ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #16

Benarkah?

Malam itu berlalu tanpa banyak yang Kanaya ingat.


Dia pulang, mandi, salat, lalu berusaha menjalani rutinitas seperti biasa. Map cokelat itu tetap berada di atas meja belajar, persis di tempat pertama kali ia meletakkannya.


Kanaya tidak menyentuhnya.


Belum.


Setidaknya hingga sekarang—satu minggu setelahnya. Hari ini hari Minggu, pukul lima sore. Kanaya sudah rapi dengan setelan syar'inya. Gamis warna hitam, sederhana.


Satu minggu ini apa yang ia kenakan seakan mewakili isi hatinya yang sedang berduka. Jika tidak warna cokelat tua, ya hitam atau navy.


Hei, dalam suasana hati yang sedih dan bingung. Itu sama dengan berduka, kan?


Ponsel yang Kanaya letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar.


081244xxxx

Mbak, aku pesen grab-nya sekarang ya?


Itu pesan dari kawan kajian yang Dita temukan. Masih mahasiswa semester akhir. Kanaya hanya membalasnya dengan "OKE". Dia segera mengenakan persiapan terakhirnya—mengoleskan losion dan mengenakan kaus kaki.


Nama kawan itu Ama, dia ditemukan Dita baru tadi malam. Kanaya sempat pasrah sebenarnya, karena suasana hatinya memang sedang tidak baik-baik saja. Jadi dia memikirkan segalanya hanya seperlunya saja—tidak ingin semakin menyusahkan dirinya.


Bahkan Kanaya mengurangi berhubungan via telepon dengan Pak Yaya dan Bu Lastri.


Menelepon, tapi hanya malam hari dan itu sesingkat mungkin. Kalau kata Kanaya—"absensi"—yang penting setor kabar dan dia tahu kabar kedua orang tuanya.


"Lagi apa, Mak? Masak apa?" itu format pertanyaannya.


Ketika sudah dijawab ya sudah, dimatikan. Tidak sampai lebih dari lima menit.


Demi kewarasan dirinya—meminimalisasi segala sesuatu yang mungkin saja bisa semakin memperburuk hatinya.


Pak Yaya atau Bu Lastri tidak protes.


Kanaya juga tidak menjelaskan banyak hal. Dia hanya mengatakan jika sedang ada garapan novel—dan itu benar. Pelarian Kanaya ketika dalam suasana hati buruk selalu menulis. Dan mereka seakan sudah paham, ya tidak protes.


TIN! TIN!


Tidak sampai lima belas menit, suara klakson mobil sudah terdengar. Diiringi ponsel Kanaya yang berdering lembut—dari Ama.


Kanaya meraih benda itu, menggulir tombol terima dan menempelkannya di telinga kanan.


"Iya, sebentar. Tak keluar," katanya sambil mematikan stopkontak, kipas angin. Lalu mengunci pintu dan keluar.


Avanza hitam, kaca bagian belakang terbuka—wajah mungil Ama terpampang di sana.


Gadis itu tersenyum lebar sekali.


"Mbak—" katanya, tangannya melambai.

Hati Kanaya menghangat seketika.


Dia membalas dengan senyuman juga, namun lebih tipis. Buru-buru ikut bergabung.


Mobil mulai melaju tak lama setelahnya.


"Huh, cuma berdua banget ya ini?" tanya Kanaya memecahkan kecanggungan.


Lihat selengkapnya