Dua minggu setelah wisuda, keputusan itu akhirnya dijalani juga.
Sesuai kesepakatan kala itu, Kanaya mantap untuk pulang ke kampung halaman dan menunda studi profesi apotekernya kurang lebih satu tahun.
Dia sudah berdiskusi panjang dengan orang tuanya—tentang biaya dan kesiapan mentalnya sendiri.
Alhamdulillahnya, mereka setuju tanpa banyak bertanya.
Karena menurut keduanya, semua harus bermula dari Kanaya, harus tanpa paksaan.
Dan hari ini, Minggu malam, jam delapan malam. Diantar Lia, dia menunggu bus penjemputan di Terminal Ungaran. Selama lepas dari kos, untuk sementara kemarin Kanaya memang tinggal dengan sepupunya.
Lia datang sore tadi, dari Demak. Hanya untuk mengantar kepergian sahabatnya.
Tidak ada pelukan dramatis ataupun tangisan.
Mereka justru berceloteh, mengenang momen-momen indah yang mereka lalui.
"Kamu tau Nay, aku dulu waktu kamu deketin aku pertama kali ospek, bawaanku ilfeel tau. Apaan lah nih orang... gitu," seru Lia sambil membayangkan.
Kanaya terkekeh, dia pun ikut membayangkan. "Aku justru dapet feeling, Li. Gak tau bawaannya pengen jadiin kamu temen aja..."
Momen itu kembali terkenang.
Saat itu, hari pertama orientasi mahasiswa.
Sebagai anak perantauan yang tak punya teman, Kanaya dulu cuma berharap pada keberuntungan kecil.
Hari pertama ospek membuatnya seperti anak ayam kehilangan induk—canggung dan bingung di mana-mana.
Saat ada yang bertanya dijawab, saat dia bingung ya bertanya jika kepepet. Tapi jika masih bisa ditahan maka akan ditahannya.
Saat itulah dia bertemu Lia, teman satu kelompoknya.
Lia tampil sederhana hari itu. Rambutnya dicepol asal dengan tas polos di pundak. Dan yang terpenting dia sendiri.
Kanaya terpaku cukup lama, memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu. Tubuhnya kecil sama sepertinya, tingginya kira-kira mungkin hanya sekitar lima senti lebih tinggi dari Kanaya. Kulitnya kuning langsat, matanya bulat.
"Kamu dari mana?" tanya Kanaya tiba-tiba. Tanpa pikir panjang.
Yang disapa menoleh. Mata bulatnya berkedip-kedip. "Lucu banget..." pikir Kanaya gemas.
"Demak... kamu dari mana?"
"Templet banget..." pikir Kanaya lagi. Tapi dia menarik sudut bibirnya simpul. "Lampung," jawabnya. Entah, tiba-tiba saja mereka akrab. Seperti satu frekuensi.