Dingin.
Kesan pertama saat Kanaya melihat wajah yang sejak lama ia rindukan itu adalah dingin.
Ia hampir tidak mengenali pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah tenang dan tatapan dalamnya.
Tidak banyak yang berubah dari pria itu—Kanaya juga tidak yakin karena yang mampu tertangkap di kedua matanya hanyalah pipinya yang dulu berisi, kini hilang diganti rahang yang lebih tegas.
Ruangan seolah mendadak berhenti bergerak, sunyi sepi, hanya terdengar detak jantungnya yang berdentum kencang.
Kanaya mengepalkan tangannya yang mulai basah karena keringat.
Tidak ada yang bersuara dari keduanya sampai di detik lima belas, Haikal yang memecahkan.
“Kalian gak pesen makan?” lalu duduk lebih dulu. Lia menyusul menarik tangan Kanaya, Darian menyusul, dan mereka duduk saling berhadapan.
Kanaya sudah tidak mampu mendengar suara apa pun lagi setelahnya saat Darian mulai angkat bicara. “Apa kabar?” tanyanya.
Suaranya tenang, tatapannya semakin dalam. Mencengkeram tulang belulang Kanaya hingga tubuhnya menggigil.