ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #6

Mengingat Momen Itu

Awalnya hanya pertanyaan kecil dari orang-orang sekitar. Tapi lama-lama, semuanya berubah jadi tekanan yang menghimpit.


Entah sudah berapa kali dan berapa banyak orang mempertanyakan nasib hubungannya dengan Darian.


"Dia mau pindah agama?"

"Di antara kalian siapa yang bakal ngalah?"

"Orang tuanya ngizinin?"


Puncaknya, penuturan ibu yang mencubit hatinya.


"Ndok, Mamak bukannya gak izinin kamu pacaran. Boleh, namanya anak muda kan?" ujarnya dari seberang telepon. Lampung-Semarang. Terdengar helaan napas berat di sana.


"Tapi coba kamu pikirin mateng-mateng lagi sebelum kebablasan. Mumpung masih baru pacaran."


Kanaya meremas ujung bantal kuat-kuat. Batinnya berteriak membantah, "Dua tahun tuh bukan baru, Mak."


"Mumpung masih pacaran. Kalau kalian selesaikan sekarang, gak ada pihak lain yang dirugikan," sambung ibu Kanaya, Lastri namanya.


Kanaya menggigit bibir bawahnya. "Emang gak boleh ya, Mak, pacaran sama yang beda agama?"


"Kalau dari segi agama, pacaran aja gak boleh. Tapi Mamak gak bisa ngekang kamu. Kamu udah dewasa, udah bisa bedain yang bener sama yang salah."


Kanaya bungkam—sepertinya salah bicara.


"Tapi kalau bicara beda agamanya, jelas lebih salah. Sekarang gini..."


Hening. Yang terdengar hanya suara krasak-krusuk di ujung telepon, dan suara kipas angin dari kamar kos Kanaya.


"Masak iya, ndok. Kamu tega ambil seorang anak dari orang tuanya, sama ambil hamba dari Tuhannya."


Kanaya berpikir. Mematung. "Maksudnya?" tanya hatinya.


Entah seperti bisa menebak, Ibu Lastri tiba-tiba menjelaskan. "Apa gak kaya kamu ngambil dia dari ibunya sama Tuhannya kalau sampe dia pindah agama."


DEG! Jantung Kanaya berdemo hebat. Dia terpaku, wajahnya mendadak pucat.


"Ibu jelas gak rela kalau dia ambil kamu dari Allah." Ada nada kepiluan yang terdengar dari kalimat itu. Kanaya tidak tahu persis, tapi itu berhasil menyayat relung hatinya.


"Pikirin baik-baik, ndok. Bapak udah mulai bahas. Kamu tau bapakmu sebenarnya belum izinin anaknya pacaran kan? Gak pernah mau ngurus, walaupun katanya ngebolehin."


Benar, ayah Kanaya itu tipe yang protektif, tapi juga tidak mau terlalu mengekang.


"Bapak udah bahas tandanya bapak mulai khawatir."


Hanya sampai di situ telepon mereka. Kanaya mengurung diri 24 jam penuh setelah telepon singkat dengan ibunya itu.


"Jadi, ibumu langsung yang ngingetin kamu soal tembok kalian itu?" Dokter Haikal bertanya, kembali ke masa kini.


Kanaya mengangguk lambat.


"Terus berapa hari kamu mikir semua itu sampai akhirnya kalian putus?" tanya pria itu lagi.


"Dua hari."


"Dia langsung setuju?"


Kanaya mengangguk lagi.


Dokter Haikal geleng-geleng—tidak percaya.


"Ya gimana, Dok. Alasan itu klasik, tapi fakta kan?"


Lihat selengkapnya