"Li, abis wisuda aku mau balik ke Lampung," kata Kanaya tiba-tiba.
Mereka sedang makan bakso. Lia yang traktir. Katanya, "Aku ngidam bakso Mang Hasan banget, Naya..." sambil merengek dan memasang wajah melasnya.
Mau tidak mau Naya menuruti. Hitung-hitung tidak menolak rezeki juga kan?
Lia berhenti mengunyah sesaat. Ia mengangkat kepala, menatap Kanaya yang tengah menatapnya juga.
"Segitu cintanya kamu sama Ko Darian? Hidupmu panjang, Naya... cinta-cinta tapi ya gak ngorbanin kuliahmu juga..." seru Lia sedikit sewot.
Kanaya mengulum bibir—bibirnya mendadak kelu.
"Jadi kamu gak jadi lanjut Apoteker?"
"Jadi..." jawab Kanaya cepat. "Tapi mungkin aku mundur satu semester. Lagian juga aku udah dua tahun, Lia, gak pulang."
"Yakin karena itu?"
Meski ragu-ragu, Kanaya tetap mengangguk.
Lia menarik napas berat. Dia menggeser mangkuk baksonya yang tinggal sedikit.
Sisa-sisa bau kuah bakso yang bercampur dengan sambal dan saos masih tersisa.
Lia mengusap kedua tangannya dengan tisu, lalu dilipat di atas meja.
"Naya, denger..."
Kanaya meletakkan sendoknya.
"Aku tau rasanya berat banget. Tapi bukan berarti harus ada banyak hal yang harus kamu relakan karena masalah ini kan?"
"Ini kali pertama aku mencintai dan dicin—"
"Aku tau..." potong Lia. Dilihat dari wajahnya, Kanaya tahu kesabaran sahabatnya itu mulai menipis saat ini.
"Aku tau ini kali pertamanya perasaanmu terbalas setelah berulang kali cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi... itu juga berarti kisah cintamu baru dimulai kan, Nay?"
"Tapi kamu gak tau rasanya jadi aku, Lia..." Kanaya gemetar.
Lia terkekeh getir, buang muka. "Aku emang gak tau apa-apa. Cuma kamu emang yang pernah jatuh cinta, yang pernah kehilangan."
Lalu dia menatap Kanaya sengit. "Sekarang terserah kamu mau gimana. Aku udah gak mau lagi ikut campur."
Naya melotot, tubuhnya menegang.