverifikasi data pengajuan beasiswa Bidikmisinya.
Akhirnya, dengan berat hati dirinya harus menerima kenyataan pahit apabila Vivi harus memulai lembaran baru di hidupnya sebagai mahasiswa dengan tuntutan biaya kuliah (UKT) yang tidak sedikit.
Yap, tidak sedikit. Nominal yang rasanya mungkin bagi beberapa orang akan terlihat kecil tapi bagi dirinya dan orangtuanya akan terasa begitu tinggi bagaikan Puncak Jaya Wijaya yang ada di Papua, nun jauh disana.
Walau begitu, dia masih berharap lebih apabila bantuan dari pemerintah nantinya akan tiba. Dan benar saja, beberapa bulan Vivi memulai perkuliahannya di UNS, tibalah perwakilan dari kampus yang ia tunggu-tunggu sedari dulu untuk melakukan survei ke rumahnya.
Dengan hidangan tempe goreng dan teh hangat, ia dan orang tuanya menyambut seorang pria berumur kisaran 50 tahunan itu. Beberapa pertanyaan mengenai keabsahan data diri hingga pemasukan yang dimiliki oleh keluarga Vivi pria itu tanyakan dengan detil. Dan orang tuanya satu persatu menjawab pertanyaan dari pria tersebut.
Hingga akhirnya dia bisa lolos verifikasi dan bisa berkuliah di salah satu universitas ternama tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun di semester-semester selanjutnya. Walau bagi Vivi, apabila dibandingkan dengan kampus milik Rendy, tentunya masih begitu jauh, jauhnya ibarat Anyer-Panarukan ajamn Daendels.
“Wah berarti kalau lewat Bidikmisi gitu susah juga ya. Cuman jadi enak kuliahnya karena hampir mengeluarkan 0% pengeluaran ya untuk biayanya mba”
“Heem, bisa dibilang begitu mas”
“Syukur ya masih ada sekiranya yang bisa diharapkan dari pemerintah di jaman yang sulit itu”
Kata-kata itu sontak membuat Vivi sedikit menahan gelak tawa. Satu tangannya menutup mulutnya, bersamaan dengan kedua matanya yang saling menutup karena saking tidak kuatnya dirinya menahan tawa.
Banyak orang di perkampungan Vivi yang kadangkala suka saling nyeletuk tentang pemerintah ini. Dari yang mulanya adu nasib karena sama-sama sependeritaan saling susah, menjadi ndagel nyalahin pemerintah berjamaah saking sudah muaknya mereka tidak ada yang menolong,
“Wooo, presiden gendeng! Rakyate susah malah apa-apa dilarangne!”
“Pemerintah iso ne korupsi tok, ngurus rakyat e pikir keri!”
“Suwi-suwi urip nang luar negeri mendingan ketimbang urip nang negara iki!”
Dari ketiga kalimat yang muncrat dari bapak-bapak berusia 50 tahunan ke atas yang sedang lesehan di sebuah pos gardu, semuanya memiliki makna yang sama. Butuhnya pertolongan dan rasa putus asa mereka kepada pemerintah membuat mereka tidak tahu menahu harus menyalurkan perasaan mereka selain dengan cara mengumpat dan mencaci maki tadi.
Terlebih juga, apa yang mereka katakan masih dalam ranah lingkup pribadi, tidak direkam maupun diunggah ke dalam sosmed yang nantinya malah akan jadi konsumsi publik. Mereka tahu, mereka hanya butuh pelampiasan sesaat. Mereka paham apabila mereka hal itu tidak akan menyelesaikan masalah atau penderitaan mereka.
Tetapi, setidaknya mereka bisa dapat merasakan rasa plong di kepala dan mulut mereka. Dan hal itu Vivi anggap lucu, terlebih Vivi juga besar di lingkungan yang rasanya untuk berbicara seperti itu, akan diganjar dengan tamparan di bibir.
Kalian tidak salah dengar, tamparan di bibir. Mungkin kalau jaman sekarang sudah viral masa kecil Vivi dengan sorot kamera televisi bersama KPAI yang getol mencoba menghilangkan budaya kekerasan fisik sebagai bentuk pembelajaran lewat konsekuensi.
Matanya kembali menatap ke arah Rendy. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain, tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Seolah rasanya keduanya sedang berlabuh di sebuah pulau cinta yang hanya dimiliki oleh mereka berdua semata.
Tanpa Vivi sadari, hati dan batinnya bergejolak kembali. Tubuhnya serasa menguap dan memanas, bagai air yang sudah diseduh sampai mendidih selama kurang lebih setengah jam.Nafasnya sedikit agak memberat, dan juga tanpa dia sadari pipinya mulai sedikit memerah.
Vivi mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya, tetapi itu semua hanya ada di dalam pikirannya saja. Kenyataannya, pandangannya masih terpaku pada lelaki itu. Padahal wajahnya tidak serupawan itu, tetapi ada nuansa dan kesan tersendiri yang seolah terpancar darinya.
Aura yang membuat Vivi merasang rindu. Kerinduan. Rasa kangen akan afeksi yang didapat dari lawan jenis yang sudah hampir ia represi dan lupakan begitu lamanya, seketika muncul kembali ketika Rendy mengajaknya berbicara.
Rendy yang menatap balik Vivi, hanya tersenyum sembari melahap kuah soto miliknya yang mulai mendingin karena bergilirnya waktu.
“Kalau dari murdi-murid disini, selama mba ngajar, kesannya gimana?” Rendy memecah keheningan dengan melontarkan pertanyaan pada Vivi.
“Kesan?”
“Iya, kesannya gitu. Secara saya dulu alumni sini dan saya cukup, gimana ya bukan bermaksud sombong, tapi cukup banyak mengangkat nama sekolah ini juga. Tidak sendirian tentunya, bersama angkatan saya saat itu.
Wow. Sekali lagi, hanya bisa berkata wow Vivi melihat Rendy menceritakan pencapaiannya yang begitu fantastis.