ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #18

Berburu Jawaban

Besoknya, Kanaya menghubungi orang tuanya. Bukan untuk sekadar absensi yang tidak sampai lima menit seperti satu minggu kemarin.


Kebetulan Senin itu libur nasional, Kanaya juga kebagian libur sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek.


Pukul sepuluh pagi, dia menghubungi kedua orang tuanya. Kebetulan hadir semua. Mereka baru saja dari kebun katanya. Sedang istirahat.


“Mamakmu to ngoret lombok wae ndadak karo bapak.”—(Mamakmu tuh, menyiangi cabai saja harus sama bapak.)


Kanaya terkekeh ketika melihat Bu Lastri memamerkan wajah kesalnya tanpa membantah. Kebetulan pagi ini dia memilih melakukan sambungan video.


“Mak...” dia memanggil. Jeda sebentar. “Kalau Mas Darian masuk Islam dan tiba-tiba lamar aku gimana?” tanyanya ragu-ragu. Mata Kanaya fokus menatap layar ponsel, memperhatikan ekspresi ibunya.


Bu Lastri menoleh pada Pak Yaya. Memang Pak Yaya tidak terlihat di layar, tapi Kanaya tahu ayahnya itu sedang duduk di sisi ibunya. Terdengar dari suaranya yang terdengar jelas, dekat, bukan seperti orang yang jaraknya jauh.


“Yo rapopo to.”—(Ya gak apa-apa toh.)

Itu Pak Yaya yang menjawab.


Kanaya sudah duga. Tapi entah kenapa dia tidak merasa lega atau sejenisnya. Padahal ia kira respons kedua orang tuanya yang bisa saja melarang itu menjadi salah satu penyebab ketakutan dan kekhawatirannya.


“La dia ngelamar kamu?” tanya Bu Lastri terang-terangan.


“Dia mualaf, Mak, dari satu tahun lalu.”


“Gara-gara kamu?” tanya Bu Lastri lagi.


Kanaya buru-buru membantah. “Bukan. Aku malah gak kontekan sama dia, Mak. Dari putus itu.”


“Alhamdulillah dapet hidayah berarti,” sambar Pak Yaya.


Setelahnya pembicaraan itu berakhir begitu saja dengan berganti topik lain.


Dari membahas harga cabai yang lagi melambung tinggi, udang Pak Yaya yang sudah umur dua bulan tapi terkena penyakit mogok makan karena White Feces Disease—kalau kata Pak Yaya, telek putih namanya.


Apa saja yang jelas telepon berlangsung hingga satu jam lamanya.


Setelah selesai menelepon, dia kembali merenung, berulang kali menghela napas panjang.


***


Lepas mencari jawaban dari kedua orang tuanya, Kanaya pindah lewat orang lain—Dita.


Tidak tahu, itu saja yang terlintas di otaknya kala itu. Mengingat dia baru membuat sahabatnya—Lia—kesal tadi malam. Jadi Lia adalah opsi terakhir. Cari aman.


Karena trauma—katanya. Kanaya memilih menghubungi Dita dengan alasan ingin bertemu karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.


Dita setuju dan di sinilah dia. Di kontrakan gadis itu.


Tidak besar, tapi sudah cukup menggambarkan jika itu memang rumah, bukan seperti kamar kontrakan Kanaya yang satu petak. Hanya ada mini dapur dan toilet.


Perabotan milik Dita juga lebih lengkap, dan itu milik sendiri.


Ini kali pertama dia bertamu setelah dua tahun mereka kenal. Karena Kanaya yang kurang suka main atau berkunjung ke rumah orang lain. Biasanya mereka bertemu di tempat kajian, atau Dita yang datang ke kos Kanaya.


Dita menyambut Kanaya di gerbang depan. Ketika mendapati Kanaya yang turun dari ojek online, Kanaya bisa melihat matanya yang tersenyum di antara himarnya.


“Assalamualaikum, Kanaya. Jauh banget ya?”

Kanaya membalas salam sambil mengangguk-angguk. Wajahnya dia pasang memelas mungkin. Tapi hanya sebentar, setelahnya dia tersenyum lebar sekali.


Tidak banyak yang mereka bicarakan. Belum. Saat itu dia lebih sibuk mengamati lingkungan kontrakan bedeng Dita.


Hingga akhirnya tiba saatnya mereka duduk berhadapan di ruang keluarga dengan martabak telur sebagai buah tangan Kanaya.


Snack kecil-kecilan yang Dita siapkan berada di antara mereka.


“Jadi?” tanya Dita mendayu-dayu.

Kanaya meringis. “Mbak, aku mau minta saran.”


Dia tidak langsung menjawab, hanya alisnya saja yang terangkat. “Soal menikah... kenapa mbak belum nikah?” tanya Kanaya langsung menjurus.


Dita tidak terkejut. Himar gadis itu sudah dilepas. Jadi Kanaya bisa melihat ekspresinya dengan jelas.


“Belum ketemu jodohnya. Apa itu cukup buat jadi jawaban?”


Kanaya jelas menggeleng. Dia butuh lebih dari itu.


“Karena calon mas suami belum dateng juga. Ya gimana ya, Nay...” dia menjeda ucapannya sejenak.


“Nikah itu kan bukan soal aku dan calonku ya. Tapi juga dua keluarga. Dan kodarullah keluargaku lagi ada masalah. Terlalu egois gak sih kalau aku jadiin menikah sebagai pelarian?”


Kanaya sebenarnya tidak terlalu paham, tapi entah kenapa dia juga merasa jika ia tahu apa yang dimaksud gadis kurus di hadapannya ini. Intinya soal keluarga.


“Kamu?” tanya Dita melempar balik.


“Gak tau, Mbak. Aku bingung.”


“Soal?”


Kanaya justru angkat bahu.


Dia menimbang-nimbang cukup lama. Terjadi jeda di percakapan mereka, tiga puluh detik. Dan selama itu Dita sabar menunggu.


“Emm... masa laluku dateng, Mbak...” Kanaya diam lagi. Dita masih memberi waktu. “Dia datang lagi setelah tujuh tahun kita berpisah....”


“Bawa kepastian,” timpal Kanaya.

Kanaya pikir Dita akan berkomentar, ternyata prediksinya salah. Bahkan setelah beberapa detik Kanaya diam, Dita juga masih diam.


“Aku bingung...” sambung Kanaya. “Gak tau bingung karena apa. Aku masih cinta sama dia, aku juga gak ragu sama dia. Tapi aku takut, aku ragu, aku bingung. Tapi gak tau apa.”


Respons Dita setelahnya justru terkekeh. Gadis itu benar-benar terkekeh hingga sempat buang muka sebentar.


Lihat selengkapnya