ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #1

Pagi Itu Di Pinggir Danau

Pagi yang dingin. Angin sepoi-sepoi menyibakkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Sudah seminggu berlalu sejak perpisahan itu terjadi.


Kanaya berjalan gontai. Kepalanya dia dongakkan, menatap langit yang mendung.


"Hampa ya..." gumamnya. Satu tetes air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.


"It's okay, Naya. Kalau kamu tetep pertahanin dia, kamu yang jahat sama dia, sama Allah, sama Tuhannya dia. Sama keluarganya."


Ia sudah tidak tahan lagi. Air mata itu jatuh semakin deras. Kanaya buru-buru menunduk. Langkahnya terhenti—di danau mini sebelah taman.


Selama ini Kanaya tahu bahwa segala yang datang bisa pergi. Namun mengetahui dan menerima ternyata adalah dua hal yang berbeda.


Kanaya duduk di bangku bawah pohon. Punggungnya ia sandarkan, kepalanya didongakkan, matanya terpejam erat.


"Aku tau kamu pasti di sini."


Suara itu, Kanaya kenal betul. Itu suara sahabatnya yang terdengar patah-patah dan sedikit khawatir.


Kanaya tidak berkutik, tapi dia bisa merasakan saat gadis itu duduk di sisi kanannya dan menggenggam jemarinya yang hangat.


"Ini masih pagi, Naya. Kamu demam."


"Kamu bilang kamu ikhlas kan? Kalau ikhlas berarti berhenti juga ke sini?"


Kanaya membuka mata, dia menoleh—menatap sahabatnya. "Tapi cuma ini yang bisa aku lakuin kan, Lia? Cuma ini yang tersisa... mengenang dia."


"Kamu bilang kamu gak mau merebut dia dari Tuhannya. Gak mau juga jadi murtad. Ya terus kamu mau gimana sekarang? Udah seminggu loh kamu tuh gini?"


Lia, nada suaranya terdengar frustrasi. Gadis berkacamata itu kesal dan mulai muak, namun juga iba.


Kanaya menatap Lia dalam. Penuh harap, dia menarik napas dalam. "Gak bisakah kasih aku waktu lebih lama lagi? Ini bener-bener gak mudah, Lia."


Lia menghela napas pasrah. Dia yang semula duduk menyerong ke arah Kanaya, kini mengubah posisinya jadi menghadap depan. Melihat tengah-tengah danau, airnya nampak tenang, meski sesekali angin bertiup sedikit kencang.


"Aku tau rasanya jadi kamu..." ujar gadis itu tiba-tiba. Ia menjeda ucapannya dengan helaan napas berat.


"Aku juga pernah kehilangan, bedanya masa lalumu masih hidup, masih bisa kamu lihat suatu saat nanti. Punyaku udah gak bisa, Naya. Seberapapun aku mau, aku cuma bisa berdoa supaya Allah hadirkan dia di mimpiku."


Kanaya tahu, itu tentang kehilangan ayah. Cinta pertama seorang anak perempuan.

Lihat selengkapnya