Tidak bisa. Berapa kali pun ia mencoba, Kanaya tidak bisa.
Kanaya meletakkan kertas itu ke atas meja keras-keras. Meraih ponsel, dia menghubungi sahabatnya—Lia.
Nasib baik, dalam dua kali dengungan, sambungan telepon terhubung.
Tanpa menunggu si lawan bicara, Kanaya lebih dulu menyerang, “Li... kamu di mana? Tolongin aku. SEKARANG. Tolong,” dengan nada suara yang terdengar panik.
Mendengar yang seperti itu, sahabat mana yang tidak panik?
Lia langsung meluncur tanpa pandang bulu. Wanita itu sampai setelah dua puluh menit.
“Kenapa? Ada apa? Kamu gak kenapa-kenapa kan, Nay?” runtutan pertanyaan Lia sesampainya di ambang pintu kamar kos Kanaya.
Tangannya membentang daun pintu hingga terbuka lebar. Napasnya patah-patah, raut wajahnya terlihat sekali jika wanita itu sangat-sangat panik.
Kanaya yang duduk di atas ranjang mendongak, memamerkan wajah kusutnya. Dia menggeleng.
Lia buru-buru mendekat. “Kenapa?” katanya.
Alih-alih menjawab, Kanaya justru menyodorkan lembar kertas yang sejak tadi berada di tangannya tapi tak kunjung dibaca.
Kanaya sudah melepas hijabnya, namun belum mengganti pakaiannya. Kaus kaki juga sudah terlepas.
Lia termangu, menatap Kanaya—entahlah.
Tapi tetap saja tangan kirinya terulur menerima kertas itu. “Kamu nyuruh aku dateng jauh-jauh, semalem ini cuma buat ini?” tanya Lia tak habis pikir. Dia tahu kertas apa itu, dia sudah sempat melirik sekilas.
Kanaya mengangguk tanpa beban, matanya berkedip-kedip.
Wajahnya... masih tetap sama—berusaha sendu. Kali ini pura-pura untuk menggaet simpati Lia yang dari raut wajahnya sudah ingin meledak.
Lia limbung... tidak bisa berbuat apa-apa. Kakinya seperti jeli, bahkan tidak sanggup rasanya menopang tubuhnya sendiri.
Alhasil ia jadi duduk selonjoran di hadapan gadis itu.
“Aku salah, ya?” tanya Kanaya tanpa dosa.
Lia semakin menjadi-jadi. Dia lagi—menatap Kanaya tidak habis pikir. Dari raut wajah dan tatapannya seolah berbicara—“Lo yakin tanya gini sama gue?”—begitu kira-kira.
Tapi yang keluar dari mulutnya justru sebaliknya. “Oke, terus aku harus gimana?” ujarnya berusaha sabar.