ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #5

Monyet Yang Menyebalkan

Keluar dari sarang beo, masuk ke kandang monyet ini namanya.


Susah payah Kanaya keluar dari jeratan Bude Suri. Jalan asal, eh justru bertemu sahabat karib mantan kekasihnya.


"Loh, Naya," sapa pria itu sambil menunjuk.


Kanaya meringis canggung, kakinya mendadak berhenti. Melambaikan tangan, dia menjawab, "Hi, Dokter Haikal."


Pria jangkung itu mendekat. Mereka berdiri berhadapan di lorong taman rumah sakit. Beberapa kali Kanaya menyibak helaian rambut yang menutupi wajah karena diterpa angin.


"Ngapain kamu ke sini? Ada yang sakit?"


Faktanya, rumah sakit memang tempatnya orang sakit kan? Dia yang sakit atau kerabatnya yang sakit. Bukan malah mengenang masa lalu.


Kanaya menggeleng, memindai Dokter Haikal dari ujung kepala hingga berhenti di bagian pinggang pria itu. "Dokter lagi jenguk orang sakit?" dia justru bertanya balik.


"Ibuku dirawat di sini. Kamu?"


"Main, Dok. Boleh kan ya main ke rumah sakit?"


Dokter Haikal terkekeh, dia manggut-manggut. "Boleh lah. Ngapa? Nostalgia sama rekan atau mengenang mantan?" godanya.


Kanaya mendengus, membuang muka sebentar. Lalu berkacak pinggang. "Apalah dokter ini bahas-bahas mantan."


"Mantanmu, sahabatku kalau kamu lupa."


Mana mungkin Kanaya lupa. Tapi dia enggan menanggapi.


"Kamu udah tau kan ya kalau Darian yang jadinya dapet di Pekanbaru?" tanya pria itu.


Kanaya memang sudah menduga saat melihat pria di hadapannya ini. Pasti akan membahas "dia". 


Nasib baik tadi sudah bertemu Bude Suri jadi suasana hatinya sudah sedikit mencair—tidak setegang tadi saat baru sampai.


Kanaya mengangguk. "Dia udah kabarin. Tapi gak tau alasannya."


Dokter Haikal menghela napas, lalu berkacak pinggang. "Dia patah hati berat gara-gara kamu putusin—"


"Aku gak mutusin, Dok. Kesepakatan bersama. Hubungan ini emang gak akan ada hasilnya."


Lihat selengkapnya