ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #11

Setelah Tujuh Tahun

Semarang, Desember 2024


Genap tujuh tahun sejak perpisahan itu tiba. Umur Kanaya sudah 29 tahun sekarang. Tidak banyak yang berubah, selain rambutnya yang kini tertutup hijab menjulai hingga batas pinggang.


"Masih banyak?" tanya Kanaya. Baru saja sampai di ruang pelayanan, sudah melihat rekannya—Aya sedang duduk bersila di depan etalase sirup.


Gadis itu mendongak, wajahnya seketika masam, bibirnya melengkung ke bawah. "Masih mbak..." sambil merengek manja.


Kanaya meringis. Akhir bulan, akhir tahun. Memang selalu jadi monster untuk para pekerja farmasi—stok opname gila-gilaan.


"Sampean kok kesini mbak? Ada yang mau diambil?" tanya Aya.


Kanaya baru saja pulang dari seminar, mewakili apotek. Harusnya hari ini dia bebas jaga. "Mau ngecek kalian, siapa tau butuh bantuan."


Aya berdecak nyaring.


Januar yang tiba-tiba muncul dari ruang peracikan menyambar, "Jelas lah."


"Tapi bentar lagi Anita, Tata, sama Mas Malik dateng kok mbak. Lagi di perjalanan ini. Pak Bos juga katanya mau dateng bantuin," timpal Aya menambahkan.


Kanaya menghela napas berat. Akhir tahun memang masih dua minggu lagi. Mereka sepakat menyicil stok opname sebelum akhir bulan.


"Biar bisa malam tahun baruan dengan aman, damai sentosa, tanpa beban loh Mbak," kata Januar kala itu.


Keempat yang lain mengangguk mantap—mereka setuju. Kanaya hanya terkekeh saja. Dia paham.


Bos setuju, jadilah rencana itu diikrarkan.


"Ya kalau gitu, aku gak bisa leha-leha dong," seru Kanaya setelah itu berlalu. Kembali dengan sepatu yang sudah berganti menjadi sandal jepit. "Mana aja yang belum?"


Aya menunjuk etalase di seberangnya. "Narkotik juga belum, kulkas belum, sirup dalem juga belum, rak T-Z juga belum."


"Lah masih banyak ternyata..." Kanaya terkekeh getir.


Bibir Aya semakin mengerucut, dia pura-pura menarik ingus, wajahnya sendu dan mengangguk lambat dua kali.


Kanaya tidak menyahuti, dia hanya terkekeh kecil, kemudian ikut duduk bersila di seberang Aya—bagian salep.


Tiga puluh menit berlalu, Malik dan Tata datang. Anita selang delapan menit setelahnya, berdekatan dengan kedatangan Pak Bos dengan beraneka macam buah tangannya.


Anita yang paling semangat menyambut. Diiringi dengan wajah berseri, dia menghampiri Pak Bos—Lian namanya, usianya baru 35 tahun, tertua pertama setelah Kanaya—yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan membawa banyak barang bawaannya.


Ini salah satu hal yang selalu Kanaya syukuri, memiliki bos yang baik dan royal. Teman-teman yang hangat dan pengertian.


Mereka berempat berdiri saat Pak Lian sampai di pintu utama, menyambut dengan celotehan dan candaan ringannya.


"Ah, Bos lambat lah..." kata Tata.


"Iya, padahal udah ditunggu jajannya dari tadi," timpal Januar.


Aya tidak ingin kalah, dia mendekat. Ingin membantu Anita, tapi ditepis langsung oleh gadis berambut kriwil itu. "Kalau yang beginian aku gak perlu dibantu Ya."


Aya mendengus, dia buang muka. Menyusul Pak Lian yang sudah sampai di ruang istirahat karyawan.


"Gimana penjualan hari ini?" tanyanya, setelah duduk lesehan di atas karpet. Bos memang selalu seperti itu kan?


Tapi hebatnya, tidak ada yang merasa terintimidasi atau jadi tertekan. Suasananya masih tetap hangat. Aya dan Tata pun sibuk membuka bungkusan buah tangan tadi.


Januar yang menjawab. "Yang dateng dikit Bos, tapi delivery-nya banyak."


"Aman kan?"

Lihat selengkapnya