Kanaya jadi teringat kali pertama Lia menangkap sinyal perasaannya atas Darian.
"Tampan, ramah, pinter. S-E-K-S-I..."
"Mana public speaking-nya bagus. Koko-koko China pula. Darian Jian, namanya aja Chin-Do banget kan?" seru Lia riang.
Saat menyebut kata "seksi", mata Lia sampai menyipit nyalang. Ekspresinya itu loh, Kanaya sampai menggidik ngeri.
Saat itu mereka tengah berkumpul di ruang tunggu IGD. Ada penyuluhan kesehatan tentang tepat penggunaan obat antibiotik.
Kebetulan, Darian sebagai pemateri. Dengan jas dokter dan baju jaga miliknya, dia berdiri gagah sambil memegang mikrofon. Di matanya terpasang kacamata kekinian.
Seketika Kanaya menelan ludahnya sendiri.
Kursi ruang tunggu penuh lansia. Ada yang didampingi keluarganya, ada juga yang sendiri. Mereka begitu khidmat menyimak.
Keadaan ruang tunggu yang biasanya ramai dan bising kini hanya penuh oleh suara Darian.
Bau obat, sedikit amis, bercampur cairan pembersih lantai memenuhi ruang tunggu. Anehnya, pagi itu tetap terasa menyenangkan bagi Kanaya.
"Li, kalau misal dokter Darian deketin aku gimana?" bisik Kanaya tiba-tiba. Kepalanya condong ke arah Lia.
Refleks Lia menoleh, tatapannya menusuk.
Yang ditatap begitu jelas kelabakan. "Misal, Lia... MISAL." tegasnya, meluruskan.
Lia jelas tidak percaya. Dilihat dari wajah paniknya saja jelas Kanaya berbohong.
"Dokter Darian deketin kamu ya? Dari kapan? Udah nembak dia?"
"Ngawur..." sambar Kanaya membantah. "Aku bilang kan misal, Lia."
Lia justru memutar kepalanya lagi, kembali menatap Darian yang berada jauh di depan sana.
"Ya mau gimana lagi ya, Nay. Walaupun aku lebih cantik dari kamu, tapi gak papa lah kalau dia maunya kamu."
"Serius?" tidak sadar Kanaya bertanya dengan binar dan juga semangat.
Lia menahan senyum, dia manggut-manggut.
Selang sepuluh detik, menoleh, menatap Kanaya dengan ekspresi jahilnya.