Setelah pertemuan dengan Dokter Haikal tadi, seolah ada sebagian beban yang terangkat dari pundaknya.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Semarang, Kanaya merasa bisa bernapas lebih lega.
Ia rasa, kunjungan itu cukup untuk hari ini, memberi ruang untuk bernapas.
Hari sudah semakin sore. Kanaya melirik arlojinya lagi.
Sudah pukul tiga sore, sedangkan perjalanan menuju kosnya sekitar 40 menit. Sedangkan masih ada satu hal lagi yang ingin ia lakukan sebagai penutup.
Sejak dulu, ia selalu penasaran seperti apa kehidupan Darian. Jalan yang pria itu lewati setiap hari, kampus tempatnya belajar, sampai kos sederhana yang sering diceritakan lewat telepon.
Entah kenapa, hal sederhana itu selalu terlintas di pikirannya, tapi belum sempat terlaksana karena kesibukan.
Hari ini, ia mantap melakukannya.
Kanaya memilih ojek online sebagai alat transportasi.
Pikirnya, itu yang paling mudah dan praktis. Lagipula dulu Darian lebih sering menggunakan yang satu itu dibandingkan BRT, katanya, "biar cepet sayang."
Jadi supaya lebih berasa menjadi Darian-nya, Kanaya juga memilih kendaraan serupa.
Nasib baik, jalanan cukup sepi. Cuaca terik membuatnya sedikit menyipitkan mata.
Bau tubuh pak supir, campuran panas siang dan aroma khas tubuhnya, membuat Kanaya menahan napas sesekali. "Untung pakai masker," gumamnya pelan, seakan menyemangati diri sendiri.