"Congratulations, sayang," ujar Darian sembari memberikan buket bunga mawar merah.
Dengan tangan gemetar, Kanaya menerima buket itu. Wajahnya ikut menghangat. "Selamat ya, akhirnya dapet gelar S.Farm juga," lanjut Darian, lalu mengusap lengan Kanaya lembut.
Kanaya mengamati bunga itu, dia dekatkan hidungnya. Menghirup wanginya lama-lama. "Suka?" tanya Darian lagi.
Kanaya mengangguk semangat. "Suka. Makasih ya, Mas."
"Uluh-uluh, pagi-pagi udah lihat adegan mesra aja aku ini," ledek Lia. Entah dari mana datangnya gadis itu. Tadi pamit ingin menunggu kedua orang tuanya. Tapi belum juga lima menit sudah kembali saja.
Kanaya menoleh, menatap Lia sengit. "Sirik aja."
"Jelas, aku jomlo. Aku sirik," jawab gadis itu bangga.
"Congratulations ya, Lia..." sapa Darian pada Lia sambil mengulurkan tangan kanannya. "Maaf gak bawain bunga. Bayi cerewetku merajuk nanti kalau aku kasih hadiah ke cewek lain."
Pipi Kanaya yang tadi sudah bersemu semakin memerah, dia menunduk malu-malu. Refleks mencium lagi buket bunganya.
Lia manggut-manggut. Tatapannya pada Kanaya itu loh, seakan meledek—menahan tawa sambil mengulum bibir, alisnya terangkat.
"Tau aku, dok. Gak usah dijelasin. Anak kucingmu emang manja."
"Enak aja anak kucing," sambar Kanaya tidak terima.
Darian dan Lia kompak tertawa. "Aduh... iya. Bayi kecil. Iya kan, dok?"
Kanaya bungkam—dia malu. Darian hanya manggut-manggut setuju.
"Kalian mau aku fotoin gak ini? Mumpung make up Naya masih on point," tawar Lia tiba-tiba.
Gadis itu sudah merogoh ponsel dari dompet genggamnya. Menghidupkan ikon kamera.
"Gak usah gak sih? Nanti kan kita mau foto studio juga kan?" tanya Kanaya tidak yakin.
Benar, mereka bahkan sudah reservasi sejak satu bulan yang lalu. Kata Lia, "biar gak kepancel, Nay..." dan Kanaya hanya menurut saja.
Reservasi diperuntukkan untuk lima orang. Lia dengan kedua orang tuanya. Kanaya dengan Darian.
Mengenai orang tua Kanaya. Jelas Pak Yaya yang kaku layaknya kanebo kering itu mana mau diajak berfoto terlebih tanpa istri dan anak terakhirnya.
Sudah pasti menolak mentah-mentah sebelum ditawari. Tapi Kanaya sudah bertanya sih, dan jawabannya tidak meleset barang satu senti pun dari dugaannya.
"Nanti-nanti, sekarang ya sekarang. Iya kan, dok?"
Darian mengangguk, dia memegang kedua lengan Kanaya untuk diarahkan menjadi di sisinya dan menghadap Lia.
Lia, meski menggunakan kebaya dengan rok batik span dan selempang wisuda serta topi toga, dia tetap ekspresif, nungging sana sini, hanya untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus.
Satu... dua... CKREK!
"Ganti gaya!" titah gadis itu.