ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #14

Ternyata Sesakit Itu Ya?

Pertahanan itu runtuh setelah sampai kos. Tidak tahu kenapa, tapi hatinya sakit sekali.


Wajah tenang Darian dan tatapan datar pria itu membuat Kanaya merasa kehilangan sesuatu—meski ia sendiri tak tahu apa.


Yang ia lakukan hanya telungkup, menenggelamkan wajahnya dalam bantal, menekan hingga suaranya meredam sempurna. Lampu dan kipas angin tidak sempat ia hidupkan, pakaian masih utuh.


Lia, yang seolah bisa menebak semuanya, sejak lima menit lalu—saat Kanaya baru saja sampai—sudah menghubungi.


Kanaya baru membukanya setelah 40 menit.


LIA♡


Aku gak mau banyak nasehatin km, Nay. Tapi semua emang udah waktunya kan?

(21.03)


Kanaya hanya membaca saja, dia tidak punya daya untuk sekadar memikirkan balasan.


Lagi-lagi wanita itu selalu memahami dirinya.


Pesan darinya masuk lagi.


LIA♡


Gpp klo km masih butuh waktu buat mencerna semuanya. Mau marah sama aku jg boleh. Tapi...

(21.45)


Kalo udah oke kabarin ya... aku bakal jawab semua pertanyaanmu.

(21.46)


Kanaya mulai sadar. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghidupkan kipas angin yang diletakkan di meja samping ranjang.


Hawa dingin mulai mengisi pori-porinya.


Tubuhnya ia rentangkan, menatap langit-langit kamar kos yang hanya tersorot samar cahaya dari luar.


Kanaya membuang napas gusar tiga kali. Bibirnya dia tarik paksa.


"Bener, semua memang udah waktunya. Kalau gak sekarang mau kapan lagi kan?" sambil memainkan bibir, satu bulir air mata menetes lagi.


"Ya Allah, tapi kenapa sesakit ini?"


Kali ini sambil melepas paksa kerudungnya dan membuangnya asal.


"Mas, semudah itu kah kamu lupain aku?" tanyanya lagi pada angin.


Kanaya terisak. Tidak ada air mata yang ia usap—biarkan jadi bukti kesakitannya setelah sekian lama ia tahan.


"Dia makin dewasa ya? Makin tinggi, makin kurus, makin bersih, sekarang juga pembawaannya makin tenang. Makin ganteng..."


Lihat selengkapnya