___________
Grup Kajian InsyaAllah SURGA
Malina
Aku gak dapet😭
(21.23)
Menyedihkan bgt kan?
(21.24)
Mbak Tata
Aku juga. Huhu
(21.24)
Arin
Aku pun
(21.24)
HUWAA aku gak dapet. Padahal pengen bgt
(21.25)
Kanaya
Aku dpt
(21.25)
Arin
SERIUS? Serius aku iri sih.
(21.27)
Ukhti Dita🧕
Alhamdulillah. Tapi maaf ya, Nay. Kayaknya kali ini kamu beneran berangkat sendiri.
(21.26)
Aku juga gak dapet.
(21.27)
_____________
Ada yang lebih menyebalkan dari ini? Kanaya rasa tidak.
Dia ingin menangis saat ini juga. Tapi yang bisa dia lakukan hanya menggigit bibir bawahnya sendiri, berharap besok ada keajaiban kecil untuknya.
Ini kajian yang Kanaya tunggu-tunggu hampir sepanjang dia hijrah.
Kajian Ustad Adi Hidayat. Beliau yang membawanya ke jalan yang saat ini dia pijaki. Mengenal Tuhan, mengenal Rasulullah.
Kanaya menatap ponselnya lagi. Masih sama, belum ada perubahan apa pun.
“Kalau dateng sama siapa? Kalau gak dateng, ya kali gak dateng, Nay... ini Ustad Adi loh. Sekali lagi, Ustad Adi Hidayat—” keluh hatinya.
Kanaya mendongak. Kepalanya dia rebahkan pada sandaran kursi. Kelopak matanya terpejam.
Bahkan suara hujan yang biasanya dia suka pun gagal memperbaiki suasana hatinya malam ini.
Kanaya menghela napas frustrasi. Mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya lagi.
“AHH...” katanya.
Ibu jarinya kembali mengusap layar ponsel.
_______________
Kanaya
Mbak, aku berangkat gak ya enaknya?
(21.50)
Ukhti Dita🧕
Lah, kenapa gak berangkat?
(21.50)
Berangkat lah. Kamu salah satu hamba Allah yang dipilih Allah loh.
(21.51)
Kanaya
Tapi aku berangkat sama siapa Mbak?
Ya kali sendiri. Pulangnya pasti malam, kan?
(21.51)
Ukhti Dita🧕
Paling jam 10-an.
(21.52)
Kanaya
Nah, kan? Mana di Simpang Lima.
(21.53)
Ukhti Dita🧕
Nanti atau besok aku coba tanya temen-temenku. Siapa tau ada yg dapet kuotanya juga.
(21.55)
Banyak doa aja.
(21.56)
Kanaya
Aaaa.
Makasih Mbak Dita sayang. Lope-lope sekebon pokoknya.