Masalah jodoh sudah mulai disinggung sejak dua tahun terakhir. Alasan sederhananya, katanya, "Seusiamu loh udah pada punya anak malahan."
Dua tahun lalu Kanaya masih bisa menjawab dengan senyuman atau candaan ringan. "Alhamdulillah berarti dia udah ketemu jodohnya."
Tapi bulan-bulan terakhir kok rasanya sudah semakin meresahkan.
Bapak sudah mulai sering menyinggung. Tetangga semakin gencar bertanya, kapan dan kapan-kapan lainnya.
Kanaya pikir dengan perpindahannya ke Semarang, itu adalah langkah paling tepat. Tidak ada lagi yang sadar akan dirinya.
Tapi ternyata tebakannya meleset 100%.
Benar ia bisa menghindar, namun tekanan itu beralih ke Pak Yaya dan Bu Lastri.
Dengan jiwa ekstrovert Pak Yaya yang mendarah daging, beliau akan lebih banyak ditanya oleh siapa pun.
Tekanan-tekanan itu tetap saja kembali pada pemiliknya.
Kanaya yang terbiasa berhubungan via telepon dengan kedua orang tuanya secara intens dan lama, berubah sudah. Menelepon masih, namun kapasitas waktunya berkurang jauh. Dia menghindar.
Malam itu juga, Kanaya janji temu dengan Lia. Mereka bertemu di salah satu cafe di pusat kota. Lokasi yang paling adil untuk keduanya.
Setelah menikah dengan Haikal, Lia tinggal dengan mertuanya. Mengurusi ayah Haikal yang menduda tiga tahun lalu.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Lia setelah duduk di bangku depan Kanaya.
Gadis itu mengenakan setelan semi formal berupa kemeja dan rok plisket, dengan kerudung pashmina instan warna hitam.
Kanaya yang sempat melamun tersadar. Dia mengangkat kepala—menatap sahabatnya. Spontan bibirnya mengerucut, lalu mengangguk.
Suasana di cafe ini cukup sepi untuk ukuran hari Kamis. Hanya ada tiga meja yang terisi pelanggan. Yang satu berisi tiga orang wanita dengan masing-masing laptopnya.
Yang satu lagi sepasang kekasih. Kanaya yakin karena mereka kerap saling menyuapi. Duduknya tepat di hadapan Kanaya. Mereka datang lebih akhir.
"Soal jodoh lagi?" tembak Lia.
Kanaya tidak menjawab, tapi tatapan matanya seakan membenarkan.
"Ngapa didesak lagi? Sekarang ganti sama siapa?"