Sesampainya di jembatan penyeberangan itu, langkah Kanaya melambat.
Dadanya langsung sesak.
Pelukan itu tiba-tiba terasa nyata lagi.
Dia berjongkok, meraung sekencang-kencangnya, menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan.
Pelukan itu... masih terasa nyata dan begitu hangat.
Pelukan Darian. Mantan kekasihnya. Delapan bulan yang lalu.
Hari itu, Senin, tepat jam dua belas siang.
Kanaya masih di laboratorium. Dia meregangkan bahu, meluruskan punggung pegal setelah berjam-jam berkutat dengan mikroba sejak pagi. Perutnya mulai protes minta diisi.
Darian belum juga menghubungi—mereka sama-sama sibuk.
Darian belajar menjelang ujian, dan Kanaya yang dasarnya sedang melakukan penelitian akhir. Hari-harinya hanya di laboratorium dengan Lia.
Mendadak, pria bermata sipit itu meneleponnya.
"Fleeting moment?" tanya Kanaya bingung sambil melirik Lia yang sedang menggigit kepala ayam. Mereka sedang lesehan di lorong laboratorium. Makan nasi kucing dan minumnya es teh cekek.
Lia angkat bahu.
Dari seberang telepon terdengar keriuhan orang berbicara, menandakan pria itu memang sedang belajar.
"Pertemuan singkat tapi hangat, sayang. Mau ya? Lima menit."
"Tapi aku lagi di lab, Mas. Autoklaf juga bentar lagi ngangkat. Mas juga masih di kampus kan?"
"Sebentar sayang... kalau lama namanya bukan fleeting moment."
Benar juga, tapi Kanaya masih menimbang. Dia menjauhkan ponselnya.
"Dia ngajak ketemu sebentar, gimana menurutmu?" berbicara pada Lia.
"Ya udah toh..."
Kanaya menoleh pada pintu laboratorium yang saat itu terbuka karena ada yang keluar ruangan. Bau mikroba bercampur hawa dingin pendingin ruangan menerpa keduanya.
Untung sudah terbiasa jadi tidak ada masalah. Bulu kuduknya hanya sedikit merinding, karena sudah mulai terbiasa dengan hawa luar yang hangat.
"Masih lama ini... mau ketemuan di mana?" tanya Lia lagi.
Kanaya mendekatkan ponsel itu ke telinganya lagi. "Ketemunya di mana, Mas?"
"Jembatan penyeberangan di Jalan Pahlawan gimana?"
Kanaya menyeringai bingung. Dia tidak ingat. "Itu sayang, deket Gramedia..." timpal Darian menjelaskan.
Seketika Kanaya menganga, dia ingat. Dasarnya hampir setiap bulan ia dan Lia berburu diskon novel di Gramedia. Nama jalan dia tidak ingat, tapi jika nama tempat jelas ingat.
"Kita sama-sama jalan sepuluh menit," sambung Darian.