ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #3

Aku Di Sini

Baru saja menapakkan kaki di RS Teimana Rahaja, tubuh Kanaya menggigil. Napasnya tersengal, kaki gemetar, memaksanya berhenti.


"Mbak Naya... wah lama gak dateng ke sini, Mbak." Uluran tangan tepat berada di hadapan Kanaya.


Ia yang sedang sibuk mengontrol diri, tak fokus. Hingga pria tua bertubuh gempal dan berkacamata itu kembali menegur. "Mbak Naya mau berobat? Aduh, saya ambilin kursi roda ya, Mbak..." pria itu sudah ingin pergi.


"Jangan, Pak—" cegah Kanaya spontan.


Si bapak balik badan. "Beneran gapapa? Wajah sampean pucet loh, Mbak."


Kanaya menarik napas dalam lagi. Menenangkan diri lalu menoleh. Dia tersenyum. 


"Cuma capek saya, Pak. Lari tadi dari halte ke sini. Saya gak sakit kok, Pak. Cuma mau berkunjung aja."


"Ah, mau ketemu Pak Nanang ya? Bapak belum dateng tapi, Mbak."


Kanaya mengangguk cepat, napasnya yang patah-patah masih tersisa. "Ya udah, saya masuk dulu ya, Pak?" tanpa menunggu jawaban pria tua itu, Kanaya sudah berlalu. Langkahnya begitu cepat tanpa menoleh atau memedulikan sekitar.


Ia hanya bisa merasakan dingin yang menusuk kulitnya, bau tanah basah, dan sisanya samar.


Tempat yang dituju pertama kali: lorong gedung farmasi. Seperti biasa—sepi. Ini tempat mereka pertama kali berinteraksi.


Kanaya melangkah lambat.


Satu-dua, satu-dua. Tatapannya kosong pada bangku panjang yang masih sama. Hanya tempatnya saja yang sedikit bergeser ke barat. Dua tahun lalu, catnya masih baru, ada bau cat baru yang menyengat.


Sekarang mulai terlihat berkarat di beberapa bagian, ada bekas coretan spidol. Mungkin itu ulah anak pegawai farmasi.


Kanaya duduk di sana. Meringkuk. Tangannya dia ulurkan, menyentuh permukaan bangku. Kasar, dingin, sedingin hatinya saat ini. Tanpa ia sadari, tetes air mata itu jatuh lagi. Kali ini langsung deras.


Dia terpejam, menghalau rasa sesak di dada. Kepalanya menunduk dalam. 


Kanaya mulai terhanyut, bayangan mulai menyelam. Suara dengung kipas AC semakin lama semakin samar, suara riuh dari ruangan sebelah pun mulai melemah.


Kenangan itu datang begitu saja.


Malam Minggu, April 2021.


Saat itu Kanaya sedang jaga malam. Jam sepuluh malam. Dia keluar dari ruang obat.


Niatnya ingin mengistirahatkan kaki karena terlalu lama berdiri sambil menyantap makan malamnya.


Ini akhir bulan ketiga. Waktunya stok opname obat.


Kanaya menghirup aroma tubuhnya sendiri. Campuran asam, debu, dan obat. Kepalanya spontan tertarik. Basa-basi, dia sendiri yang mencium baunya.


Angkat bahu, tangan kanannya terulur meraih burger dan memakannya satu gigitan besar.


Lihat selengkapnya