ASA : Ketika Doa Berbeda Arah

Sebelum Fajar
Chapter #19

Calon Menantu Kesayangan

Lembaran baru itu akhirnya resmi dibuka.


Kanaya yang sejak tujuh tahun hanya sekadar melanjutkan hidup, kini akhirnya menemukan cahayanya.


Pagi-pagi sekali, pukul enam. Ia melakukan sesuatu yang sempat berusaha ia tinggalkan, meski sebenarnya ingin. Hanya karena kenangannya akan muncul saat ia melakukan itu.


Keliling kompleks di pagi hari hanya untuk membeli sayur.


Semua itu karena pria itu—Darian.


Kanaya terkekeh kecil mengingat semua yang terjadi tujuh tahun belakangan. Langkahnya ringan, sesekali menyapa beberapa penghuni kompleks yang tidak sengaja ia temui.


Tidak banyak, hanya sekadar mengangguk, tersenyum, atau menyapa, “Permisi.” Kadang juga hanya sedikit membungkukkan tubuh.

Tapi yang terpenting, dia menyapa.


Hubungannya dengan Darian…


Baik.


Bolehkah jika Kanaya hanya mengatakan itu?


Tidak ada momen berarti setelah malam itu. Mereka kembali asing.


Bukan karena tidak baik—baik, sangat baik. Tapi memang seperti itu kan cara menjaga marwah ketika belum halal.


Darian justru lebih sering berhubungan dengan Pak Yaya dibandingkan dirinya. Kasihan.


Kanaya jadi teringat keluhan Pak Yaya saat Darian mengirim pesan jika akan berkunjung secepatnya. Sudut bibirnya tertarik spontan. Dia menunduk, bayangan itu muncul lagi.


Hari itu, minggu lalu. Tiga hari setelah Darian menghubungi Pak Yaya. Hanya mengirim pesan singkat, isinya mengabarkan jika akan berkunjung minggu depan.


Hanya itu.


Pak Yaya yang terkejut, jelas panik. Tapi tidak mau bertanya pada Darian langsung. Alhasil Kanaya yang diburu.


“Calon suamimu itu… sukanya kok dadakan. Minggu depan itu tanggalnya kapan? Yang mau datang berapa orang? Dikira apa-apa itu nggak perlu persiapan. Bapak, Mamak ya harus pulang kampung dulu…”


Kanaya menelan ludah susah payah, ponsel sedikit ia jauhkan dari telinganya.


Sekelebat, sudah berganti suara Bu Lastri, “Lah gimana to, Ndok?”


Kanaya kembali menempelkan ponselnya ke telinga. “Kenapa to, Mak? Maksudnya Mas Rian nelpon Bapak lagi gitu?”


“SMS. Lah dia nggak bilang kamu?”


“Enggak… nanti tak coba WA dia, Mak. Lah bilang gimana?”


Suara Pak Yaya lagi yang terdengar, “Ya itu to, katanya mau datang. Nggak tahu mau datang ngapain.”


Lihat selengkapnya